Opini: Di Balik Reruntuhan, Ada Wajah Sesama
Dion DB Putra August 27, 2026 07:19 AM

Oleh: Fr. Rafael Lumintang, OCD
Frater TOP di Biara Novisiat OCD Bogenga, Bajawa - Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Pada 15 Agustus 2026, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, meninggalkan kerusakan, kepanikan, dan luka yang tidak seluruhnya dapat dibaca melalui angka-angka statistik. 

Pemerintah mencatat ribuan gempa susulan setelah peristiwa tersebut, sementara proses pemulihan dan distribusi bantuan terus berlangsung. 

Tetapi di balik setiap laporan tentang rumah yang roboh, fasilitas yang rusak, dan masyarakat yang mengungsi, ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar data yakni, ada manusia yang sedang kehilangan sebagian dari dunianya. 

Baca juga: Opini: Strategi Catur Melawan Karhutla

Sebab rumah bukan hanya bangunan; di dalamnya tersimpan kenangan, rasa aman, keluarga, dan kehidupan. Maka ketika gempa merobohkan dinding-dinding itu, yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya kekuatan tanah, melainkan juga kekuatan hati manusia untuk hadir bagi manusia lainnya.

Dalam situasi seperti inilah kalimat Kristus, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39), menemukan kedalaman maknanya. Kasih tidak lagi cukup menjadi kata yang indah di bibir atau doa yang selesai diucapkan di hadapan altar. 

Kasih harus turun ke jalan, menyentuh luka, mengangkat beban, dan hadir di tempat ketika manusia sedang kehilangan daya untuk berdiri. Karena itu, kami, Para Pastor dan Frater OCD Indonesia, berusaha mengambil bagian dalam gerak kecil kemanusiaan ini. 

Kami menerima kebaikan yang dipercayakan oleh para donatur, lalu meneruskannya kepada saudara-saudari yang terdampak gempa bumi di Flores. 

Bantuan itu bukanlah milik kami; kami hanyalah jembatan kecil yang mempertemukan kemurahan hati mereka yang memberi dengan kebutuhan mereka yang sedang mengalami penderitaan. Di antara tangan yang memberi dan tangan yang menerima, ada sebuah pesan sederhana, “engkau tidak sendirian.”

Dalam moment ini, saya termenung dan mengingat sosok seorang filsuf yang bernama Emmanuel Levinas. 

Bagi Levinas, etika tidak pertama-tama lahir dari teori, aturan, atau perhitungan tentang apa yang menguntungkan, melainkan dari perjumpaan dengan wajah sesama. Wajah orang lain menghadirkan suatu panggilan yang mendahului perhitungan kita; aku dipanggil untuk bertanggung jawab terhadap yang lain. 

Maka, wajah korban gempa bumi di Flores bukan sekadar wajah seseorang yang membutuhkan bantuan; ia adalah wajah yang mengetuk pintu batin kita dan bertanya: apa yang akan engkau lakukan terhadap penderitaanku? 

Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban yang panjang. Ia membutuhkan keberanian untuk hadir. 

Dalam pengertian ini, membantu bukan sekadar memberikan sesuatu kepada orang lain, melainkan membiarkan penderitaan orang lain mengganggu kenyamanan kita, merobek sedikit egoisme kita, dan mengubah kita menjadi manusia yang bersedia bertanggung jawab.

Maka setiap paket bantuan yang kami teruskan sesungguhnya membawa cerita tentang kasih yang jauh lebih besar daripada benda-benda di dalamnya. 

Ada tangan para donatur yang mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan para korban, tetapi memilih untuk berbagi dari apa yang mereka miliki. 

Ada kepercayaan yang dititipkan kepada kami, ada perjalanan yang ditempuh, ada kebutuhan yang diperhatikan, dan ada wajah-wajah yang akhirnya menerima. 

Dalam atmosfir kecil kebaikan itu, kami belajar bahwa solidaritas tidak selalu lahir dari kedekatan geografis. Seseorang dapat berada jauh dari Flores, tetapi hatinya mampu tiba lebih dahulu di sana. 

Seseorang dapat tidak mengenal nama korban, tetapi tetap memilih untuk peduli. Kebaikan memiliki cara sendiri untuk melampaui jarak. Ia bergerak dari hati ke hati, dari tangan ke tangan, hingga akhirnya menjadi tanda bahwa kemanusiaan belum kehilangan wajahnya.

Namun, kepedulian tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat. Reruntuhan dapat dibersihkan, rumah dapat dibangun kembali, jalan dapat diperbaiki, tetapi luka batin manusia membutuhkan waktu yang lebih panjang. 

Karena itu, solidaritas harus menjadi lebih daripada respons spontan terhadap bencana, ia harus menjadi habitus kemanusiaan. 

Dalam perspektif Levinas, wajah yang lain menginterupsi kenyamanan “aku” dan memanggilku keluar dari dunia yang hanya berpusat pada diriku sendiri. 

Di hadapan penderitaan, pertanyaan terpenting bukan lagi “Apa yang masih kumiliki?”, melainkan “Apa yang dapat kuberikan?” Di situlah kasih berubah dari perasaan menjadi tanggung jawab, dari simpati menjadi solidaritas, dan dari kata menjadi tindakan.

Barangkali kita tidak mampu menghentikan gempa. Kita tidak dapat mengembalikan seketika rumah-rumah yang telah runtuh, menghapus ketakutan yang masih tinggal, atau mengembalikan keadaan seperti sebelum bencana. 

Tetapi kita dapat melakukan sesuatu yang sangat manusiawi yaitu dengan “suatu kehadiran yang otentik.” 

Sekali lagi, Para Pastor dan Frater OCD Indonesia, melalui bantuan yang dipercayakan para donatur, hanyalah salah satu bagian kecil dari gerak besar solidaritas bagi saudara-saudari di Pulau Flores. 

Pemerintah, relawan, tenaga kesehatan, masyarakat, komunitas keagamaan, dan banyak pihak lainnya juga terus mengambil bagian dalam pemulihan. 

Pada akhirnya, inilah makna terdalam dari refleksi kecil dan sederhana saya terhadap gempa bumi yang melanda Pulau Flores, “Di Balik Reruntuhan, Ada Wajah Sesama.” 

Reruntuhan mengajarkan kita bahwa tidak ada bangunan yang sepenuhnya kekal, tetapi wajah sesama mengingatkan bahwa kasih dapat membangun kembali apa yang dihancurkan oleh bencana. 

Di balik debu, ada mata yang berharap; di balik rumah yang roboh, ada keluarga yang menanti; di balik tangan yang gemetar, ada kebutuhan untuk digenggam. 

Di hadapan wajah itu, kita dipanggil untuk berkata bukan dengan banyak kata, melainkan dengan tindakan: “Aku melihatmu. Aku mendengarmu. Aku tidak membiarkanmu berjalan sendirian.” 

Sebab pada akhirnya, ukuran terdalam dari kemanusiaan bukanlah seberapa tinggi kita mampu membangun tembok untuk melindungi diri, melainkan seberapa jauh kita bersedia meruntuhkan tembok egoisme agar dapat menjadi rumah bagi sesama. Pray For Flores. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.