SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Pengamat dari STISIPOL Candradimuka Palembang sekaligus mantan aktivis, Ade Indra Chaniago, menyoroti kondisi gerakan mahasiswa di Sumatera Selatan (Sumsel) yang dinilainya semakin melemah.
Menurut Ade, melemahnya gerakan mahasiswa bukan semata karena sikap apatis, melainkan rendahnya kepedulian terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Kalau menurut saya, bukan apatis. Saya malah melihat mahasiswa sekarang itu pekak, pakai K,” ujar Ade kepada Sripoku.com, Kamis (27/8/2026).
Ade menggunakan istilah “pekak” untuk menggambarkan kondisi mahasiswa yang dinilainya semakin tidak peka terhadap persoalan sosial dan kebangsaan.
Ia menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari rendahnya literasi serta mulai berkurangnya pemahaman mahasiswa terhadap fungsi dan tanggung jawabnya sebagai agen perubahan.
“Logikanya mereka harusnya paham bahwa tugas mahasiswa itu tidak hanya belajar. Mahasiswa itu kan agen perubahan. Nah, karena mereka peka pakai K, ya itu yang terjadi, maka tidak ada gerakan,” katanya.
Demo Tetap Jadi Pilihan
Ade menilai aksi demonstrasi di jalan masih menjadi salah satu bentuk penyampaian aspirasi yang penting. Namun, aksi mahasiswa tidak harus selalu terpusat pada satu lokasi.
Menurutnya, media sosial juga memiliki peran dalam menyebarkan isu, tetapi tidak seharusnya menggantikan gerakan nyata di lapangan.
“Aksi itulah yang akan menghiasi atau mewarnai media sosial,” ungkapnya.
Ia juga menilai hingga kini belum terlihat isu lokal di Sumsel yang mampu menggerakkan mahasiswa dalam jumlah besar.
Menurut Ade, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan dalam militansi mahasiswa. Ia bahkan menyebut perlawanan mahasiswa saat ini seperti mengalami kematian karena dinilai lebih banyak mengikuti arahan daripada membangun gerakan berdasarkan kesadaran sendiri.
“Jadi mereka hari ini sesuai dengan order sepertinya, jadi tidak ada lagi Tridharma,” ucapnya.
Mahasiswa Dinilai Harus Jadi Pressure Group
Ade menegaskan, mahasiswa memiliki posisi penting sebagai pressure group atau kelompok penekan dalam sistem demokrasi.
Keberadaan mahasiswa, menurutnya, dibutuhkan untuk mengawal kebijakan serta menyuarakan berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.
Ia bahkan mempertanyakan kondisi demokrasi apabila mahasiswa tidak lagi menjalankan fungsi tersebut.
“Alat ukurnya adalah jumlah massa. Artinya ada kesadaran di situ. Kalau massanya tidak ada, ya tidak ada kesadaran,” jelasnya.
Ade juga menilai persoalan menyuarakan isu nasional tidak bisa dibebankan hanya kepada kelompok atau pihak tertentu.
Menurutnya, mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk ikut merespons persoalan yang terjadi.
“Kalau mahasiswa tidak bergerak ketika ada isu nasional, siapa yang harus menyuarakan? Saya pikir ini menjadi tanggung jawab kita semua. Jadi bukan soal siapa, tapi pertanyaannya harus dibalik, kenapa kita tidak tergerak,” pungkasnya.