Dokter spesialis penyakit dalam konsultan pulmonologi (paru) dr. Rouly Pola Pasaribu, Sp.PD-KP, FINASIM, mengatakan dampak kabut asap terhadap individu sehat dalam waktu singkat umumnya tidak terlalu besar. Namun, kondisi berbeda terjadi pada orang yang memiliki penyakit penyerta atau kondisi paru-paru yang sudah terganggu.
"Pada individu yang rentan, misalnya pasien asma, PPOK, paru-parunya sudah rusak akibat pernah mengalami infeksi, atau pasien dengan kelainan jantung, ini sangat berbahaya karena infeksi pada saluran napas bisa memperburuk kondisinya dengan sangat cepat," kata Rouly saat dikonfirmasi Tribunsumsel.com, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, kelompok rentan tidak hanya berdasarkan kondisi kesehatan, tetapi juga usia. Anak-anak dan lanjut usia, terutama mereka yang berusia di bawah sekitar lima tahun maupun di atas 65 tahun, memiliki risiko lebih tinggi ketika terpapar kualitas udara yang buruk.
"Kalau dalam jangka waktu singkat jumlahnya banyak juga bisa tetap menimbulkan gangguan. Tidak harus dalam jangka waktu yang lama. Kalau kualitasnya sangat buruk, maka bisa langsung menimbulkan gangguan pernapasan," katanya.
Gangguan yang paling mudah muncul adalah infeksi saluran pernapasan atas. Kondisi ini menjadi lebih berbahaya apabila dialami oleh masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.
Pada penderita asma, misalnya, paparan udara buruk dapat memicu kekambuhan. Sementara pada penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kondisi tersebut dapat membuat sesak napas semakin berat.
"Asmanya akan sering kambuh, PPOK-nya akan tambah sesak. Banyak kasus yang bisa menjadi tambah buruk," ujarnya.
Rouly mengungkapkan, dampak tersebut mulai terlihat dari kunjungan pasien dengan keluhan yang berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan. Pasien yang datang tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa hingga lanjut usia.
Ia bahkan menemukan sejumlah pasien yang sebelumnya telah selesai menjalani pengobatan TBC, tetapi memiliki kerusakan pada sebagian paru-parunya, kembali datang dengan keluhan pernapasan.
"Beberapa hari ini sudah datang lagi dengan keluhan napasnya terasa berat, lebih bersin-bersin, kemudian kondisinya panas lagi," ungkapnya.
Selain itu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak diperlukan. Bagi penderita penyakit jantung berat atau asma berat, ia menyarankan agar lebih banyak beraktivitas di dalam rumah.
"Banyak istirahat, banyak berdiam di dalam rumah, hindari keluar kalau tidak perlu, gunakan alat pelindung diri berupa masker medis, kemudian banyak minum air putih," katanya.
Terkait aktivitas sekolah di tengah kualitas udara yang buruk, menurutnya keputusan pembelajaran tatap muka maupun daring harus mempertimbangkan kondisi kualitas udara pada saat itu karena ISPU dapat berubah setiap hari.
Namun, bagi anak-anak yang tetap mengikuti pembelajaran tatap muka, ia menyarankan agar aktivitas di luar ruangan dikurangi. Anak-anak sebaiknya lebih banyak berada di dalam kelas dan menggunakan masker sebagai perlindungan. Jangan sampai keluar tapi tidak ada alat perlindungan diri sama sekali.