Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Lestari Kampung Bagaiserwar Dua, Distrik Sarmi Timur, Kabupaten Sarmi, turut memeriahkan gelaran Festival Danau Sentani (FDS) XV dengan memamerkan berbagai produk olahan lokal khas Kabupaten Sarmi, di Dermaga Kalkhote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Rabu (26/8/2026).
Produk unggulan yang dibawa antara lain ikan asin Tenggiri, olahan turunan sagu seperti tepung sagu, kue bolu (cake), dan kue kering (cookies) sagu, minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil/VCO), serta minyak kelapa asli.
Fasilitator Kabupaten Program Kementerian Desa untuk BUMDes Lestari Kampung Bagaiserwar II, Jack Maikel Ibo, mengungkapkan bahwa keikutsertaan mereka dalam ajang FDS merupakan pengalaman perdana setelah sebelumnya lebih sering mengikuti pameran di Sarmi.
Baca juga: Mengenal Bai, Blome, dan Kolho: Alat Dapur Tradisional Unurum Guay di Festival Danau Sentani
"Kami membawa produk ikan asin dari kelompok nelayan di Sarmi, serta aneka olahan turunan sagu. Untuk minyak VCO, stok yang kami bawa bahkan sudah habis terjual sejak kemarin. Usaha ini berjalan lewat dua skema, yakni mandiri oleh nelayan dan dikelola BUMKam (BUMDes) dengan dukungan dari Kementerian Desa," ujar Jack.
Terkait target penjualan, Jack mengaku tidak mematok angka tertentu. Baginya, FDS menjadi ajang strategis untuk memperkenalkan potensi ekonomi Kabupaten Sarmi kepada khalayak luas.
"Target omzet tidak kami patokan karena fokus utama kami adalah promosi. Apa yang dipamerkan di sini akan kami bawa pulang dan terus kami promosikan kembali," jelasnya.
Meski demikian, Jack memberi catatan agar pengelolaan alur acara (pra-event hingga main event) dapat diperhatikan lebih baik lagi pada gelaran mendatang. Ia juga berharap adanya perhatian berlanjut dari Pemprov Papua dan Pemerintah Kabupaten bagi pelaku UMKM dimana saja.
"Produk ikan asin dan VCO kami sebenarnya sudah menjangkau pasar di luar daerah hingga Jakarta berdasarkan pesanan. Harapan kami, melalui FDS ini pengembangan UMKM makin diperhatikan," tambahnya.
Adapun rincian harga produk olahan BUMDes Lestari Sarmi meliputi;
Ikan asin tenggiri: Rp210 ribu per kilogram (Rp105 ribu untuk ukuran 0,5 kilogram), Tepung sagu Rp 30 ribu per kilogram, Stik ubi Rp 35 ribu per 500 gram, Minyak kelapa murni (VCO) Rp 35 ribu per liter.
Pesona Kerajinan Kulit Kayu Seman
Selain produk pangan, stan Kabupaten Sarmi juga menampilkan kerajinan kulit kayu Seman buatan pengrajin lokal, Minda Yaas dan Teroci Yaas. Kerajinan tradisional ini dahulu digunakan leluhur sebagai bahan utama pakaian sebelum mengenal kain tekstil modern.
"Dulu sebelum ada pakaian, nenek moyang memakai kulit kayu ini untuk baju dan celana. Sekarang, kami dikembangkan menjadi syal atau selendang penyambutan tamu, hingga busana adat," ujar Minda Yaas.
Berbeda dengan teknik rajut yang menggunakan jarum atau teknik tenun masyarakat Nusa Tenggara yang diikat, di Sarmi mereka membuat tenun tanpa diikat pakai tali.
Baca juga: Tarian Khui Bea Awali Festival Danau Sentani, Pemkab Jayapura Dorong Kalkhote Jadi Pusat UMKM
Proses pengerjaan satu set busana (baju dan rok) umumnya memakan waktu berbulan-bulan.
Namun, bagi pengrajin yang sudah sangat mahir, pengerjaan dapat diselesaikan dalam dua minggu.
Kerajinan kulit kayu Seman ini biasanya dipesan untuk keperluan prosesi pernikahan, penyambutan tamu kehormatan, hingga acara di para-para adat. Selama ini, Minda dan Teroci lebih banyak melayani pemesanan langsung dari rumah.
Untuk kisaran harga kerajinan tangan tersebut dijual bervariasi; selendang dari harga Rp 500 ribu sampai Rp 3 juta.
Meskipun baru pertama kali berpartisipasi di Festival Danau Sentani dan pembeli, para pengrajin tetap antusias mengenalkan warisan leluhur Kabupaten Sarmi kepada para pengunjung festival. (*)