Terlibat Ketegangan, Dua Kubu Keraton Solo Memanas di Momen Grebeg Maulud
M Syofri Kurniawan August 27, 2026 07:10 AM

TRIBUNJATENG.COM, SOLO – Dua kubu Keraton Kasunanan Surakarta terlibat ketegangan saat menggelar Grebeg Maulud secara beriringan, Rabu (26/08/2026).

Prosesi adat peringatan Nabi Muhammad SAW itu diwarnai dugaan sabotase hingga adu mulut antarpendukung kedua kubu.

Ketegangan terjadi setelah kubu Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi dan kubu Sinuhun Pakubuwono XIV Purboyo sama-sama menggelar prosesi pemberangkatan gunungan.

Kubu Hangabehi lebih dahulu memberangkatkan dua pasang gunungan. Setelah itu, giliran kubu Purboyo memberangkatkan dua pasang gunungan. 

acara gerebeg maulud di Keraton Solo
GREBEG MAULUD - Dua kubu Keraton Kasunanan Surakarta menggelar Grebeg Maulud secara beriringan, Rabu (26/8). Prosesi adat ini diwarnai ketegangan antarkubu.

Namun, suasana memanas setelah prosesi pemberangkatan gunungan dari kubu Purboyo.

Ketegangan terjadi antara Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Hangabehi GKR Koes Moertiyah Wandansari dengan abdi dalem niaga Sinuhun Purboyo di Sasana Handrawina.

Adik GKRP Timoer, GKR Dewi Ratih Widyasari, kemudian mendatangi lokasi dan disebut ikut membela abdi dalem dari kubu Purboyo.

"Ya Gusti Moeng tiba-tiba mendatangi niaga kami karena seperti biasa sering sekali mengintimidasi marah-marah. Makanya sama Gusti Ratih dihalau. Tadi acaranya beliau, kami tidak mengganggu, jadi jangan mengganggu kami lah," jelas Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purboyo Purboyo GKRP Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, Rabu (26/08/2026).

Ketegangan itu kemudian diwarnai aksi tepuk tangan dari pihak kubu Purboyo yang dinilai sebagai bentuk sindiran terhadap GKR Wandansari.

"Kendalanya itu kami belum selesai sudah ada yang 'tantrum', teriak-teriak. Saya ikut-ikut aja yang tepuk tangan. Bude Ratu dan Ibu sama, ikut aja," tuturnya.

Sebelum ketegangan tersebut, kubu Purboyo juga mengaku mengalami kendala dalam persiapan prosesi Grebeg Maulud.

Timoer menyebut pemukul gamelan tiba-tiba tidak ada saat hendak digunakan untuk mengiringi prosesi.

"Ternyata di sisi lain pemukul gamelan itu sepertinya nggak tahu ya, pokoknya nggak ada aja. Gamelan kita bawa dari sini. Memang ya menurut saya itu sabotase," ungkapnya saat ditemui di Talang Paten.

Menurutnya, seluruh pemukul Gamelan Monggang, Carabalen, dan sejumlah gamelan sakral di Paningrat tiba-tiba tidak ditemukan.

"Semuanya yang Monggang, Carabalen, semua gamelan yang di Paningrat itu semua nggak ada tabuhannya," jelasnya.

Kubu Purboyo kemudian menggunakan Gamelan Carabalen untuk mengiringi Grebeg Maulud.

Sementara kubu Hangabehi menggunakan Gamelan Kyai Guntur Sari yang berada di Bangsal Sekaten.

"Kalau Guntur Sari ada di Bangsal Sekaten itu. Yang tadi kan dibawa Carabalen. Cuma ya itu tabuhnya semua tidak ada. Kebetulan kami mengantisipasi. Alhamdulillah lancar," jelas Timoer.

Di sisi lain, GKR Wandansari membenarkan pihaknya sengaja meminta agar kubu Hangabehi memberangkatkan gunungan terlebih dahulu.

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya persoalan saat prosesi.

"Ini kami mulai lebih dulu. Sudah semalam saya begitukan. Daripada malah jadi masalah," tuturnya.

Ia bahkan berharap kubu Purboyo tidak lagi menggelar prosesi adat pada Grebeg Maulud tahun depan. Menurut GKR Wandansari, Purboyo perlu membuktikan identitasnya sebagai putra Sinuhun Pakubuwono XIII untuk mendapatkan hak menggelar prosesi adat.

"Harapannya, mereka sudah nggak lagi nanti di Grebeg yang akan datang. Kalau dia ngeyel, ya sudah seperti yang selalu kami sampaikan, mereka harus menunjukkan identitas yang sebenarnya dengan tes DNA," jelas GKR Wandansari. (Tribun Solo/Ahmad Syarifudin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.