Apakah Tepung Selain Ubi-Singkong Bisa Padamkan Api? Ini Kata Kepala BRIN
GH News August 27, 2026 05:08 PM
Jakarta -

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria, beri tanggapan terkait penggunaan tepung ubi atau singkong untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia menegaskan BRIN sudah melakukan kajian terkait hal itu.

"Ternyata BRIN sudah melakukan kajian bahwa singkong memungkinkan itu menjadi pemadam. Tapi bagaimana? Untuk skala besar, komponennya apa saja, ini sekarang sudah dilakukan riset, track rate hal ini," tuturnya dalam acara BRIN Goes To Industry 6 di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawirohardjo BRIN Gatot Subroto, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Bahan dengan Komponen Mirip Singkong Bisa Digunakan

Sebelumnya, BRIN memang sudah menyatakan bila tepung singkong atau tepatnya pati singkong punya dasar ilmiah dalam teknologi pemadaman. Namun, kemampuan ini perlu dikembangkan lebih lanjut melalui rekayasa kimia dan formulasi.

Lalu bagaimana dengan bahan dasar lainnya, seperti tepung beras atau gandum? Terkait hal ini, Arif tidak menutup kemungkinan bahan selain ubi atau singkong bisa digunakan dalam teknologi pemadaman.

"Pada prinsipnya, karakteristik zat kimia yang mirip dengan pati, pada prinsipnya bisa," jelas Arif.

Namun tak bisa sembarangan, BRIN perlu mengetahui terlebih dahulu seberapa efektif bahan selain pati singkong untuk memadamkan api. Untuk mengetahuinya, BRIN saat ini tengah melakukan riset.

"Tinggal efektivitasnya (penggunaan bahan selain pati singkong), makanya sekarang sedang dilakukan riset untuk itu. Mencari produk alternatif selain singkong apalagi. Itu tim ini sedang bekerja," bebernya.

Kendati demikian, Arif kembali menegaskan bahan yang punya karakteristik seperti pati singkong bisa digunakan. Studi juga akan mencari tahu campuran kimia apa yang dibutuhkan agar efektivitas pemadaman api melalui tepung bisa tinggi.

"Iya (bahan selain pati singkong dengan karakteristik sama bisa digunakan). Berarti kan itu butuh campuran apalagi dan itu orang-orang yang bergerak di bidang, para peneliti bergerak di bidang kimia molekuler yang sedang mengerjakan itu," imbuhnya.

Karakteristik Pati Singkong untuk Pemadaman Api

Sebelumnya, Periset Kimia Molekuler BRIN, Julinton menjelaskan pati singkong punya struktur polisakarida, karbohidrat kompleks yang tersusun dari ratusan-ribuan gula sederhana saling terikat yang kaya akan gugus hidroksil. Kandungan tersebut bisa dimodifikasi secara kimia untuk mengatur kemampuan pembentukan film, viskositas, retensi air, dan interaksinya dengan komponen retardan (zat kimia yang mampu memperlambat rambatan api).

Meski punya manfaat untuk memperlambat rambatan api, pati singkong perlu bahan lainnya. BRIN tengah mengembangkan teknologi itu, di mana pati singkong dikombinasikan dengan ammonium polyphosphate (APP) atau garam anorganik dari amonia dan asam polifosfat, air, dan wetting agent berkonsentrasi rendah.

"Bahan ini dirancang bekerja melalui beberapa mekanisme yang saling melengkapi. Air berfungsi menyerap panas dan menurunkan temperatur bahan bakar, pati singkong termodifikasi membantu meningkatkan adhesi dan mempertahankan cairan lebih lama pada permukaan vegetasi," papar Julinton dalam keterangan tertulis BRIN.

"Sementara, wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus bahan bakar vegetasi dengan lebih baik. APP kemudian memberikan mekanisme retarsasi kimia ketika material menerima panas," sambungnya.

Saat APP dipanaskan, spesies asam fosfat dan polifosfat bisa merangsang berbagai senyawa di dalam pati singkong. Hal ini bisa membentuk banyak karbon padat atau char dan mengurangi pembentukan senyawa volatil yang mudah terbakar.

Lapisan char adalah komponen penting yang akan bertugas menghalangi perpindahan panas dan massa. Char juga bisa membatasi kontak langsung antara bahan bakar dan oksigen yang dapat membuat api semakin berkobar.

"Teknologi ini tidak bekerja dengan 'menghilangkan oksigen' dari atmosfer. Mekanisme utamanya adalah pendinginan, peningkatan pembasahan dan retensi cairan, serta perubahan jalur dekomposisi termal bahan bakar vegetasi, sehingga laju perambatan api berpotensi ditekan," kata Julinton lagi.

Saksikan Live DetikSore:
Devita Savitri
Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom sejak 2023 lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Tertarik dan aktif meliput isu terkait pendidikan dasar dan menengah. Wartawan Terproduktif Kemendikdasmen 2025.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.