TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gunung Merapi dilaporkan mengalami 21 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-42 mm dan lama gempa 33.15-138.6 detik.
Selain itu, tercatat pula 14 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2-31 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 11.31-49.42 detik.
Hal itu berdasarkan hasil laporan terakhir BPPTKG Yogyakarta sepanjang periode pengamatan hingga petang ini, Kamis (27/8/2026), hingga pukul 18.00 WIB.
Hingga saat ini, Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan Level III (Siaga) untuk gunung berapi aktif di perbatasan DIY dan Jawa Tengah tersebut.
Untuk pengamatan visual, Gunung api terlihat jelas. Asap kawah nihil.
Sementara cuaca teramati berawan, angin lemah ke arah utara.
Suhu udara sekitar 17.3°C. Kelembaban 89.9 persen. Tekanan udara 875.3 mmHg.
Baca juga: Laporan Aktivitas Kegempaan Gunung Merapi Kamis 27 Agustus 2026 Siang Ini
Lebih lanjut, BPPTKG Yogyakarta menyampaikan rekomendasi terkait potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Masyarakat juga agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya, dan mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Selain itu, masyarakat juga diimbau agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (*)