TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Tengah (Jateng) mengakui masih ada temuan ketidaksesuaian data desil atau tingkat kesejahteraan masyarakat dalam sistem Data Tunggal Sosial dan Ekonomi (DTSEN). Ketidaksesuaian tersebut terungkap selepas petugas melakukan verifikasi data di lapangan.
"Iya, kami beberapa kali juga menemukan aduan-aduan yang tidak sesuai, ada beberapa yang memang kejadian tidak sesuai dengan kondisi nyatanya," ujar Pelaksana harian (Plh) Kepala Dinas Sosial Jawa Tengah, Isriadi Widodo kepada Tribun selepas konferensi pers pengajuan pahlawan nasional di rumah rakyat, kantor Gubernur Jateng, kota Semarang, Rabu (26/8/2026).
Isriadi menyebut, Ketidaksesuaian tersebut diperoleh dari hasil asesmen tenaga sosial yang ada di desa maupun di kecamatan. Mereka menemukan terdapat warga yang masuk desil sejahtera (6-10) ternyata selepas disurvei ulang masuk ke desil warga miskin (1-5).
Baca juga: Kebakaran Hutan di Wonosobo Bakar Seperempat Hektare Lahan Perhutani, 30 Pohon Pinus Hangus
Baca juga: Sejumlah Warga Banyumas Berangkat ke Jakarta, Ikut Aksi 27 Agustus Bareng AMPB
Ia mencontohkan kasus itu terjadi pada seorang warga yang memiliki rumah bagus tetapi ternyata sudah dijual. Meksi rumah dijual, pembeli rumah masih memperbolehkan warga tersebut tetap menghuninya. Rumah dijual untuk kebutuhan biaya berobat istrinya yang sakit parah dan anaknya disabilitas. "Sementara warga ini hanya bekerja sebagai penjual air isi ulang, kami akhirnya memutakhirkan data itu agar warga ini bisa memperoleh bantuan sosial (bansos)," katanya.
Meskipun ada temuan itu, Isriadi mengaku tidak tahu jumlah kesalahan data dalam sistem desil. Ia menyebut, petugas saat ini masih melakukan verifikasi terhadap data yang tidak sesuai tersebut. "(Ada ribuan data salah?),Belum bisa menyimpulkan," katanya.
Ia meminta masyarakat Jateng yang merasa data detailnya tidak seusai bisa mengajukan pemutakhiran kepada petugas Program Keluarga Harapan (PKH).
"Bisa diaplikasi atau datang ke pendamping PKH di kecamatan," terangnya.
Desil merupakan pengelompokan tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat yang dibagi ke dalam 10 tingkatan. Semakin rendah nilai desil artinya masuk kategori miskin (1-5) dan sebaliknya, desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi.
Merujuk data DTSEN per Juli 2026, sebanyak 19.865.120 warga Jateng masuk ke desil 1-5 dengan perincian desil 1 sebanyak 4.579.824 orang, desil 2 sebanyak 4.392.537, desil 3 sebanyak 3.765.588, desil 4 sebanyak 3.466.867, dan desil 5 ada 3.660.304 orang. Sementara desil 6-10 mencapai sebanyak 17.550.706 orang.
Dari data desil itu, kota Semarang menjadi daerah dengan jumlah warga miskin paling rendah yakni 3,8 persen, Kota Salatiga 4,2 persen, Kota Magelang 5,68 persen, Kabupaten Jepara 5,79 persen, dan Kota Pekalongan 6,14 persen. Sebaliknya, warga miskin paling banyak di Brebes mencapai 14,15 persen.
Bagi masyarakat Jateng yang merasa kesejahteraan ekonominya tidak seusia dengan desil dalam DTSEN, maka bisa melakukan pemutakhiran melalui dua cara. Langkah pertama, bisa berkoodinasi dengan kantor desa atau kelurahan setempat.
Cara lainnya, pemutakhiran bisa dilakukan secara mandiri melalui tautan https://dtsen-form.bps.go.id/login?redirect=/. (Iwn)