Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Perum Bulog Lampung telah menyerap gabah petani di wilayah Sai Bumi Ruwai Jurai mencapai sekitar 427 ribu ton hingga Agustus 2026. Jumlah itu setara dengan 218.630 ton beras.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Lampung, Rindo Safutra mengatakan bahwa pihaknya masih mengejar target penyerapan beras selama 2026 sebesar 253 ribu ton.
"Untuk saat ini data serapan dari petani Lampung, sudah menyerap 427 ribu ton (gabah). Itu setara dengan 218.630 ton beras. Lalu, target kami selama setahun ini adalah 253 ribu ton (beras)," kata Rindo saat diwawancarai di Lampung Tengah, Rabu (26/8/2026).
Rindo optimistis target penyerapan tersebut dapat tercapai 100 persen hingga akhir tahun. "Jadi sampai dengan akhir tahun kami targetkan untuk bisa menyelesaikan target tersebut 100 persen dan insyaallah kami bisa lakukan itu," ujarnya.
Namun, upaya mengejar target penyerapan hasil pertanian padi petani tersebut menghadapi tantangan di tengah puncak musim kemarau.
Rindo mengakui kondisi kemarau turut memengaruhi penyerapan beras Bulog di Lampung. Menurutnya, pengaruh tersebut diperkirakan berada pada kisaran 10 hingga 20 persen.
"Pengaruhnya adalah mungkin kisaran 10 sampai 20 persen karena memang harganya tinggi, Pak. Terus terang untuk saat ini harganya tinggi, tapi tetap kami upayakan untuk menyelesaikan target ini," kata Rindo.
Selain faktor musim, tingginya harga gabah di tingkat petani juga menjadi tantangan bagi Bulog. Rindo menyebut harga gabah di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp7.500 per kilogram.
Sementara harga pembelian yang ditetapkan Bulog berada di angka Rp6.500 per kilogram. "Kalau berdasarkan informasi itu sekitar Rp7.500-an," ujarnya.
Meski terdapat selisih harga, Bulog memastikan tetap membuka penyerapan bagi petani maupun kelompok tani yang ingin menjual gabahnya.
"Kalau memang ada petani yang mau atau poktan-poktan yang mau jual ke kami, kami tetap serap," tegas Rindo.
Untuk menjaga pasokan di tengah musim kemarau, Bulog Lampung juga mengandalkan sejumlah wilayah yang masih memasuki masa panen.
Rindo menyebut Kabupaten Mesuji menjadi salah satu daerah yang masih melakukan panen dan berpotensi menyumbang pasokan beras.
Selain Mesuji, sejumlah wilayah lain seperti Lampung Tengah dan Pringsewu juga masih berpotensi menjadi sumber pasokan Bulog.
"Kemarin itu ada wilayah Mesuji, itu yang lagi panen. Itu juga ada dan wilayah Kanwil itu ada juga. Jadi memang dari wilayah-wilayah seperti Lampung Tengah dan Pringsewu mungkin," katanya.
Rindo juga memastikan Bulog siap menyerap produksi padi rawa yang saat ini tengah diintensifikasi pemerintah.
Menurutnya, selama petani atau kelompok tani bersedia menjual hasil produksinya kepada Bulog dengan harga pembelian yang ditetapkan, beras tersebut akan tetap diserap.
"Sepanjang mereka mau menjualnya dengan harga Rp6.500, kami akan serap," ujarnya.
Dengan mengandalkan pasokan dari daerah yang masih panen serta tetap membuka penyerapan dari petani dan kelompok tani, Bulog Lampung optimistis target penyerapan beras sebesar 253 ribu ton hingga akhir 2026 dapat tercapai.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)