Kena Batunya! Sudah Diperingatkan, Trump Ngeyel Serang Iran, Kini AS Terjebak Perang Panjang
Aura Dewi Arafuru August 27, 2026 10:12 AM

- Presiden Amerika Serikat Donald Trump ternyata sudah mendapat peringatan soal risiko perang dengan Iran sebelum serangan dimulai.

Peringatan itu disampaikan pejabat intelijen dan militer AS beberapa hari sebelum serangan 28 Februari 2026 lalu.

Menurut laporan The Wall Street Journal pada Senin (24/8), Trump dan Benjamin Netanyahu saat itu menilai Iran berada pada kondisi terlemah.

Trump melihat situasi tersebut sebagai peluang menghancurkan program nuklir Iran, sekaligus memperkuat citranya sebagai pembawa perdamaian.

Namun, Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard justru memperingatkan adanya risiko besar jika perang benar-benar dimulai.

Menurut Gabbard, pembunuhan pemimpin tertinggi Iran bisa memunculkan rezim lebih keras dan terbuka terhadap senjata nuklir.

Pejabat AS juga memperkirakan Iran akan menutup Selat Hormuz dan menyerang pasukan di kawasan.

Para pemimpin militer turut mengingatkan perang bisa menelan korban, menguras senjata, dan memperburuk kesiapan militer AS.

Meski mendapat berbagai peringatan, Trump akhirnya memilih serangan setelah Pentagon menawarkan sejumlah opsi operasi kepada dirinya.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Jenderal Dan Caine beberapa kali memberikan pengarahan mengenai rencana tersebut.

Rencana itu mencakup serangan terhadap peluncur rudal, radar, fasilitas senjata, tempat penyimpanan ranjau, hingga kapal perang Iran.

Namun, Wakil Presiden AS JD Vance mendorong Trump lebih berhati-hati dan mempertimbangkan jalur perundingan.

Vance menilai negosiasi memang berisiko, tetapi konsekuensinya lebih kecil dibandingkan perang yang berkepanjangan.

Perkiraan Trump perang selesai enam minggu ternyata meleset, karena konflik berlangsung hampir enam bulan.

Selama perang, 18 personel militer AS diperkirakan tewas dan 756 lainnya mengalami luka-luka.

Konflik juga merusak pangkalan AS, menguras cadangan minyak, dan mengurangi persediaan amunisi negara tersebut.

Kini, tekanan politik ikut meningkat setelah penutupan Selat Hormuz dan kekhawatiran perang memengaruhi pemilu paruh waktu November.

Trump akhirnya beralih dari serangan militer menuju tekanan ekonomi usai rangkaian kesepakatan dan perundingan dengan Iran kembali runtuh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.