6 Keluarga dan Bayi 3 Bulan Bertahan dalam Satu Tenda, Relawan UMI Datang Membantu
Nofri Fuka August 26, 2026 06:45 PM

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Tangis haru tak dapat disembunyikan Fransiska Dinda Nova Parera ketika melihat sebuah tenda darurat yang dibawa Tim Relawan Medis Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ke lokasi pengungsian Desa Ranaka, Kecamatan Waeri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Rabu, 26 Agustus 2026.

Fransiska, yang akrab disapa Suster Dinda, bukan sekadar warga yang sedang menghadapi situasi pascabencana.

Ia adalah tenaga kesehatan Puskesmas Timung.

Sudah lebih dari sepekan, bersama tenaga kesehatan lainnya, ia tetap melayani masyarakat terdampak gempa.

 

Baca juga: Polisi dan Bhayangkari Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sano Nggoang

 

 

Namun di balik seragam dan pekerjaannya sebagai tenaga kesehatan, Suster Dinda juga menghadapi kondisi yang tidak mudah.

Di lokasi pengungsian, satu tenda yang ditempatinya bersama warga harus dihuni enam keluarga dengan total 22 jiwa, termasuk seorang bayi berusia tiga bulan.

“Kami dalam satu tenda ada enam keluarga dan ada bayi. Dua puluh dua jiwa, dan ada satu bayi tiga bulan,” ungkap Suster Dinda.

Karena itu, ketika Wakil Rektor II UMI Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng. menunjukkan tenda tambahan yang dibawa tim relawan, Suster Dinda tak mampu menyembunyikan rasa harunya.

“Terima kasih, Pak,” ucapnya sambil memeluk Prof. Zakir.

Bukan karena bantuan tersebut mewah.

Tetapi karena pada kondisi ketika puluhan orang harus berbagi ruang pengungsian yang terbatas, satu tenda tambahan berarti ada keluarga yang dapat beristirahat sedikit lebih layak.

Sekitar 2.000 Warga Mengungsi

Kepala Puskesmas Timung Manggarai, Maria Roslita Gaudensia, menjelaskan bahwa jumlah warga yang mengungsi di wilayah tersebut sangat besar.

Menurutnya, sekitar 500 kepala keluarga atau kurang lebih 2.000 jiwa terdampak dan berada di lokasi-lokasi pengungsian.

“Banyak sekali, Pak. Satu desa di sini semua. Ada sekitar lima ratus KK,” ujarnya ketika berdialog dengan Prof. Zakir.

Warga meninggalkan rumah setelah gempa besar mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

BMKG mencatat gempa tersebut memiliki parameter pemutakhiran magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer, dan Manggarai termasuk wilayah yang terdampak guncangan serta peringatan dini tsunami saat kejadian. 

Sejak itu, sebagian masyarakat masih memilih bertahan di lokasi pengungsian.

Bukan semata karena kondisi bangunan.

Gempa susulan dan kekhawatiran terhadap keselamatan membuat banyak keluarga belum merasa tenang untuk kembali ke rumah.

Tenaga Kesehatan yang Melayani Juga Penyintas

Di tengah situasi tersebut, para tenaga kesehatan Puskesmas Timung tetap bekerja.

Mereka memeriksa masyarakat. Mendengarkan keluhan. Memberikan obat. Melayani anak-anak.

Mendampingi lansia.

Dan membantu keluarga-keluarga yang harus menjalani kehidupan sementara di pengungsian.

Padahal sebagian dari tenaga kesehatan tersebut juga merasakan langsung dampak bencana.

Hal itu menjadi perhatian khusus Prof. Zakir.

“Di antara tenaga kesehatan ini ada juga yang menjadi korban. Bahkan ada yang kondisinya lebih berat. Tetapi sudah lebih dari sepekan mereka tetap bersama masyarakat dan terus melayani,” ujarnya.

Karena itu, menurut Prof. Zakir, misi kemanusiaan UMI tidak hanya ditujukan kepada masyarakat yang mengungsi.

Tim juga ingin memberikan dukungan kepada tenaga kesehatan lokal yang tetap berdiri di garis pelayanan meski kehidupan mereka sendiri ikut terdampak.

“Kita datang memberikan support dan semangat. Yang juga harus kita kuatkan adalah tenaga-tenaga kesehatan yang luar biasa ini. Mereka sendiri terdampak, tetapi tetap memilih melayani masyarakat,” katanya.

Mereka juga penyintas. Tetapi ketika warga membutuhkan pertolongan, mereka tetap bekerja.

97 Warga Mendapat Pelayanan Kesehatan

Selain menyerahkan bantuan, Tim Relawan Medis UMI bersama Association of Medical Doctors of Asia (AMDA), Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran UMI, AR7 Team, dan KAHMI Manggarai langsung membuka pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Tim medis dipimpin dr. Berry Erida Hasbi, Sp.B. bersama dr. Kirsan dan anggota relawan lainnya.

Dalam waktu kurang lebih tiga jam, sebanyak 97 pasien mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan.

Warga datang membawa berbagai keluhan kesehatan yang muncul atau memburuk selama tinggal di pengungsian.

Tim melakukan pemeriksaan, konsultasi, serta memberikan obat sesuai kondisi masing-masing pasien.

Bagi masyarakat yang telah berhari-hari hidup dalam kondisi darurat, pelayanan sederhana seperti pemeriksaan tekanan darah, konsultasi dokter, dan ketersediaan obat menjadi kebutuhan yang sangat berarti.

Tenda, Selimut, hingga Popok untuk Bayi

Bantuan yang dibawa tim disesuaikan dengan kebutuhan yang terlihat langsung di lapangan.

Tenda darurat, Selimut, Bahan kebutuhan pokok, hingga popok untuk bayi.

Saat Suster Dinda menyebut ada bayi berusia tiga bulan yang tinggal bersama puluhan orang dalam satu tenda, Prof. Zakir menunjukkan popok bayi yang turut dibawa relawan.

“Itu ada popok,” ujarnya.

Percakapan tersebut berlangsung sederhana. Tidak ada seremoni panjang. Tidak ada panggung.

Karena dalam situasi bencana, kebutuhan masyarakat sering kali juga sangat sederhana.

Bayi membutuhkan popok. Lansia membutuhkan obat. Keluarga membutuhkan tempat berlindung.

Dan tenaga kesehatan membutuhkan dukungan agar dapat terus bekerja.

Bantuan kemanusiaan menjadi bermakna ketika yang dibawa benar-benar menjawab apa yang sedang dibutuhkan.

Bukan Datang Menggantikan, tetapi Menguatkan

Tim Relawan Medis UMI tidak datang untuk menggantikan tenaga kesehatan setempat.

Mereka datang untuk bekerja bersama. Membantu mengurangi beban pelayanan. Membawa obat. Menambah kebutuhan pengungsian.

Dan memberikan dukungan kepada orang-orang yang sejak hari pertama bencana telah berada di lapangan.

Karena dalam sebuah bencana, orang yang membantu orang lain terkadang juga membutuhkan seseorang untuk menguatkannya.

Suster Dinda menjadi gambaran sederhana dari keadaan tersebut.

Ia adalah tenaga kesehatan. Tetapi ia juga penyintas. Ia melayani pasien.

Tetapi ia juga tidur bersama puluhan orang di dalam satu tenda.

Ia menguatkan masyarakat. Tetapi hari itu, ia juga membutuhkan untuk dikuatkan.

Dan ketika bantuan tenda itu datang, tangisnya mengatakan lebih banyak daripada ucapan terima kasih.

UMI: Hadir Sesuai Kebutuhan Masyarakat

Kehadiran relawan di Desa Ranaka merupakan bagian dari rangkaian misi kemanusiaan Universitas Muslim Indonesia di wilayah terdampak gempa NTT.

Sebelumnya, Tim Relawan Medis UMI juga telah bergerak ke sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai untuk memberikan pelayanan kesehatan, pengobatan, serta bantuan kebutuhan dasar.

Bagi UMI, misi seperti ini tidak diukur dari seberapa banyak daerah yang dapat dikunjungi atau seberapa jauh perjalanan yang telah ditempuh.

Yang lebih penting adalah: apakah kehadiran universitas menjawab kebutuhan masyarakat.

Di Ranaka, kebutuhan itu terlihat sangat jelas. Ruang pengungsian yang lebih layak.

Pelayanan kesehatan. Obat-obatan. Perlengkapan bayi. Dukungan kepada tenaga kesehatan.

Dan rasa bahwa masyarakat tidak menghadapi keadaan sulit itu sendirian.

Pengabdian yang Bertemu Manusia

Aksi kemanusiaan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Catur Dharma UMI, yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter.

Bagi UMI sebagai Kampus Perjuangan dan Pengabdian serta Kampus Peduli dan Berbagi, ilmu tidak berhenti ketika kegiatan akademik selesai.

Dokter membawa ilmunya kepada pasien. Mahasiswa belajar melihat profesinya sebagai tanggung jawab sosial.

Perguruan tinggi menghubungkan kompetensi yang dimilikinya dengan kebutuhan masyarakat.

Dan pendidikan karakter memperoleh bentuk paling konkret ketika seseorang memilih membantu manusia lain dalam keadaan sulit.

Karakter tidak hanya terlihat dari apa yang diajarkan di kampus. Karakter terlihat dari apa yang dilakukan ketika orang lain membutuhkan bantuan.

Lebih Banyak Pihak Dibutuhkan

Situasi di Desa Ranaka juga menjadi pengingat bahwa kebutuhan para penyintas belum selesai.

Sekitar 2.000 warga masih menghadapi berbagai kebutuhan selama berada di pengungsian, berdasarkan keterangan Kepala Puskesmas Timung.

Kebutuhan tenda masih ada. Kebutuhan kesehatan tetap berjalan. Bayi dan anak-anak mempunyai kebutuhan khusus. Lansia membutuhkan perhatian.

Dan tenaga kesehatan lokal harus tetap dapat menjaga kondisi mereka sendiri agar mampu terus melayani masyarakat.

Karena itu, misi kemanusiaan ini tidak seharusnya menjadi cerita tentang UMI semata.

Ini adalah ajakan agar lebih banyak orang dan institusi ikut membantu sesuai kemampuan masing-masing.

Perguruan tinggi dapat membawa keahlian. Organisasi profesi dapat menggerakkan tenaga.

Dunia usaha dapat membantu logistik. Komunitas dapat membangun dukungan.

Dan masyarakat dapat mengambil bagian dengan cara yang mereka mampu.

Sebab semakin banyak orang yang membantu, semakin cepat pula penyintas merasakan bahwa mereka tidak menghadapi bencana sendirian.

Suster Dinda Tetap Melayani

Hari itu, Tim Relawan Medis UMI kemudian melanjutkan pelayanannya.

Pasien diperiksa. Obat dibagikan. Bantuan diserahkan. Dan tenda tambahan diterima warga.

Namun ada satu pemandangan yang meninggalkan pesan kuat.

Suster Dinda menangis ketika tenda itu datang. Bukan semata karena menerima sebuah barang.

Tetapi karena setelah lebih dari sepekan ikut melayani penyintas sambil menghadapi kesulitan yang sama, ada orang lain yang datang dan mengatakan melalui tindakan: sekarang biarkan kami ikut membantu.

Bagi Universitas Muslim Indonesia, mungkin itulah salah satu makna paling sederhana dari pengabdian.

Tidak harus datang sebagai pihak yang mampu menyelesaikan semuanya.

Cukup datang dengan apa yang dimiliki. Bekerja bersama mereka yang sudah lebih dahulu berjuang.

Dan memastikan bahwa mereka yang selama ini menguatkan orang lain juga tidak dibiarkan berjuang sendirian.

Sumber: Humas Universitas Muslim Indonesia

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.