Bagaimana Kita Bermaulid?
Ansari Hasyim August 28, 2026 12:03 AM

Oleh: Muhibuddin Hanafiah*)

TRADISI memperingati hari kelahiran seseorang bukanlah budaya Islam, apalagi bagian dari ajaran agama. Tidak ada anjuran khusus untuk merayakan kelahiran seseorang, baik dalam nash Al-Qur’an maupun hadis Nabi.

Justru, tradisi memperingati hari lahir atau ulang tahun berawal dari peradaban Mesir kuno, sekitar tahun 3000 SM, tepatnya ketika Fir’aun dianggap sebagai dewa pada hari penobatannya.

Tradisi ini kemudian menyebar ke bangsa-bangsa lain, seperti Yunani dan Romawi, hingga berkembang menjadi budaya modern global (Western) dewasa ini, termasuk dalam bentuk tradisi lokal Nusantara seperti wetonan dalam masyarakat Jawa.

Tradisi merayakan hari kelahiran pada awalnya merupakan tradisi para raja dan kaum bangsawan serta kelompok elite suatu masyarakat, yang kemudian berkembang menjadi bagian dari seremoni masyarakat biasa.

Dalam masyarakat Muslim pada era klasik hingga abad pertengahan, tradisi ini belum dikenal secara luas. Pasca-kolonialisasi, budaya Barat kemudian semakin merambah dunia Islam.

Baca juga: VIDEO - Ribuan Warga dari 40 Gampong Hadiri Kenduri Maulid Akbar Gandapura

Dalam masyarakat Islam, popularitas peringatan hari lahir kemudian lebih banyak ditujukan kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Menilik Sejarah

Uniknya, menurut sejumlah catatan sejarah, peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pertama kali diperingati pada abad ke-4 Hijriah atau sekitar abad ke-10 hingga ke-11 Masehi oleh Dinasti Fathimiyah yang beraliran Syiah di Kairo, Mesir.

Peringatan tersebut antara lain dimaksudkan untuk memperkuat legitimasi politik dan menumbuhkan rasa cinta kepada Ahlul Bait (keluarga Rasulullah SAW).

Kemudian, tradisi ini diadopsi oleh penguasa lain di Irak dan Suriah untuk membangkitkan semangat umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Pada periode Perang Salib, Sultan Shalahuddin dari Dinasti Ayyubiyah, panglima kaum Muslimin, menjadikan peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW sebagai salah satu sarana untuk menyemangati tentara Islam agar bersatu dalam jihad guna memenangkan perang melawan tentara Salib dari Eropa.

Sementara itu, di Nusantara, tradisi ini diperkenalkan oleh para wali dan ulama, termasuk Walisongo, sebagai salah satu sarana dakwah.

Berdasarkan catatan sejarah tersebut, dapat dipahami bahwa memperingati hari lahir seseorang pada dasarnya hanyalah sebuah tradisi atau budaya manusia di berbagai belahan bumi. Budaya yang sangat kuno dan diteruskan hingga zaman modern. Ia berkembang dari budaya kaum elite hingga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat biasa.

Jadi, budaya ini bukanlah bagian khusus dari ajaran agama tertentu, melainkan sebuah tradisi yang berkembang dalam masyarakat. Budaya tersebut menyebar dari istana hingga kaki lima di kalangan masyarakat Barat. Kemudian, budaya ini dibawa ke masyarakat Timur melalui proses kolonialisasi hingga akhirnya diikuti pula oleh sebagian kaum Muslimin.

Hanya saja, dalam masyarakat Islam, sosok yang paling populer diperingati hari lahirnya adalah Rasulullah Muhammad SAW.

Tujuan memperingatinya pun bermacam-macam. Ada yang didorong oleh kecintaan kepada Nabi dan keluarganya (Ahlul Bait), tetapi ada pula yang dimotivasi oleh kepentingan politik dan kekuasaan. Di sisi lain, peringatan tersebut pernah digunakan untuk menyatukan dan membangkitkan semangat umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan.

Akhir-akhir ini, tujuan memperingati Maulid Rasulullah sudah sangat beragam dan lebih dominan sisi seremonialnya ketimbang substansinya.

Dari Seremoni ke Substansi

Telah banyak diskusi mengenai apakah Nabi sendiri memperingati hari kelahirannya. Secara eksplisit, Nabi tidak menyatakan bahwa beliau merayakan hari kelahirannya. Hanya saja, ketika salah seorang sahabat menanyakan tentang kebiasaan Nabi berpuasa pada setiap hari Senin, beliau menyebutkan alasannya bahwa hari Senin adalah hari beliau dilahirkan dan pada hari itu pula beliau diutus sebagai seorang rasul.

Informasi melalui hadis ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW mengenang hari kelahirannya, tetapi dengan cara berpuasa sunah pada hari tersebut. Bukan seperti kebiasaan kita hari ini, yaitu memperingatinya dengan pesta, kenduri, makan-makan, atau kegiatan sejenisnya.

Jadi, Nabi, para sahabat, serta generasi awal Islam tidak pernah memperingati kelahiran Rasulullah SAW sebagai sebuah tradisi seperti yang lazim dilakukan sekarang. Sebab, memang tidak terdapat nash Al-Qur’an maupun hadis sahih yang secara eksplisit atau khusus memerintahkan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Selama ini, perayaan yang diselenggarakan umat Islam untuk mengenang Maulid Nabi merujuk pada dalil-dalil yang bersifat umum, yang menganjurkan umat untuk bersyukur, bershalawat, dan bergembira atas kelahiran serta diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi semesta alam.

Bilamana kita tetap merayakan hari kelahiran Nabi, janganlah kita terjebak pada seremoni belaka. Sementara substansi dari kehadiran Rasulullah SAW teramat agung dan mulia.

Harus ada perubahan cara pandang dan perilaku umat Islam yang lebih revolusioner dalam menata kehidupan ini, sehingga umat Islam kembali mampu menghadirkan nilai-nilai yang diperjuangkan Rasulullah SAW. Yaitu tamaddun islami, atau tatanan dunia yang lebih memanusiakan manusia berdasarkan blueprint penciptaan dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT.

Hari kelahiran Nabi yang kita peringati setiap tahun harus menjadi momentum untuk memikirkan kembali bentuk perayaan yang layak dilakukan. Tentu saja, masing-masing kita mempunyai cara tersendiri untuk merayakan Maulid Nabi. Tetapi paling tidak, ada beberapa langkah yang perlu kita perhatikan agar kesalahan di masa lalu tidak kembali terulang.

Di antara langkah tersebut, pertama, benarkan tujuan memperingati Maulid Nabi, yaitu untuk mengingat, menghayati, memuliakan, serta merevitalisasi keteladanan beliau atas kehadiran Rasulullah SAW di muka bumi ini.

Momen Maulid sejatinya adalah kesempatan bagi kita untuk menghadirkan kembali spirit kenabian dalam kehidupan sehari-hari.

Berdampak Global, Bukan Sekadar Lokal

Kedua, isi acara dengan motivasi yang mengajak umat untuk kembali memperkuat akhlakul karimah sebagaimana Nabi praktikkan dalam berbagai situasi kehidupannya.

Isi acara peringatan Maulid Nabi dengan mempelajari kembali sirah perjalanan hidup Nabi dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW, bukan saja pada saat momentum peringatan Maulid, tetapi juga sepanjang hayat kita.

Ajak, dampingi, dan bimbing generasi muda untuk mengidolakan Rasulullah SAW serta menjadikan beliau sebagai role model kepemudaan. Sosialisasikan keagungan akhlak Rasulullah SAW melalui lembaga pendidikan dan institusi sosial lainnya.

Ketiga, isi acara peringatan Maulid dengan kegiatan sosial kemanusiaan, seperti gerakan kepedulian terhadap kelompok masyarakat lemah (mustadh’afin), baik berupa target jangka pendek seperti donasi kepada anak yatim dan fakir miskin maupun target jangka panjang melalui skema bantuan beasiswa pendidikan.

Hindari acara peringatan Maulid Nabi yang bersifat hura-hura, mubazir, dan elitis.

Akhirnya, harus kita camkan kembali bahwa momentum Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar memperingati hari kelahiran Rasulullah, melainkan mengambil ibrah dari perjuangan beliau dalam menegakkan kekuatan Islam.

Menegaskan kembali azam untuk mampu mengikuti sunahnya serta mengikuti jejak pengorbanan dan keluhuran budi pekerti Nabi yang tidak ada bandingannya.

Sudah saatnya umat Islam berhenti tertidur, terbuai, dan terlena dengan sosok figur yang dianggap memiliki pengaruh, baik penguasa, raja, maupun elite sosial, yang ternyata tidak mampu memberikan harapan berarti bagi perbaikan kondisi umat Islam, baik di level lokal, nasional, regional, maupun internasional.

Kembalikan Nabi Muhammad SAW sebagai figur utama dan sentral bagi tatanan dunia yang lebih adil, maju, sejahtera, dan menempatkan manusia pada martabatnya yang hakiki.

*) PENULIS adalah Akademisi Kopelma Darussalam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.