TRIBUNJOGJA.COM - Di sudut Desa Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, tumpukan batok kelapa yang sering diabaikan berhasil diolah menjadi kerajinan tangan bernilai ekonomi tinggi.
Di tangan para pengrajin di Yanti Bathok Craft, limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah sukses diterbangkan menjadi produk siap ekspor.
Dalam operasionalnya, rumah produksi ini digerakkan oleh sekitar tujuh orang karyawan yang bertugas memproses bahan mentah hingga barang jadi.
Kehadiran kerajinan batok ini berawal dari keresahan Yanti terhadap sisa konsumsi kelapa di warung-warung.
Sebelumnya, ia memiliki latar belakang sebagai penjual camilan seperti keripik pisang, emping melinjo, dan emping ketela.
Melihat batok kelapa berserakan, ia mulai memintanya ke warung-warung.
Para pemilik warung pun merespons dengan senang hati dan membiarkan Yanti membawa batok-batok kelapa tersebut secara cuma-cuma.
Perjalanan Menembus Pasar Global
Berdiri sejak tahun 2002, memulai branding pada 2010, dan pindah ke lokasi saat ini pada 2014, Yanti Bathok Craft merintis usahanya dari langkah paling sederhana.
"Pertama memang kita mengolah limbah yang waktu itu memang banyak dan tidak dipergunakan ya Mas," tutur Yanti.
Awalnya, batok yang dipecah (digepruk) memiliki potongan yang tidak beraturan.
Dari sana, ia menyortir bagian yang bisa dipegang untuk diproduksi massal menjadi kancing baju.
"Yang penting bisa dipegangin, itu kita bikin kancing-kancing baju dulu itu awalnya" imbuh Yanti.
Kancing tersebut diproduksi secara teliti dalam berbagai ukuran spesifik, mulai dari 1,3 cm, 1,5 cm, 1,7 cm, 2 cm, 2,5 cm, 3 cm, 3,5 cm, 4 cm, hingga 4,5 cm.
Target pasar pertama mereka adalah toko-toko di Pasar Beringharjo dan sejumlah konveksi pakaian.
Melihat potensi produksi yang terus meningkat, Disperindagkop yang saat itu dinasnya masih bergabung dalam satu atap mengajak mereka mengikuti Bantul Expo.
Di pameran ini, Yanti Bathok Craft mulai menerima pesanan custom dari tamu yang membawa foto maupun sampel barang secara langsung.
Setelah itu, mereka diajak pameran ke Jogja Expo Center dan mulai memproduksi gantungan kunci, bros, tas, pigura, dompet, boks tisu, taplak meja, hingga kap lampu.
Agar bisa terus naik kelas, dinas pun mendorong mereka mengurus legalitas usaha berupa Nomor Induk Berusaha (NIB) dan NPWP.
Pintu pasar semakin terbuka lebar, mereka rutin mengikuti Inacraft, PPE (yang kini bernama Trade Expo Indonesia/TEI), serta pameran di Jakarta, Bali, Batam, hingga Papua.
Bahkan, Yanti Bathok Craft sukses menembus pameran internasional di Malaysia (2012) dan Venlo, Belanda (2013).
Kini, selain memasok galeri bergengsi seperti Bandara YIA, Malioboro, Bale Batik Besar, Dekranasda, dan Sarinah Jakarta, produk mereka dipasarkan secara online via TikTok, Instagram, dan WhatsApp Bisnis.
Untuk jangkauan pasar luar negeri, kerajinan dari Sewon ini rutin diekspor hingga ke Singapura, Prancis, dan Jamaika.
Yanti membeberkan, saat ada pesanan besar dari luar negeri seperti pesanan ke Jamaika, omzet kotor yang didapatkan bisa menyentuh angka Rp60 juta dalam kurun waktu pengerjaan tiga bulan.
Meski demikian, kondisi penjualan saat ini dirasa belum sepenuhnya stabil seperti sebelum masa pandemi Covid-19.
Jika sedang tidak ada pesanan besar, omzet yang masuk berkisar antara Rp5 juta hingga Rp7 juta per bulan, bahkan terkadang kurang.
Inovasi 'Zero Waste' dan Standar Tinggi
Seiring waktu, jumlah pengrajin mangkuk atau kerajinan batok kelapa di pasaran semakin menjamur.
Namun, Yani suami Yanti yang mengelola inovasi produksi tidak gentar.
Spesialisasi Yanti Bathok Craft terletak pada teknik rajutan batok, rencana inovasi pembuatan toples, dan jaminan material bersertifikasi food grade.
Ia menekankan pentingnya jeli dalam menyortir ketebalan dan kualitas batok sejak awal, sehingga produk penunjang makanan tidak sekadar menjadi barang hiasan, melainkan benar-benar aman digunakan.
Lebih dari itu, Yani menolak untuk membuang sisa produksi.
"Ini kan tempat saya kan limbah, sisa olahan. Kan ada limbah lagi," jelasnya sembari menunjukkan sisa potongan pola batok yang berlubang.
Untuk merealisasikan sistem zero waste (tanpa limbah), Yanti Bathok Craft bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), melibatkan kolaborasi riset dari fakultas kimia, biologi, fisika, hingga teknik mesin.
Limbah serbuk dan sisa pola tersebut dikolaborasikan bersama bahan polimer resin untuk dicetak kembali menjadi produk baru.
Selain ramah lingkungan, durabilitas produk juga menjadi keunggulan mereka.
"Tapi dibuat kualitas, jadi produk kita itu ya 10 tahun kadang masih bagus, makanya beli satu sampai lama nggak beli lagi," tegas Yani.
Berkat inovasi lingkungan dan kualitas produksi yang berjangka panjang ini, Yani dan Yanti tak sekadar menjadi pelaku usaha.
Mereka rutin membagikan ilmunya sebagai trainer atau narasumber bagi pengrajin lain hingga ke luar Pulau Jawa.
(MG Fauzan Ardana)