Usai Bahlil Terbitkan Izin, Gunung Ungaran Akan Dibor Sedalam 2 Ribu Meter
rival al manaf August 27, 2026 01:10 AM

TRIBUNJATENG.COM – Terbitnya Surat Keputusan (SK) Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjadi penanda dimulainya tahapan baru pengembangan energi panas bumi di Jawa Tengah.

Setelah izin resmi diterbitkan, proyek yang akan dikelola PT PLN (Persero) tersebut kini bersiap memasuki tahap eksplorasi, termasuk rencana pengeboran hingga kedalaman 1.900 hingga 2.200 meter untuk membuktikan potensi energi yang tersimpan di bawah Gunung Ungaran.

Proyek panas bumi ini menjadi salah satu program strategis pemerintah dalam mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar fosil.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa SK WKP Gunung Ungaran telah diterbitkan dan nantinya diberikan kepada PLN untuk dikembangkan sebagai sumber listrik berbasis energi bersih.

Baca juga: Bahlil Terbitkan Izin Panas Bumi Gunung Ungaran, Titik Panas di Sekitar Candi Gedongsongo

Baca juga: Demi Investasi Rp5,3 Triliun, Gunung Ungaran Bakal Dibor Sedalam 2 Ribu Meter

"Kami berterima kasih kepada Bapak Menteri karena telah merilis penerbitan SK untuk izin panas bumi yang nanti akan diberikan untuk wilayah kerja panas bumi Gunung Ungaran," kata Eniya dalam acara Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta.

Potensi panas bumi Gunung Ungaran diperkirakan mencapai sekitar 50 hingga 55 megawatt (MW). Kapasitas tersebut dinilai cukup signifikan untuk memperkuat pasokan listrik berbasis energi terbarukan di Jawa Tengah.

Akan Dibor hingga Kedalaman 2.200 Meter

NILAI INVESTASI - Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi pada Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono mengungkap, nilai investasi PLTP Gunung Ungaran mencapai 300 juta dolar AS atau senilai Rp5,3 Triliun, kota Semarang, Rabu (26/8/2026).
NILAI INVESTASI - Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi pada Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono mengungkap, nilai investasi PLTP Gunung Ungaran mencapai 300 juta dolar AS atau senilai Rp5,3 Triliun, kota Semarang, Rabu (26/8/2026). (TRIBUN JATENG/iwan Arifianto)

Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Dinas ESDM Jawa Tengah, Dwi Suryono, menjelaskan bahwa tahapan berikutnya adalah pembuktian cadangan panas bumi melalui pengeboran eksplorasi.

Menurut dia, pengeboran akan dilakukan hingga kedalaman antara 1.900 hingga 2.200 meter untuk memastikan besarnya potensi energi yang selama ini diperkirakan berdasarkan berbagai studi dan survei geologi.

"Potensi itu perlu pembuktian dengan melakukan pengeboran secara langsung dengan kedalaman 1.900 sampai 2.200 meter," ujar Dwi.

Tahap eksplorasi diperkirakan mulai dilaksanakan pada akhir 2028 atau awal 2029.

Sebelum pengeboran dilakukan, PLN masih harus menjalani sejumlah tahapan, termasuk pemetaan lokasi yang paling layak untuk dijadikan titik eksplorasi.

Wilayah kerja panas bumi Gunung Ungaran memiliki luas sekitar 29.800 hektare yang membentang di Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal. Namun, tidak seluruh area tersebut akan digunakan sebagai lokasi pengeboran.

Menurut Dwi, PLN masih harus menentukan titik yang memiliki peluang terbaik untuk menemukan sumber panas bumi yang ekonomis dan layak dikembangkan.

"Belum diketahui titik eksplorasi berada di Kabupaten Semarang atau Kendal. Yang jelas, dari luas wilayah konsesi tersebut, area terbesar berada di Kabupaten Semarang," katanya.

Karena itu, masyarakat diminta tidak khawatir terhadap proses pengembangan proyek. Pemerintah memastikan akan ada tahapan sosialisasi dan pelibatan masyarakat sebelum kegiatan eksplorasi dilakukan.

Gunung Ungaran yang Menyimpan Potensi Energi Besar

Gunung Ungaran selama ini lebih dikenal sebagai destinasi wisata alam dan pendakian dibanding kawasan energi panas bumi.

Gunung yang berada di wilayah administratif Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal tersebut memiliki puncak tertinggi di Puncak Banteng Raiders dengan ketinggian sekitar 2.050 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Dari pusat Kota Semarang atau kawasan Simpang Lima, jarak menuju kawasan Gunung Ungaran sekitar 40 kilometer dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu hingga satu setengah jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Selain menyuguhkan panorama alam pegunungan, kawasan ini juga dikenal memiliki sejumlah manifestasi panas bumi alami yang selama bertahun-tahun menjadi petunjuk adanya cadangan energi di bawah permukaan tanah.

Beberapa titik yang paling dikenal berada di kawasan Gedongsongo, Nglimut, dan Diwak. Di lokasi tersebut ditemukan sumber air panas alami dengan suhu berkisar antara 38 hingga 45 derajat Celsius.

Keberadaan sumber air panas tersebut menjadi salah satu indikator aktivitas sistem panas bumi di bawah Gunung Ungaran.

Para peneliti menilai kawasan lereng selatan Gunung Ungaran hingga area sekitar Candi Gedongsongo menjadi wilayah yang memiliki prospek paling menjanjikan untuk pengembangan energi panas bumi.

Investasi Rp5,3 Triliun

Besarnya potensi panas bumi di Gunung Ungaran juga tercermin dari nilai investasi yang disiapkan.

Dinas ESDM Jawa Tengah memperkirakan investasi untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran mencapai 300 juta dolar AS atau sekitar Rp5,3 triliun.

Nilai investasi tersebut mencakup tahapan eksplorasi hingga pembangunan fasilitas pembangkit listrik.

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, PLTP Gunung Ungaran diproyeksikan mulai beroperasi pada awal dekade berikutnya dan menjadi salah satu pembangkit energi terbarukan terbesar di Jawa Tengah.

Menopang Target Energi Hijau Jawa Tengah

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menaruh harapan besar terhadap proyek ini karena dapat membantu meningkatkan porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi daerah.

Saat ini, bauran EBT Jawa Tengah telah mencapai 22,3 persen pada 2025 atau melampaui target Rencana Umum Energi Daerah (RUED) yang sebesar 21,32 persen.

Menurut Dwi, apabila PLTP Gunung Ungaran beroperasi dengan kapasitas sekitar 55 MW, kontribusinya dapat mencapai sekitar 4 hingga 5 persen terhadap total bauran energi terbarukan Jawa Tengah.

Sebagai perbandingan, PLTP Dieng yang telah beroperasi dengan kapasitas sekitar 70 MW saat ini menyumbang sekitar 6 persen bauran EBT provinsi.

Selain Gunung Ungaran, pemerintah juga terus mendorong pengembangan potensi panas bumi di sejumlah wilayah lain seperti Baturraden, Guci, Umbul Telomoyo, dan Jenawi.

"Dieng sudah operasi, Gunung Ungaran sedang berproses. Untuk wilayah lain masih dalam berbagai tahapan pengembangan," kata Dwi.

Bisa Bersaing dengan Batu Bara

Pemerintah menilai panas bumi akan menjadi salah satu tulang punggung transisi energi Indonesia karena mampu menghasilkan listrik selama 24 jam tanpa bergantung pada cuaca.

Berbeda dengan tenaga surya yang hanya optimal pada siang hari atau tenaga angin yang bergantung pada kecepatan angin, panas bumi dapat menyediakan pasokan listrik secara stabil sepanjang waktu.

Karena keunggulan tersebut, Eniya menilai panas bumi memiliki daya saing tinggi terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.

"Panas bumi sangat bisa bersaing dengan diesel maupun batu bara karena mampu menghadirkan listrik selama 24 jam," ujarnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.