BANJARMASINPOST.CO.ID - Pengalaman membanggakan dirasakan Farid Wajidi, Kepala Desa Banua Halat Kiri, Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan.
Farid terpilih mewakili Kalimantan dalam program pelatihan kader desa membangun yang digelar melalui kerja sama Kementerian Pertanian Cina dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia.
Bersama 26 kepala desa lainnya dari berbagai daerah di Indonesia, Farid berkesempatan mengunjungi sejumlah wilayah di Negeri Tirai Bambu, termasuk melihat langsung bagaimana desa di sana mengembangkan potensi pertanian, perkebunan hingga pariwisata.
"Alhamdulillah, Ulun mewakili Kalimantan, dari Tapin. Ini periode pertama kerja sama antara Kementerian Pertanian Tiongkok dengan Kementerian Desa," ujar Farid, Rabu (26/8).
Perjalanan dimulai dari Shanghai. Selama sekitar tujuh hari, para kepala desa mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran dan seminar.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Yunnan. Perjalanan dari Shanghai menuju Yunnan ditempuh sekitar tiga jam menggunakan pesawat.
Farid bahkan mengaku harus beradaptasi dengan udara dingin di kawasan tersebut. "Di kota kedua, Yunnan itu dingin. Daerah pegunungan. Sampai kadang bibir pecah-pecah dan berdarah karena dingin, walaupun siang," katanya.
Baca juga: Terkendala Bangunan Warga, Pemko Banjarmasin Berencana Membuka Kembali Akses Sungai Mati
Di wilayah yang dikenal dengan kawasan pegunungannya itu, mereka kembali mengikuti pelatihan sekaligus melihat langsung aktivitas masyarakat desa. Tak hanya duduk di ruang seminar, peserta juga diajak mengunjungi sejumlah desa yang dinilai berhasil mengembangkan potensi wilayahnya.
Farid menyebut, ada desa yang dikenal sebagai desa terbaik, kawasan pertanian unggulan, perkebunan mawar, hingga lokasi pengolahan tepung berbahan teratai.
Ada pula desa yang berhasil mengelola sektor pariwisata sehingga menjadi daya tarik bagi masyarakat luas. "Pengalaman kami di sana sangat banyak. Kami melihat langsung bagaimana desa mengelola potensi yang ada sehingga bisa berkembang," katanya.
Bagi Farid, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga yang bisa dibawa pulang dan disesuaikan dengan kondisi Desa Banua Halat Kiri.
Menurut dia, salah satu hal menarik dari kunjungan tersebut adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat desa di Cina mampu mengembangkan potensi lokal menjadi sumber ekonomi.
Peserta pelatihan juga bukan sembarang kepala desa. Farid menyebut, sebagian peserta merupakan pengurus organisasi pemerintahan desa tingkat nasional maupun daerah. "Teman-teman yang berangkat merupakan orang-orang terpilih dari kabupaten atau provinsinya masing-masing," ungkapnya.
Selama mengikuti pelatihan, Farid mengaku tidak menemukan kendala berarti. Tantangan terbesar justru persoalan bahasa, sementara untuk mendampingi puluhan peserta dari Indonesia, hanya tersedia dua orang penerjemah.
Padahal, para narasumber yang memberikan materi berasal dari berbagai kalangan, mulai akademisi hingga tenaga ahli dan pemerintahan Cina. "Untuk narasumber kami di sana, paling rendah titelnya doktor. Ada juga pengajar dari Amerika, orang Cina, dosen-dosen kampus di Cina dan tenaga ahli dari pemerintahan," jelasnya.
Selain bahasa, persoalan makanan juga menjadi pengalaman tersendiri. Masakan yang disajikan dinilai cukup berbeda dengan makanan Indonesia. Bahkan, nasi bukan makanan pokok utama masyarakat di wilayah yang mereka kunjungi.
Namun, perjalanan selama 23 hari itu baginya bukan sekadar pengalaman bepergian ke luar negeri. Bagi Farid, kesempatan tersebut menjadi ruang belajar untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah desa bisa berkembang dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
(banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid)