Jangan Hanya Obati Gejalanya
Ratino Taufik August 27, 2026 04:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - MUSIM kemarau sering kali dipandang secara sempit sebagai periode rawan bencana, mulai dari ancaman kekeringan hingga bahaya kebakaran hutan dan lahan. Namun, di balik berbagai dampak negatifnya, musim kering sejatinya menyimpan momentum yang sangat produktif bagi pengerjaan dan percepatan proyek-proyek infrastruktur publik.

Salah satu langkah konkret yang saat ini tengah digencarkan oleh Pemerintah Kota Banjarmasin adalah pengerukan endapan lumpur serta normalisasi alur sungai, seperti yang berlangsung di kawasan Pasar Rambai hingga Pulau Insan.

Langkah strategis ini tentu patut kita berikan apresiasi, sebab pemerintah daerah bertindak responsif dan proaktif memanfaatkan penurunan debit air untuk mengembalikan kedalaman ideal sungai sekaligus mengusir bau menyengat akibat penumpukan sedimen yang membusuk.

Kendati demikian, muncul sebuah pertanyaan mendasar yang krusial untuk direnungkan bersama: apakah pengerukan berkala di musim kemarau ini mampu menjadi jaminan mutlak bahwa Banjarmasin bakal terbebas dari ancaman banjir dan genangan air? Jawabannya tentu tidak.

Fenomena pendangkalan di Kota Seribu Sungai ini sejatinya merupakan persoalan sistemis dan kronis. Permasalahan lingkungan ini akan terus berulang dari tahun ke tahun jika penanganan yang dilakukan pemerintah hanya sibuk mengobati gejala di permukaan, tanpa pernah memberantas akar masalahnya secara tuntas.

Dosen Teknik Arsitektur Universitas Lambung Mangkurat, Dr Eng Akbar Rahman, menegaskan bahwa pendangkalan sungai bukanlah sekadar proses alami sedimentasi akibat pasang surut air semata. Ada bentuk intervensi manusia yang jauh lebih masif dan merusak di baliknya. Temuan nyata di lapangan menunjukkan bahwa pendangkalan parah dipicu oleh kebiasaan buruk oknum warga yang dengan santainya melempar kantong sampah langsung ke badan sungai.

Masalah pencemaran ini kian diperparah oleh masifnya pembangunan fisik yang abai terhadap daya dukung lingkungan. Penyempitan badan sungai akibat bangunan yang menjorok ke air serta menyusutnya daerah resapan membuat kapasitas sungai menampung air menurun drastis. Tanpa tindakan tegas dan penegakan hukum, pengerukan miliaran rupiah per tahun hanya akan sia-sia. Sungai akan kembali dangkal saat musim hujan tiba, dan genangan akan terus mengepung kota. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.