POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Di tengah suara musik dan sorak-sorai penonton yang memadati sekitar panggung kehormatan Karnaval Damar Berkreasi di Desa Mengkubang, hadir satu keluarga yang tampak paling antusias saat salah satu peserta lewat pada Rabu (26/8/2026) siang.
Mereka adalah Iwan (51), sang istri Nita (47), dan putri sulungnya Vina (26).
Bertiga berdiri di sisi pinggir jalan utama, sengaja datang jauh-jauh dari kediaman mereka di Dusun Mempaya 1, Desa Mempaya.
Terik matahari seakan tak menghalangi semangat keluarga ini untuk mencari tempat terbaik, bahkan sebelum iring-iringan peserta melintas di panggung penghormatan.
Bagi keluarga Iwan, menonton pawai bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang.
Tertuang kebersamaan keluarga yang selalu mereka tradisikan setiap kali ada hiburan rakyat di daerahnya.
"Memang tiap-tiap tahun kami pergi bareng-bareng terus. Suka nonton keramaian," ujar sang putri sulung, Vina kepada Posbelitung.co, Rabu (26/8/2026).
Ternyata, kehadiran mereka pada karnaval tahun ini terasa jauh lebih spesial.
Pasalnya, adik bungsu Vina yang bernama Keisha tampil langsung sebagai satu si antara peserta karnaval mewakili Desa Mempaya.
Kata Vina, mereka rela berdiri berjam-jam untuk melihat Keisha tampil mengenakan kostum dan kreasi terbaik.
"Kami mau nonton adik, Keisha. Dari kemarin-kemarin kan lihat dia latihan, jadi hari ini wajib datang nonton langsung di jalan," tambanya.
Iwan, sang ayah, menimpali dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya sepanjang percakapan.
Iwan sangat bersyukur karnaval tingkat kecamatan akhirnya kembali digelar meriah tahun ini.
Dua tahun tanpa adanya parade di Kecamatan Damar, kata Iwan, sempat membuat suasana peringatan kemerdekaan terasa ada yang kurang.
"Mumpung ada hiburan, acara kayak gini kan jarang-jarang sekali di Kecamatan Damar. Apalagi dua tahun lalu kan tidak ada acara," ucap Iwan.
Kerinduan itu pun terbayar tuntas ketika satu per satu rombongan peserta mulai berjalan melintasi panggung kehormatan.
Tak hanya menunggu giliran sang anak melintas, Iwan dan keluarganya juga takjub oleh ide-ide cemerlang serta kreativitas para peserta tahun ini.
Vina secara khusus menyoroti kepiawaian para peserta dalam memanfaatkan limbah dan bahan bekas menjadi busana karnaval yang bernilai seni.
"Sangat senang ngeliatnya. Banyak kekreatifan orang-orang buat pakaian dari bahan-bahan bekas. Bagus-bagus dan kreatif semua yang buat baju," ungkap Vina.
Bagi Iwan sendiri, daya tarik utama dari karnaval tahun ini adalah bagaimana ragam kearifan lokal dan cerita rakyat ditampilkan secara visual.
Satu di antaranya adalah tema yang diusung oleh Desa Mempaya itu sendiri, yang bertajuk Membarongan atau tradisi tinggal di Uma Kebun.
Ia sedikit menceritakan gambaran tentang bagaimana kehidupan berladang dan tradisi orang tua zaman dulu diangkat menjadi atraksi seni yang menarik.
"Banyak ide-ide baru yang tampil. Jadi kita sebenarnya penasaran pengin lihat kreativitas itu, seperti tema uma kebun dari Desa Mempaya tadi," ungkapnys.
Sepanjang acara berlangsung, mereka sekeluarga terlihat sesekali menyemangati peserta yang lewat.
Apapun itu, ajang tahunan ini menjadi momen bagi keluarga Iwan untuk membuat kenangan manis dan kebahagiaan sederhana. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)