Tempat Tidur Layanan Kesehatan Mental RSD Prof. dr. Moeljono Surabaya Hampir Penuh, Capai 80 persen
Samsul Arifin August 27, 2026 10:14 AM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tingginya kebutuhan terhadap layanan kesehatan mental membuat kapasitas perawatan jiwa di RSD Prof. dr. Moeljono Surabaya menjadi perhatian.

Rumah sakit yang memiliki layanan khusus kesehatan jiwa tersebut menghadapi tingkat keterisian tempat tidur yang cukup tinggi, bahkan dalam kondisi tertentu hampir penuh setiap hari.

Direktur RSD Prof. dr. Moeljono, drg. Vitria Dewi, M.Si., mengatakan total kapasitas tempat tidur rumah sakit saat ini mencapai 400 unit.

Dari jumlah tersebut, 362 tempat tidur diperuntukkan bagi pasien layanan kesehatan jiwa, sedangkan 38 tempat tidur lainnya digunakan untuk layanan nonjiwa.

Tingkat keterisian tempat tidur layanan jiwa dapat mencapai sekitar 80 persen. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi rumah sakit ketika ada pasien baru yang membutuhkan penanganan segera.

“Kalau tempat tidurnya itu full terus, itu sebenarnya warning,” kata Vitria ketika ditemui di Gedung Manajemen RSD Prof. dr. Moeljono, Rabu (26/8/2026).

Baca juga: Kasus Kesehatan Mental Anak di RS Menur Surabaya Melonjak, Pasien Laki-laki Mendominasi

Rumah Sakit Berkomitmen Tidak Menolak Pasien

Vitria menjelaskan tingginya tingkat keterisian tempat tidur membuat rumah sakit harus menyiapkan sistem pelayanan yang mampu merespons kebutuhan pasien secara cepat. Terlebih, pasien yang datang membutuhkan penanganan tidak selalu dapat diprediksi.

RSD Prof. dr. Moeljono, kata Vitria, memiliki komitmen untuk tidak menolak pasien. Karena itu, rumah sakit terus melakukan berbagai penyesuaian agar masyarakat yang membutuhkan pertolongan tetap mendapatkan pelayanan sesuai kondisi medisnya.

Kondisi tersebut juga mendorong peningkatan kompetensi tenaga kesehatan serta pembenahan sarana dan prasarana pelayanan.

Menurut Vitria, penguatan tersebut diperlukan agar proses perawatan dapat berjalan lebih optimal dan pasien dapat kembali ke rumah setelah kondisinya benar-benar memenuhi standar medis.

Pasien Dipulangkan Setelah Kondisi Membaik

Vitria menegaskan upaya mempercepat perputaran tempat tidur bukan berarti pasien dipulangkan hanya karena rumah sakit membutuhkan ruang bagi pasien baru.

Pasien tetap menjalani perawatan hingga kondisi medisnya dinilai memungkinkan untuk melanjutkan pemulihan di rumah.

“Bukan dipulangkan karena platformnya tidak cukup terus pulang. Tapi memang dia sudah membaik, kondisinya memang dalam standar bahwa itu dia sudah bisa untuk pulang,” tegas Vitria.

Dengan demikian, keputusan pemulangan pasien tetap didasarkan pada kondisi kesehatan dan standar medis, bukan semata-mata karena keterbatasan kapasitas tempat tidur.

Pencegahan Kesehatan Mental Perlu Diperkuat

Tingginya kebutuhan layanan kesehatan jiwa juga menunjukkan bahwa penanganan persoalan kesehatan mental tidak dapat hanya mengandalkan rumah sakit. Menurut Vitria, pencegahan dan penanganan sejak dini di luar rumah sakit perlu terus diperkuat.

Upaya tersebut penting agar masyarakat, khususnya anak, dapat memperoleh pertolongan sebelum persoalan kesehatan mental berkembang menjadi kondisi yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.

Dengan memperkuat deteksi dan penanganan sejak awal, rumah sakit diharapkan tidak menjadi satu-satunya tempat bagi anak untuk mendapatkan pertolongan ketika persoalan kesehatan mental sudah berada pada kondisi berat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.