Sosiolog Unhas Dr Rahmat Soroti Krisis Kepercayaan: Role Model Kepemimpinan Makin Langka
Imam Wahyudi August 26, 2026 11:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Krisis kepemimpinan terlihat dari menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sosok yang memimpin.

Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Rahmat Muhammad, melihat persoalan kepercayaan menjadi salah satu akar dari krisis kepemimpinan yang terjadi saat ini.

Menurutnya, kepercayaan yang tergerus meluas dari tingkat nasional, regional, lokal hingga lingkungan keluarga.

Dr Rahmat Muhammad M.Si, adalah akademisi dan Kepala Program Studi S3 Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas). 

Lahir di Parepare, Sulsel, 13 Mei 1970, Dr Rahmat adalah alumni Sosiologi FISIP Unhas angkatan 1995.

Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Sosiologi pada Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 2001.

Gelar Doktor Sosiologi ia peroleh dari Universitas Hasanuddin tahun 2009.

Universitas Hasanuddin (Unhas) merupakan perguruan tinggi negeri terbesar dan terkemuka di Indonesia timur yang terletak di Kecamatan Talamanrea, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Universitas ini secara resmi berdiri pada tanggal 10 September 1956 dan namanya diambil dari pahlawan nasional, Sultan Hasanuddin.

Dr Rahmat aktif dalam berbagai organisasi.

Seperti pengurus Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI) dan pernah terlibat sebagai tim seleksi (timsel) calon komisioner Bawaslu Sulawesi Barat. 

Menurut Dr Rahmat, persoalan utama bangsa saat ini adalah masalah kepercayaan. 

"Masalah kepercayaan ini tergerus mulai dari atas sampai pada rakyat," ujar Dr Rahmat Muhammad dalam Forum Dosen bertajuk 'Asa Untuk Negeri di Tengah Krisis Kepemimpinan' yang disiarkan langsung melalui YouTube Tribun-Timur.com, Rabu (26/8/2026) sore.

Dialog Forum Dosen ini digelar di Studio Podcast Tribun Timur, Jl Opu Dg Risadju nomor 430 Makassar.

Forum Dosen Tribun Timur pertama kali terbentuk pada tahun 2005 ketika koran Tribun Timur masih dalam tahap merintis sebagai media baru di Sulawesi Selatan. 

Forum ini digagas sebagai wadah diskusi bagi para akademisi dan dosen dari berbagai latar belakang keilmuan serta perguruan tinggi lintas kampus untuk ikut merespons dan mengkaji berbagai isu sosial, politik, dan pembangunan.

Forum ini diprakarsai bersama oleh jajaran pimpinan media Tribun Timur dan sejumlah akademisi terkemuka, seperti Adi Suryadi Culla yang kemudian menjadi Ketua Forum Dosen. 

Forum Dosen Tribun Timur melibatkan perwakilan dari berbagai universitas besar di Makassar dan sekitarnya.

Seperti Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Muslim Indonesia (UMI), Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Universitas Bosowa (Unibos), Universitas Muhammadiyah (Unismuh), dan lainnya.

Forum dosen secara konsisten menjadi ruang dialektika publik, bedah buku, hingga mengulas berbagai persoalan krusial daerah hingga nasional.

Role Model Nasional

Terkait krisis kepemimpinan yang terjadi saat ini, menurut Dr Rahmat, kondisi tersebut berbeda dengan masa ketika masyarakat masih memiliki sosok yang dianggap sebagai role model nasional.

Ia mengatakan, pada masa lalu masyarakat relatif lebih mudah menemukan figur yang dijadikan contoh dalam kehidupan berbangsa.

"Dulu itu relatif kencang nyatakan, siapa yang bisa jadi role model nasional. Pertanyaan dasarnya siapa bisa jadi contoh? Dulu kita digiring, Pak Harto, kapan bukan Pak Harto hati-hati. Ada role model di masa itu. Setelah itu, kita mulai ragu, jangankan orang lain, anak-anak jadikan idola orangtuanya juga ragu," katanya.

Menurutnya, hilangnya figur yang dianggap layak menjadi teladan kemudian membuat masyarakat semakin sulit menentukan siapa yang dapat dipercaya dan dijadikan contoh.

Keraguan tersebut bahkan tidak hanya muncul dalam hubungan masyarakat dengan pemimpin negara.

Dr Rahmat menilai krisis kepercayaan telah bergerak ke berbagai lapisan kehidupan sosial, bahkan lingkup keluarga.

"Krisis ini dinamis, nasional, regional, lokal sampai ke keluarga inti saling tidak percaya. Kita bicara nasional, nah di keluarga inti kita masih mencurigai satu sama lain," katanya.

Ia melihat kondisi tersebut menunjukkan bahwa krisis kepemimpinan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemimpin yang berada di ruang kekuasaan.

Sebab, persoalan kepercayaan juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat membangun karakter dan keteladanan dari lingkungan paling kecil.

Dr Rahmat kemudian mengingatkan kembali ajaran yang dahulu banyak disampaikan orangtua, yakni memperbaiki diri sebelum berusaha memperbaiki orang lain.

"Dulu ajaran orangtua perbaiki dulu dirimu sebelum perbaiki orang banyak. Jadi Krisis itu dari kita juga," tegasnya.

Menurutnya, perbaikan kepemimpinan perlu dimulai dari berbagai lapisan masyarakat.

Di sisi lain, Dr Rahmat menilai lembaga legislatif tetap memiliki peran penting dalam mengawasi jalannya pemerintahan.

Fungsi pengawasan DPR harus dijalankan dengan cara memanggil dan mengingatkan ketika terdapat persoalan dalam kepemimpinan.

Sebab pergantian pemimpin tidak selalu menjadi solusi otomatis terhadap krisis kepemimpinan.

"DPR harus berfungsi, panggil lalu ingatkan. Tidak mudah seketika bilang ganti, karena tidak ada bisa menjamin bahwa penggantinya lebih baik," kata Sosiolog ini.

Dengan demikian, menurut Dr Rahmat, persoalan krisis kepemimpinan perlu dilihat sebagai persoalan yang lebih luas.

Arahnya pada krisis kepercayaan dan keteladanan yang berlangsung di berbagai tingkat kehidupan masyarakat.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.