TOBOALI, BABEL NEWS - Produksi cabai di Kabupaten Bangka Selatan, pada semester pertama tahun 2026 telah mencapai sekitar 60,4 persen dari target tahunan. Dengan total produksi 50,70 ton, dari target produksi 84 ton sepanjang 2026.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Selatan, Luhung Amin Firdaus, berujar pemerintah masih memiliki target tambahan produksi sekitar 33,30 ton untuk memenuhi sasaran hingga akhir tahun. Untuk mengejar target tersebut, luas tanam cabai juga ditargetkan meningkat dari 56,73 hektare menjadi sedikitnya 70 hektare.
Adapun budi daya cabai saat ini dilakukan petani secara perorangan maupun melalui kelompok. Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan memberikan dukungan berupa sarana produksi pertanian serta penanggulangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Dari pemerintah pusat, daerah telah mengusulkan pengembangan kawasan cabai seluas lima hektare, sedangkan melalui APBD disiapkan intervensi seluas 20 hektare untuk mendukung penanganan inflasi.
"Dari Pemkab Bangka Selatan ada dukungan saprodi dan penanggulangan OPT, kemudian dari pusat kita baru mengusulkan lima hektare untuk kawasan cabai dan 20 hektare untuk intervensi melalui APBD," jelas Luhung Amin Firdaus, Rabu (26/8).
Hasil produksi cabai petani pertama-tama diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di Toboali. Sebagian produksi dari lokasi yang lebih dekat dengan ibu kota provinsi juga dipasarkan ke Kota Pangkalpinang dan Kota Koba, Kabupaten Bangka Tengah.
Hingga kini kata Luhung, kenaikan permintaan cabai diperkirakan berada pada kisaran 1 hingga 3 persen karena kebutuhan komoditas tersebut untuk program makan bergizi gratis (MBG) tidak sebesar bawang merah.
Untuk memperkuat produksi, pemerintah mulai memperluas budi daya di luar sentra yang selama ini berkembang di Kecamatan Airgegas dan Kecamatan Toboali. Kecamatan Tukak Sadai, mulai dari Desa Bukit Terap, dan Desa Pasir Putih kini diarahkan menjadi wilayah pengembangan baru budi daya cabai.
"Permintaan cabai memang cenderung meningkat, walaupun tidak sebesar bawang merah karena kebutuhan untuk MBG tidak sebanyak itu, rata-rata sekitar 1 sampai 3 persen," pungkasnya. (u1)