Liputan6.com, Jakarta - Nahdlatul Ulama (NU) telah melewati perjalanan panjang sejak didirikan pada 31 Januari 1926. Selama hampir satu abad, kepemimpinan organisasi Islam tersebut berganti dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Para tokoh yang memimpin NU datang dari latar belakang beragam. Sebagian merupakan ulama dan pengasuh pesantren, sementara lainnya juga memiliki kiprah dalam pemerintahan dan politik nasional.
Kini, kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ditempati KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Ia terpilih dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung pada Desember 2021.
Muktamar ke-35 NU akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026. Menjelang forum tersebut, sejumlah nama kembali muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.
Berikut perjalanan para Ketua Umum PBNU dari masa ke masa:
1. KH Hasan Gipo
KH Hasan Gipo menjadi tokoh pertama yang dipercaya memimpin Tanfidziyah NU setelah organisasi tersebut berdiri pada 1926.
Dilansir NU Online, Hasan Gipo merupakan saudagar asal Surabaya yang aktif dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Ia dipercaya mengurus Tanfidziyah, sementara KH Hasyim Asy'ari berada di posisi Rais Akbar.
Pada masa awal berdirinya NU, istilah Ketua Umum seperti yang digunakan saat ini belum dikenal. Struktur organisasi membagi peran antara Syuriyah dan Tanfidziyah.
Hasan Gipo tercatat berada di jajaran pimpinan hingga 1929. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan KH Ahmad Noor.
2. KH Ahmad Noor
KH Ahmad Noor menjadi penerus Hasan Gipo dan tercatat memegang posisi pimpinan NU pada 1929-1937.
Ahmad Noor merupakan salah satu tokoh NU generasi awal yang berasal dari Surabaya. Namanya tercatat ketika NU mulai memperluas jaringan organisasi ke berbagai daerah.
Informasi mengenai kehidupan dan kiprahnya tidak sebanyak para pemimpin NU setelahnya. Dilansir NU Online, makam Ahmad Noor berada di kawasan Sawahpulo, Surabaya.
Pada 1937, kepemimpinan NU memasuki era KH Mahfudz Siddiq.

3. KH Mahfudz Siddiq
KH Mahfudz Siddiq dipercaya memimpin PBNU pada 1937-1946. Ia termasuk tokoh muda yang mendapat kepercayaan besar dalam organisasi.
Dilansir NU Online, Mahfudz Siddiq bahkan menjadi Ketua PBNU ketika usianya sekitar 30 tahun. Ia berasal dari Jember, Jawa Timur.
Masa kepemimpinannya berlangsung ketika Indonesia mengalami berbagai perubahan besar, mulai dari pendudukan Jepang hingga periode menjelang kemerdekaan.
Pada 1946, kepemimpinan PBNU berlanjut kepada KH Nahrawi Thohir.
4. KH Nahrawi Thohir
KH Nahrawi Thohir memegang posisi Ketua PBNU pada 1946-1951. Ia merupakan ulama asal Bungkuk, Singosari, Malang.
Ia memimpin NU pada periode awal Indonesia mempertahankan kemerdekaan, ketika situasi nasional masih dipenuhi berbagai gejolak dan perubahan.
Nahrawi Thohir juga memiliki latar belakang pesantren dan menjadi salah satu ulama yang mengisi perjalanan NU pada masa awal Republik Indonesia.
Setelah masa baktinya berakhir pada 1951, kepemimpinan PBNU beralih kepada KH Abdul Wahid Hasyim.
5. KH Abdul Wahid Hasyim
KH Abdul Wahid Hasyim menjabat Ketua PBNU pada 1951-1954. Ia merupakan putra KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU.
Selain aktif di NU, Abdul Wahid Hasyim memiliki kiprah dalam pemerintahan. Ia pernah dipercaya menjadi Menteri Agama dan terlibat dalam berbagai proses penting pada masa awal Republik Indonesia.
Ia tumbuh di lingkungan pesantren dan sejak muda aktif dalam kegiatan keagamaan. Latar belakang tersebut turut membentuk kiprahnya dalam organisasi dan kehidupan kebangsaan.
Abdul Wahid Hasyim meninggal dunia pada 1953 akibat kecelakaan. Setelah itu, posisi Ketua PBNU dilanjutkan KH Muhammad Dahlan.
6. KH Muhammad Dahlan
KH Muhammad Dahlan menjadi Ketua PBNU pada 1954-1956. Ia merupakan ulama asal Pasuruan yang telah lama berkecimpung di lingkungan NU.
Selain berorganisasi, Muhammad Dahlan juga terlibat dalam pemerintahan. Ia pernah dipercaya menjadi Menteri Agama pada era Presiden Soekarno.
Masa kepemimpinannya di PBNU berlangsung sekitar dua tahun sebelum kemudian dilanjutkan KH Idham Chalid.
7. KH Idham Chalid
KH Idham Chalid memimpin PBNU pada 1956-1984. Dengan masa kepemimpinan sekitar 28 tahun, ia tercatat sebagai salah satu tokoh dengan masa jabatan terlama dalam sejarah NU.
Idham Chalid tidak hanya aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga memiliki perjalanan panjang di dunia politik nasional. Ia pernah menjadi Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Selama hampir tiga dekade memimpin, Idham Chalid melewati berbagai perubahan politik di Indonesia dan dinamika hubungan NU dengan kehidupan politik nasional.
Pada 1984, kepemimpinan PBNU beralih kepada KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

8. KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memimpin PBNU pada 1984-1999. Ia merupakan cucu KH Hasyim Asy'ari dan berasal dari keluarga besar NU.
Gus Dur dikenal melalui pemikirannya mengenai demokrasi, pluralisme, kemanusiaan, dan kehidupan berbangsa. Gagasannya berkembang tidak hanya di lingkungan NU, tetapi juga dalam percakapan politik dan sosial nasional.
Setelah sekitar 15 tahun memimpin NU, kiprah politik Gus Dur semakin besar. Pada 1999, ia terpilih sebagai Presiden keempat Republik Indonesia.
Pada tahun yang sama, KH Ahmad Hasyim Muzadi dipercaya melanjutkan kepemimpinan PBNU.
9. KH Ahmad Hasyim Muzadi
KH Ahmad Hasyim Muzadi menjabat Ketua Umum PBNU pada 1999-2010. Ia memimpin organisasi ketika Indonesia memasuki era Reformasi.
Sebelum berada di tingkat pusat, Hasyim Muzadi telah lama berkecimpung dalam struktur NU. Ia juga pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Timur.
Pada periode tersebut, NU menghadapi perubahan politik dan sosial setelah berakhirnya Orde Baru. Organisasi juga beradaptasi dengan situasi nasional yang berubah.
Setelah dua periode kepemimpinan, kursi Ketua Umum PBNU beralih kepada KH Said Aqil Siroj pada 2010.
10. KH Said Aqil Siroj
KH Said Aqil Siroj dipercaya menjadi Ketua Umum PBNU pada 2010-2021. Ia menjalankan dua periode kepengurusan sebelum digantikan dalam Muktamar ke-34 NU.
Said Aqil memiliki latar belakang pendidikan Islam dan dikenal sebagai ulama sekaligus akademisi. Ia menempuh pendidikan di sejumlah lembaga keislaman, termasuk di Arab Saudi.
Pada masa kepemimpinannya, NU menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang semakin cepat. Pendidikan, sosial, keagamaan, dan kebangsaan menjadi bagian dari agenda organisasi.
Muktamar ke-34 NU di Lampung pada Desember 2021 kemudian memilih KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU.
11. KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung pada Desember 2021. Ia memperoleh 337 suara.
Salah satu agenda besar pada masa kepemimpinannya adalah penyusunan roadmap NU untuk 25 tahun ke depan. Dokumen tersebut dirancang sebagai arah jangka panjang bagi organisasi, lembaga, dan badan otonom NU.
Perjalanan kepengurusannya juga diwarnai dinamika internal. Pada November 2025, sempat muncul keputusan Syuriyah terkait pemberhentian Gus Yahya. Posisi tersebut kemudian dipulihkan pada Januari 2026 setelah melalui proses internal organisasi.
Menjelang Muktamar ke-35 NU, Gus Yahya kembali masuk dalam bursa calon Ketua Umum. Selain petahana, sejumlah nama lain turut disebut, antara lain KH Abdul Ghaffar Rozin, KH Zulfa Mustofa, KH Yusuf Chudlori, KH Nasaruddin Umar, KH Abdussalam Shohib, KH Abdul Hakim Mahfudz, dan Hery Haryanto Azumi.
Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026 akan menjadi forum yang menentukan siapa yang mendapat mandat memimpin PBNU untuk periode berikutnya.