Tekan Risiko Uang Palsu, BI Dorong Pedagang di Bangka Selatan Pakai QRIS
Ajie Gusti Prabowo August 26, 2026 05:50 PM

TOBOALI, BABEL NEWS - Pedagang di Bangka Selatan kini memiliki alternatif pembayaran yang tidak hanya memudahkan pembeli, tetapi juga membantu mencatat transaksi secara otomatis. Bank Indonesia (BI) mendorong pelaku usaha memanfaatkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk mengurangi ketergantungan terhadap transaksi tunai. 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Unit Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran pada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Muhammad Syazali, mengatakan kegiatan literasi pembayaran digital rutin dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Edukasi tidak hanya membahas penggunaan QRIS, tetapi juga perlindungan konsumen ketika masyarakat mengalami masalah atau keluhan dalam sistem pembayaran. Pemahaman yang baik penting agar masyarakat dapat bertransaksi secara digital dengan aman dan benar.

"Ini kegiatan yang sering dilakukan oleh Bank Indonesia secara rutin untuk meningkatkan literasi masyarakat terhadap sistem pembayaran," kata Muhammad Syazali, Senin (24/8).

Muhammad Syazali menjelaskan, bagi pelaku usaha penggunaan QRIS dinilai memberikan kemudahan karena setiap pembayaran dapat tercatat secara langsung. Sistem tersebut juga membantu pedagang mengurangi kebutuhan menyediakan uang kembalian saat melayani transaksi. Selain lebih praktis, pembayaran secara digital dinilai dapat meminimalkan risiko peredaran uang palsu dalam transaksi sehari-hari.

Penggunaan QRIS juga memberikan keuntungan dari sisi higienitas transaksi karena pedagang dan pembeli tidak harus melakukan pertukaran uang tunai. Pencatatan transaksi secara digital membuat riwayat pembayaran lebih mudah ditelusuri oleh pengguna. Hal itu menjadi salah satu keunggulan pembayaran digital dibandingkan transaksi tunai yang masih mengandalkan uang fisik.

"Jadi saat pembayaran sudah langsung tercatat, terus juga pembayaran yang higienis, tidak perlu mengembalikan kembalian," beber Muhammad Syazali.

Selain membantu pencatatan transaksi, QRIS juga memungkinkan masyarakat melakukan pembayaran dari jarak jauh tanpa harus datang langsung ke lokasi usaha. Kemudahan tersebut dinilai relevan dengan perkembangan aktivitas ekonomi di dunia maya yang semakin tinggi. Pelaku usaha bahkan dapat memanfaatkan konsep toko virtual sehingga transaksi tetap bisa dilakukan meski penjual dan pembeli tidak berada di tempat yang sama.

Meski sistem pembayaran digital memiliki pengamanan, Muhammad Syazali mengingatkan masyarakat tetap harus berhati-hati karena risiko keamanan dapat muncul akibat kesalahan pengguna. Salah satunya adalah penggunaan PIN yang mudah ditebak atau tindakan menginstal aplikasi tidak dikenal yang dikirimkan pihak tidak bertanggung jawab melalui aplikasi pesan. Karena itu, keamanan transaksi tidak hanya bergantung pada sistem, tetapi juga pada kewaspadaan masyarakat sebagai pengguna.

"Tadi seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa kadang kala tidak aman itu karena sisi human error (Kelalaian manusia-Red)," jelasnya.

Muhammad Syazali mengingatkan masyarakat memastikan sejumlah informasi sebelum menyelesaikan pembayaran menggunakan QRIS. Pengguna perlu mencocokkan nama merchant dan nominal transaksi sebelum memasukkan PIN yang dimiliki. "Kita setiap transaksi harus memastikan nama merchant-nya, nominalnya, dan kita memasukkan PIN yang kita punya," pungkas Muhammad Syazali. (u1)

Perkuat Edukasi Pelaku Usaha
PENGGUNAAN Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di kalangan pedagang dan pelaku usaha di Kabupaten Bangka Selatan, masih tergolong minim. Kini pemerintah daerah menggandeng perbankan untuk mendorong pedagang dan pelaku usaha mulai memanfaatkan QRIS dalam transaksi sehari-hari.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMINDAG) Kabupaten Bangka Selatan, Deka Indra, mengatakan penggunaan QRIS pada pedagang Pasar Terminal Toboali dan sekitarnya masih rendah. Kondisi serupa secara umum juga terlihat pada pelaku usaha di Bangka Selatan berdasarkan data yang disampaikan Bank Indonesia. Bahkan, Bangka Selatan disebut berada di urutan keenam dari tujuh kabupaten/kota dalam penggunaan QRIS oleh pedagang.

"Jadi memang secara umum by data dari BI bahwa penggunaan QRIS di Kabupaten Bangka Selatan khususnya di pedagang masih sangat minim," kata Deka Indra, Senin (24/8).

Deka Indra membeberkan, untuk meningkatkan penggunaan QRIS, Pemkab Bangka Selatan akan melibatkan perbankan dalam mendorong pedagang dan pelaku usaha. Bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) serta bank daerah akan diajak memberikan edukasi dan mendorong pelaku usaha menyediakan QRIS sebagai pilihan pembayaran. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas penggunaan transaksi digital pada berbagai sektor usaha di Bangka Selatan.

Meski demikian, peningkatan penggunaan QRIS tidak hanya bergantung pada pemerintah dan perbankan. Pedagang dan pelaku usaha harus bersedia menyediakan pilihan pembayaran tersebut, sementara masyarakat sebagai konsumen juga perlu membiasakan diri menggunakan transaksi digital. "Kami tetap berproses, karena memang kalau bisa kita jadi pioneer juga untuk kali ini," pungkas Deka Indra. (u1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.