Oleh: Jermi Haning
ASN di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Ada satu pengalaman menarik selama saya dan istri tinggal di Selandia Baru pada 2014-2020 yang sampai sekarang melekat. Kami sering merasakan gempa, tetapi justru merasa aman.
Pada awal kami tinggal di sana, kami mengalami shock budaya kegempaan. Ketika terjadi gempa, kami berdua lari terbirit-birit keluar rumah. Ini kebiasaan yang kami bawa dari Indonesia.
Anehnya, tidak ada tetangga kami yang ikut berlari ke luar rumah. Kami baru tahu belakangan kalau keluar rumah saat gempa itu justru berbahaya.
Benda yang jatuh seperti kaca, bagian bangunan, lampu jalan, atau benda lain bisa menimpa kita. Kami diminta untuk tetap berada di dalam rumah, dan lakukan Drop, Cover and Hold.
Itu bukan sekadar nasihat yang dibaca lalu dilupakan. Warga Selandia Baru menjalankannya sampai menjadi kebiasaan. Simulasi gempa dan kebakaran dilakukan secara rutin.
Baca juga: Opini: Di Balik Reruntuhan, Ada Wajah Sesama
Pemerintah menganjurkan Drop, Cover and Hold, latihan berkala, dan tetap berada di dalam bangunan sampai guncangan berhenti, kecuali bangunan menunjukkan tanda kerusakan serius atau berada di zona evakuasi tsunami.
Pengalaman itu mengubah kami. Pada awalnya kami takut, karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Beberapa saat kemudian, ketika gempa terjadi di tengah malam, kami bisa tetap tenang, bahkan kami tetap bisa tidur nyenyak.
Selandia Baru tidak bebas gempa. Ketenangan kami lahir dari bangunan yang kami percaya, prosedur yang kami hafal, dan latihan yang berulang.
Pelajaran pertama untuk Flores ada di sini. Rasa aman tidak datang dari tiadanya bahaya. Rasa aman datang dari masyarakat yang memahami bahaya itu.
Pada 12 Desember 1992, gempa Mw 7,7 mengguncang Flores dan menyebabkan tsunami.
Penelitian lanjutan dari Harry Yeh, Philip L.-F. Liu, Michael Briggs, dan Costas Synolakis (1994) berjudul "Propagation and amplification of tsunamis at coastal boundaries" yang dipublikasikan dalam jurnal Nature oleh Nature Publishing Group kemudian memperlihatkan bagaimana tsunami bisa menguat ketika mencapai kawasan pantai tertentu.
Sementara itu, Koji Minoura, Fumihiko Imamura, T. Takahashi, dan Nobuo Shuto (1997) dalam tulisan "Sequence of sedimentation processes caused by the 1992 Flores tsunami: Evidence from Babi Island" di jurnal Geology karangan Geological Society of America memakai bukti endapan di Pulau Babi untuk merekonstruksi urutan proses tsunami itu.
Flores 1992 adalah laboratorium ilmiah. Catatan korbannya sudah kita hafal di luar kepala. Yang belum kita gali cukup dalam adalah data ilmiahnya.
Pada 15 Agustus 2026, Flores kembali diguncang gempa M7,7. BMKG (2026) menjelaskan bahwa gempa ini bersumber dari aktivitas tektonik di zona Sesar Naik Belakang Busur Flores, struktur yang punya sejarah menghasilkan gempa besar dan tsunami.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat puluhan ribu rumah rusak. Angka ini penting untuk bantuan dan rekonstruksi, tapi tidak boleh menjadi titik akhir pendataan.
Lalu, apa yang harus digali lebih dalam? Mengapa rumah itu rusak, dan mengapa rumah di sebelahnya tidak?
Setiap rumah rusak harus didata berdasarkan: 1) jenis struktur, 2) material, 3) umur bangunan, 4) fondasi, 5) hubungan kolom-balok-dinding, 6) kondisi tanah, 7) lokasi, dan 8) pola kerusakannya.
Rumah yang tidak rusak, atau hanya rusak ringan, harus dicatat dengan keseriusan yang sama. Apa yang membuatnya bertahan? Desain, material, teknik tukang, fondasi, kondisi tanah, atau kombinasi semuanya?
Secara teoritis, bencana besar seperti gempa 1992 dan 2026 bekerja sebagai focusing events sebagaimana dirumuskan oleh John W. Kingdon (1984) dalam bukunya "Agendas, Alternatives, and Public Policies", serta Thomas A. Birkland (1997) melalui buku "After Disaster: Agenda Setting, Public Policy, and Focusing Events"—yakni peristiwa mengejutkan yang tiba-tiba menyedot perhatian publik dan pembuat kebijakan, lalu membuka "jendela kesempatan" (policy window) untuk merombak aturan lama.
Tanpa focusing events, isu mitigasi sering kali tenggelam oleh agenda pembangunan ekonomi jangka pendek. Ini menjelaskan mengapa pertanyaan Jonatan Lassa, Erwin Sina, dan Yaap Talan (2022) tentang apakah Flores belajar dari gempa 1992 menjadi sangat krusial secara analisis kebijakan: apakah sebuah peristiwa besar berhasil memicu policy learning atau sekadar lewat sebagai bencana yang berulang?
Tanpa kelembagaan yang secara khusus memproses data bencana menjadi pengetahuan publik, kita terjebak dalam lesson-drawing yang superfisial.
Di sinilah usulan pendirian Pusat Studi Gempa dan Ketahanan Flores menemukan rasionalitas kebijakan utamanya.
Pusat ini berfungsi sebagai mesin policy learning lokal yang mengolah data teknis dan sosial pascabencana menjadi dasar regulasi tata ruang, standar teknis konstruksi lokal, dan kurikulum kebencanaan.
Lebih jauh, semangat rekonstruksi pascagempa 2026 harus memeluk prinsip Build Back Better sebagaimana dimandatkan oleh Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengurangan Risiko Bencana dalam Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030 (UNDRR, 2015).
Menariknya, konsep Build Back Better ini secara historis mengakar kuat dari pengalaman rekonstruksi Aceh-Nias pascatsunami 2004, di mana Indonesia membuktikan kepada dunia bahwa pemulihan tidak boleh sekadar mengembalikan kerentanan lama, tetapi membangun kembali struktur fisik dan sosial yang lebih tangguh.
Pertanyaan yang mereka buka harus dijawab secara sistematis oleh peneliti di Flores sendiri.
Maka, Flores membutuhkan Pusat Studi Gempa dan Ketahanan Flores di universitas-universitasnya. Pusat ini bisa menggabungkan geologi, teknik sipil, arsitektur, kebencanaan, sosial, ekonomi, dan kebijakan publik.
Pusat ini membangun database gempa, mendokumentasikan rumah yang rusak dan yang selamat, serta meneliti tanah, bangunan, tsunami, evakuasi, dan pemulihan.
Ada satu gagasan yang perlu masuk dalam rekonstruksi 2026: jangan semua bukti segera dihapus.
Bangunan yang membahayakan tentu harus diamankan atau dibongkar. Tapi bangunan tertentu yang aman dan punya nilai ilmiah layak dipertahankan sebagai "monumen pembelajaran gempa". Rumah yang bertahan bisa dipilih sebagai living laboratory.
Bayangkan satu desa memelihara beberapa rumah, bukan sebagai museum mati, tapi sebagai kelas terbuka. Mahasiswa teknik mempelajari strukturnya.
Mahasiswa geologi mempelajari tanahnya. Mahasiswa arsitektur mempelajari desainnya. Masyarakat mempelajari teknik konstruksinya. Anak sekolah melihat langsung: mengapa rumah ini tetap berdiri ketika gempa terjadi?
Bangunan itu menjadi buku yang hidup.
Ada praktik lain yang saya baca langsung di papan informasi bangunan, saat berkunjung ke Christchurch, kota yang hancur oleh gempa 2011.
Pada sejumlah bangunan di sana tertera informasi singkat: gempa apa yang pernah dialami bangunan itu, berapa kekuatannya, dan tahun berapa. Bangunan menyimpan riwayatnya sendiri, dan riwayat itu dibaca setiap orang yang lewat di depannya.
Flores bisa memulai kebiasaan yang sama, dengan satu tambahan yang lebih penting untuk masa depan. Bangunan publik yang dibangun kembali pascagempa 2026 semestinya mencantumkan informasi kekuatan gempa maksimum yang mampu ditahan strukturnya, bukan hanya papan nama proyek dan sumber anggaran.
Sekolah, kantor desa, puskesmas, dan balai pertemuan warga perlu punya angka itu terpampang jelas di dindingnya, supaya masyarakat tahu batas keamanan bangunan yang mereka pakai setiap hari, bukan sekadar percaya begitu saja.
Jonatan Lassa, Erwin Sina, dan Yaap Talan (2022) dalam tulisan "30 tahun lalu gempa dan tsunami merusak Flores: Apakah mitigasi risiko di sana kini lebih baik?" di The Conversation Indonesia sudah mempertanyakan sejauh mana Flores belajar dari bencana 1992.
Sekarang, tiga puluh tahun kemudian dan setelah gempa 2026, jawabannya harus lebih ambisius.
Flores tidak cukup menjadi wilayah yang tahan gempa. Flores harus menjadi wilayah yang pakar gempa.
"Pakar" di sini tidak berarti setiap orang harus jadi seismolog. Maksudnya membangun ekosistem kepakaran: ilmuwan, insinyur, arsitek, teknisi, tukang, guru, pemerintah desa, dan masyarakat yang paham cara hidup di wilayah gempa.
Selandia Baru membangun budaya keselamatan itu lewat latihan yang diulang terus-menerus, sebagaimana dianjurkan oleh badan kebencanaan mereka sendiri. Flores bisa membangun budaya yang sama, ditambah pengetahuan lokal dan penelitian sendiri.
Dalam Kejadian 1:28, manusia menerima mandat untuk "penuhilah bumi dan taklukkanlah itu." Menaklukkan bumi, barangkali, berarti mengenal bumi, sehingga manusia bisa hidup aman dan bertanggung jawab di dalamnya.
Gempa 1992 adalah peringatan. Gempa 2026 adalah pengingat.
Maka: 1) jangan hanya mendata rumah yang roboh, data juga rumah yang bertahan dan cari tahu sebabnya; 2) sebelum memperbaiki bangunan, pelajari dulu bangunan itu; 3) pakar dari luar boleh membantu, tapi kepakaran harus tumbuh dari Flores sendiri.
Dari Flores harus lahir pengetahuan tentang gempa, bukan hanya cerita tentang korban gempa.
Flores tidak akan maju karena bebas gempa. Flores maju ketika masyarakatnya tahu cara hidup bersama gempa.