Dalam media briefing yang digelar Akamai, para eksekutif menekankan bahwa adopsi AI di Asia-Pasifik kini bergerak dari tahap eksperimen menuju operasionalisasi. Sean Li, Senior Vice President of Sales dan Managing Director Asia-Pacific, menyebut bahwa garis pemisah baru bukan lagi antara pasar maju dan berkembang, melainkan antara perusahaan yang masih bereksperimen dengan AI dan mereka yang sudah mempertimbangkan cara mengoperasionalkannya.
“Tantangan terbesar yang saat ini kita lihat adalah bagaimana membangun sebuah infrastruktur yang akan mendukung mereka sepanjang perjalanan AI,” ujar Sean Li. Ia menekankan bahwa keamanan, latensi, tata kelola, dan efektivitas biaya menjadi faktor utama dalam perjalanan jangka panjang AI.
Sean juga menyoroti pergeseran anggaran AI dari proyek percontohan menuju tahap produksi. Menurutnya, pemilik bisnis kini menuntut hasil yang lebih terukur, sementara pelanggan mulai melihat AI bukan sekadar alat produktivitas, melainkan peluang untuk mentransformasi bisnis.
Cloud dan AI: Dari Sentralisasi ke Distribusi
Jay Jenkins, Chief Technology Officer Cloud Computing Akamai, menekankan bahwa cloud tradisional dibangun untuk era berbeda dan kini menghadapi keterbatasan, terutama dalam hal GPU dan data gravity.
“Idealnya, kita memiliki AI inference dengan latensi rendah. Kami perlu berada dekat dengan lokasi para pengguna dan memastikan pengalaman pelanggan yang luar biasa,” jelas Jay.
Ia menambahkan bahwa Akamai berupaya membalik konsep data gravity menjadi customer gravity, dengan membawa AI lebih dekat ke edge—tempat data dan pengguna berada. Jenkins juga menyoroti pentingnya fleksibilitas: AI tidak harus selalu dijalankan di edge, melainkan bisa ditempatkan di lokasi dengan sumber daya komputasi besar atau biaya lebih rendah, tergantung kebutuhan organisasi.

Sebagai contoh, Jenkins menyebut kasus GoVeta, perusahaan pencarian paten yang berhasil meningkatkan performa 30% dan menurunkan biaya 20% setelah bermigrasi ke Akamai Cloud. Ada pula SARV, platform komunikasi asal India, yang memanfaatkan infrastruktur Akamai untuk menekan biaya operasional sambil mempertahankan layanan cepat dan andal.
Keamanan AI: Risiko yang Kompleks
Dari sisi keamanan, Reuben Koh, Security Technology and Strategy Director Asia-Pacific and Japan, menekankan bahwa AI membawa risiko yang lebih kompleks dibanding teknologi sebelumnya.
“AI bukan hanya sebuah sistem atau aplikasi. AI merupakan sebuah ekosistem yang terdiri dari software, hardware, manusia, identitas, workload, dan berbagai komponen lainnya,” ujar Reuben.
Ia menekankan bahwa data menjadi pusat dari seluruh ekosistem AI, sehingga kebocoran data sensitif dapat menimbulkan dampak besar. Selain itu, API sebagai penghubung antar sistem AI juga menjadi titik rawan yang harus diperhatikan.

Komitmen Akamai
Selama lebih dari 25 tahun, Akamai telah membangun infrastruktur terdistribusi global dengan lebih dari 4.000 lokasi edge POP di 130 negara. Kini, perusahaan menegaskan komitmennya untuk mendukung perjalanan AI pelanggan melalui kolaborasi strategis, termasuk dengan NVIDIA.
“Kami tidak sedang beralih ke AI. Evolusi kami selama 25 tahun membuat kami siap membantu pelanggan mengadopsi kasus penggunaan AI dengan lebih baik,” tegas Sean Li.
Dengan pendekatan distributed infrastructure, Akamai melihat Asia-Pasifik sebagai kawasan kunci untuk mewujudkan masa depan AI yang lebih dekat dengan pengguna, lebih aman, dan lebih efisien.