IMF Puji Ketahanan Ekonomi Global Atasi Guncangan Energi Iran
Thurfah Mahira Ahnaf August 26, 2026 11:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengatakan, ekonomi global telah mengatasi guncangan energi akibat perang di Iran dengan lebih baik daripada yang dikhawatirkan sebelumnya.

Dikutip dari The Straits Times, Rabu, (26/8/2026), Georgieva menyatakan kepada wartawan dalam sebuah konferensi pers menjelang pertemuan para pemimpin keuangan Kelompok 20 (G20) pekan depan di Asheville, North Carolina, pertumbuhan global berhasil bertahan di tengah hambatan berat mengenai tingkat utang, inflasi yang membandel, dan ketegangan perdagangan."

"Sejauh ini, pertumbuhan global telah mengatasi guncangan energi karena penutupan Selat Hormuz dengan lebih baik daripada yang kami khawatirkan, berkat kombinasi berbagai faktor," kata Georgieva.

Ia menjelaskan, ketahanan tersebut ditopang oleh sejumlah faktor, di antaranya penarikan cadangan minyak dan gas oleh banyak negara, peningkatan pasokan energi dari luar kawasan Teluk, penurunan permintaan energi, peningkatan kapasitas energi terbarukan, serta peralihan kembali ke Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara (PLTU) di beberapa wilayah.

Selain itu, Georgieva juga menyoroti adanya "tarik-menarik" antara guncangan pasokan energi negatif dari Teluk dan dorongan pertumbuhan dari booming investasi kecerdasan buatan (AI) yang mulai menyebar ke luar perbatasan AS. Investasi pada sektor artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan di AS terus menopang laba korporasi dan belanja konsumen, sedangkan negara-negara lain mempercepat pembangunan pusat data dan pasokan perangkat keras AI.

 

IMF Khawatir Kondisi Fiskal

Meski demikian, Georgieva mengaku tetap khawatir akan memburuknya kondisi fiskal di beberapa negara, sebagaimana terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi dan proses disinflasi yang mandek.

Ia menyatakan, risiko terhadap prospek global memang lebih seimbang dibandingkan saat April, meskipun masih condong ke arah penurunan, akibat tekanan fiskal yang semakin meningkat dan potensi bank sentral dalam mempertahankan keketatan kebijakan moneter guna mengendalikan inflasi.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.