TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pengerjaan pembangunan Groundsill Srandakan Sungai Progo di perbatasan Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul dengan Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, hampir rampung atau tinggal menyisakan tiga persen.
"Pengerjaan realisasi groundsill sampai dengan saat ini sudah 97 persen dari rencana 76 persen. Jadi, kita ada deviasi 21 persen," kata Penata Teknik PPK Sungai Pantai II Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) DI Yogyakarta, Djohar Ismail, kepada Tribunjogja.com, Rabu (26/8/2026).
Disampaikannya, sisa pengerjaan saat ini berupa pengalihan aliran ke sebelah kanan atau dari sisi Kulon Progo. Sebab, pengerjaan yang dilakukan kemarin berada di sebelah kiri atau dari sisi Kabupaten Bantul.
Groundsill Srandakan dibangun untuk mengendalikan penurunan dasar atau degradasi sungai dan kecepatan aliran sungai yang berpotensi menyebabkan gerakan pada tebing sungai.
Selain itu juga untuk melindungi bangunan yang berada di hulu yaitu Bendung Saphon Jembatan Srandakan yang sangat berperan penting dalam menyukseskan program swasembada pangan.
Rencananya, saat ini akan membuat peredam untuk mengalihkan aliran kembali ke sisi kanan dengan panjang kurang lebih 36 meter di badan sub dam. Selain itu, masih ada penuntasan pengunci bagian hilir sayap groundsill.
"Sebenarnya, target pengerjaan ini selesai pada 31 Desember 2026. Jadi, Insyallah bisa lebih maju. Mungkin pada awal Oktober 2026 ini kontruksi pengerjaan sudah selesai dan hanya menyisakan pengerjaan finishing," papar dia.
Dengan begitu, apabila terdapat timbunan yang dinilai masih kurang akan dituntaskan. Artinya, selama rentang Oktober sampai Desember akan dilakukan perawatan dan serah terima sebelum Desember.
"Mungkin, nanti serah terima dari kontraktor ke kami atau BBWSO itu sekitar November atau awal-awal Desember. Tapi, itu tergantung dengan rekanan menyerahkan, kapan karena perlu dicek fisik 100," ujar Djohar.
Nantinya, setelah penyerahan dilakukan akan ada masa pemeliharan selama setahun 36 hari. Ke depan, apabila ada kerusakan selama masa pemeliharaan akan diperbaiki oleh pihak penyedia jasa atau kontraktor.
"Sampai saat ini, pengerjaan tersebut tidak ada perubahan anggaran. Yang jelas, karena musim kemarau ini, jadi potensi pengerjaan Groundsill Srandakan berjalan lebih cepat. Karena kita bekerja di lokasi berair, maka harus maksimal memanfaatkan musim kemarau yang ada," terang dia.
Guna memastikan kondisi Groundsill Srandakan tidak kembali mengalami kerusakan, pihaknya akan melakukan monitoring selama beberapa kali. Apalagi, pihaknya memiliki tim teknis untuk memantau perkembangan selama pembangunan berlangsung.
"Ya kami berharap, masyarakat sekitar juga ikut memelihara atau menjaga bangunan itu. Kayak penambangan paling tidak dilakukan sesuai jarak dan aturan agar bangunan tetap aman," ujar Djohar.
Lebih lanjut, ia memastikan bahwa sampai saat ini tidak ada masyarakat yang mengalami kekeringan dikarenakan proses perbaikan Groundsill Srandakan.
"Alhamdulillah tidak ada laporan warga terdampak kekeringan karena perbaikan groundsill ini. Kalau sebelumnya ada karena jebol Groundsill Srandakan, jadi beberapa warga bagian Bantul terdampak kekeringan," terangnya.
PPK Pekerjaan Groundsill Sungai Pantai II BBWSO DI Yogyakarta, Dicky Maulana, berujar, proyek itu sudah dimulai sejak 10 Oktober 2025 melalui Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal SDA BBWSO DIY.
Pengerjaan proyek groundsill sepanjang 300 meter tersebut memakan anggaran Rp213,469 miliar. Pengerjaan itu dilakukan mengingat pada awal tahun 2025 silam, badan Groundsill sisi kiri dan apron runtuh sekitar 150 meter.(nei)