Asa LEH Artspace Tembi, Cuma Ingin Sediakan Ruang Seni yang Masuk Akal
Joko Widiyarso August 27, 2026 10:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Kawasan selatan Yogyakarta, tepatnya di Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, selama ini dikenal dengan penginapan dan kawasan budaya.

Namun, di balik identitas tersebut, tersimpan masalah mendasar bagi ekosistem kesenian lokal.

Minimnya ketersediaan ruang apresiasi dan produksi karya yang terjangkau bagi seniman muda.

Meski baru beroperasi selama satu tahun, kehadiran LEH Artspace yang dikelola Lilik, seorang seniman asal Pati sekaligus alumnus ISI Yogyakarta angkatan 1999, menjadi respons langsung atas masalah tersebut.

Setelah bertahun-tahun menetap di luar negeri dan kembali ke Indonesia, Lilik menyadari bahwa skena seni saat ini membutuhkan ruang-ruang independen skala kecil yang tidak membebani senimannya secara finansial.

Birokrasi dan Komersialisasi Seni

Alasan utama mengapa ruang untuk komunitas berkarya masih sangat sulit dijangkau berakar pada dua hal yakni birokrasi institusi pendidikan dan komersialisasi ruang galeri.

Jarak LEH Artspace yang dekat dengan kampus seni terbesar di Yogyakarta membuat Lilik sering mengamati pola kerja mahasiswa seni.

Secara teknis, proses pengerjaan karya seni, terutama rupa dan kriya, sering kali memakan waktu hingga larut malam bahkan dini hari.

Sayangnya, akses infrastruktur di dalam kampus sekarang tidak lagi sejalan dengan ritme kerja para seniman muda.

Menurut Lilik, pembatasan jam operasional kampus menjadi hambatan besar bagi proses kreatif.

"Karena accessibility di kampus itu sekarang dibatesi. Untuk mengakses studio, mengakses apa itu sekarang dibatasi setelah jam malam mereka nggak bisa. Sementara kenyataannya kan mereka ngerjain-nya kan harus melebihi waktu itu," ungkap Lilik.

Di sisi lain, ketika seniman muda atau mahasiswa jurusan Tata Kelola Seni mencoba mencari ruang alternatif di luar kampus untuk mengadakan pameran yang diwajibkan oleh kurikulum, mereka terbentur oleh komersialisasi.

Ruang-ruang pameran di Yogyakarta menjelma menjadi industri properti dengan tarif sewa yang tidak ramah di kantong mahasiswa.

"Ketika mereka menyewa ruang, menyewa tempat, mencari tempat itu costnya sangat tinggi sekali. satu minggu itu sampai empat juta," tambah Lilik.

Ruang Independen yang Melebur dengan Warga

Berangkat dari masalah tersebut, LEH Artspace didirikan dengan prinsip affordability atau keterjangkauan sebagai tujuan utama.

Nama "LEH" sendiri tidak diambil dari filosofi yang rumit.

Pemilihan nama ini murni sebagai penanda identitas dari pengelolanya.

Sebagai solusi atas sulitnya akses ruang, Lilik membebaskan biaya sewa bagi siapa saja yang ingin menggunakan LEH Artspace, baik untuk pameran, workshop, hingga ruang diskusi.

Secara manajerial, Lilik menerapkan pendekatan yang sangat praktis, sebuah pengelolaan yang murni dari rasa saling percaya.

"Silakan kalian manfaatkan, silakan kalian hidupkan, persyaratan saya cuman cuman mudah aja gitu. Saya nggak mencari profit atau apa-apa. Cuman ya itu tadi bayar listrik, kebersihan, dijaga dengan benar, datangnya seperti apa baliknya nanti seperti apa lagi," tegas Lilik.

Pendekatan organik tanpa kurasi yang kaku ini rupanya membuat ruang seni tersebut tidak menjadi tembok yang berjarak dengan warga sekitar.

Kehadiran LEH Artspace direspons positif oleh masyarakat Tembi.

Abu, salah satu warga lokal yang aktif di lingkungan tersebut, mengaku ruang kesenian ini menjadi titik baru yang menarik perhatian warga yang sedang beraktivitas sehari-hari.

Interaksi warga dengan ruang seni ini berjalan beriringan dengan kegiatan kesenian komunal yang sudah ada di Desa Tembi.

Saat ditemui di lokasi yang sama, Abu dan pemuda sekitar tengah sibuk mempersiapkan agenda budaya tahunan warga yang latihannya digelar di lapangan voli desa.

"17-an, pentas seni loh mas," jelas Abu.

Ke depannya, Lilik berencana untuk terus membuka akses LEH Artspace selebar mungkin tanpa campur tangan sponsor yang mengikat.

Rencana terdekatnya adalah menjadikan seluruh dinding ruang tersebut sebagai media pameran mural dan grafiti secara langsung tanpa bingkai atau kanvas.

Sebuah langkah yang mengukuhkan posisi LEH Artspace sebagai ruang produksi karya yang benar-benar terbuka, merespons langsung masalah akses ruang kreatif di Yogyakarta.

(MG Fauzan Ardana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.