TRIBUNJATIM.COM - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mulai memasuki tahapan penting.
Setelah pembukaan yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto, para peserta akan mengikuti rangkaian pleno hingga pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Ketua PWNU Lampung, Dr. H. Puji Raharjo, mengatakan pihaknya telah menentukan pilihan untuk mendukung KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai calon Ketua Umum PBNU periode mendatang.
Menurut Puji, dukungan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba.
PWNU Lampung bersama sejumlah PCNU di Lampung telah melakukan pembahasan dan mempertimbangkan sejumlah kriteria yang dinilai penting untuk sosok pemimpin NU lima tahun ke depan.
Puji menjelaskan, salah satu pertimbangan utama adalah gagasan Gus Kikin untuk mengembalikan NU pada semangat dan nilai dasar yang dirumuskan para pendiri organisasi.
Ia menilai perjalanan NU saat ini sudah cukup jauh dari spirit awal yang terkandung dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama.
“Menurut kami sekarang kita ini ibarat mengendarai, sudah terlalu jauh meninggalkan Qanun Asasi itu,” kata Puji dalam tayangan Wawancara Eksklusif 'Dukungan PWNU Lampung pada Kandidat Ketua PBNU, Puji Raharjo: NU Teduh Gak Perlu Gaduh' yang tayang di kanal YouTube TribunJatim.com, Kamis (27/8/2026).
Gus Kikin, lanjut dia, menawarkan gagasan untuk melakukan restorasi NU dengan kembali menghidupkan spirit dan nilai-nilai dasar yang diwariskan para pendiri.
Gus Kikin merupakan cicit Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Selain gagasan, Puji juga menilai Gus Kikin memiliki rekam jejak yang membuatnya dapat diterima berbagai kalangan.
"Beliau adalah sosok yang sudah selesai dalam segala hal. Artinya beliau adalah pengusaha sukses yang sudah selesai, kemudian tidak punya ambisi apa pun," ujarnya.
Menurut Puji, karakter tersebut menjadi salah satu keunggulan Gus Kikin.
Ia menyebut Gus Kikin sebagai sosok yang dapat berkomunikasi dengan berbagai kelompok tanpa membawa beban konflik masa lalu.
Baca juga: Gus Yahya di Muktamar ke-35 NU, Tegaskan NU Harus Jadi Mitra Strategis Pemerintah & Penyangga Bangsa
Puji mengatakan, komunikasi antar-PWNU se-Indonesia sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum nama calon Ketua Umum PBNU mengemuka.
Pembahasan awal, kata dia, lebih banyak berkaitan dengan kondisi NU dan kriteria pemimpin yang dibutuhkan organisasi, bukan mengenai dukungan terhadap kandidat tertentu.
PWNU Lampung juga menjadi bagian dari sejumlah PWNU yang sebelumnya mendorong PBNU segera menggelar Munas dan Konbes sebagai bagian dari persiapan Muktamar.
"Berangkatnya dari situ. Jadi kami sudah lama diskusi banyak dengan ketua-ketua PWNU se-Indonesia dan enggak pernah ngomong sosok," katanya.
Menurut Puji, komunikasi tersebut kemudian berkembang secara alamiah hingga dukungan terhadap Gus Kikin semakin menguat.
Ia menilai Gus Kikin memiliki kelebihan karena mampu menjaga jarak dengan berbagai kelompok dan tidak mudah terseret dalam polarisasi.
"Ketua umum itu orang yang bisa menyapa siapa saja, tidak berjarak dengan siapa saja. Ini menurut saya bagian penting dari keunggulan Gus Kikin," ujar Puji.
Baca juga: Prabowo Buka Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Gaungkan Slogan Jas Ijo: Jangan Lupakan Jasa Ulama
Di tengah dinamika politik menjelang Muktamar ke-35, Puji berharap proses pemilihan tidak menimbulkan perpecahan di tubuh NU.
Ia mengatakan, Gus Kikin diharapkan dapat menjadi sosok yang berada di tengah dan mampu merangkul seluruh kelompok.
PWNU Lampung bahkan membawa gagasan 'NU Teduh' sebagai gambaran NU yang ingin diwujudkan setelah muktamar.
"Kita ingin NU itu di NU ini kan organisasi ulama. Oleh karena itu kami buat tagline NU Teduh," katanya.
Menurut Puji, NU ke depan harus kembali menjadi organisasi yang mengedepankan keteduhan, toleransi, sikap tawasuth, serta kebersamaan antarkader dan ulama.
Ia berharap suasana muktamar yang sempat menghangat menjelang pelaksanaan dapat semakin mencair dan berujung pada proses yang damai.
Terkait isu dugaan intervensi pemerintah dalam pemilihan Ketua Umum PBNU, Puji menilai tidak melihat adanya tekanan atau intimidasi terhadap peserta muktamar.
Ia juga menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pembukaan muktamar yang menegaskan tidak adanya intervensi pemerintah.
Menurut Puji, dukungan kepada Gus Kikin justru tumbuh secara natural dari komunikasi antar-PWNU.
"Kita lihat bagaimana dukungan ke Gus Kikin ini mengalir dengan sangat deras, natural, tidak kemudian ada yang merasa diintimidasi, dipaksa-paksa," ujarnya.
Baca juga: Arti Kartanu yang Diminta Prabowo ke Gus Yahya saat Buka Muktamar ke-35 NU Tambakberas
PWNU Lampung menjadi salah satu wilayah di luar Jawa yang memiliki jumlah delegasi cukup besar.
Puji menyebut Lampung mengirimkan 64 delegasi resmi dalam Muktamar ke-35.
Delegasi tersebut berasal dari 15 PCNU dan satu PWNU.
"Ada 15 cabang, 15 PC dan 1 PW. Jadi ada 16 suara," jelasnya.
Ia berharap delegasi Lampung tidak hanya berorientasi pada perolehan suara, tetapi juga membawa tanggung jawab moral untuk ikut menjaga kelancaran dan keberhasilan muktamar.
Baca juga: Sosok KH Hasib Wahab Hasbullah, Pengasuh Ponpes Tambakberas Sebut 8 Angka Prabowo di Muktamar NU
Puji optimistis tahapan Muktamar ke-35 dapat berjalan lancar.
Rangkaian agenda akan dimulai dengan pleno tata tertib, dilanjutkan laporan pertanggungjawaban, pembahasan komisi, hingga tahapan pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Ia berharap seluruh proses dapat ditempuh melalui musyawarah dan mufakat tanpa kegaduhan.
"Harapan saya dari perkembangan sampai hari ini, tentu suasana ini akan semakin teduh, mengerucut. Kalau bisa musyawarah mufakat," katanya.
Puji menilai suasana menjelang muktamar yang sebelumnya cukup panas kini mulai melandai.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tanda positif bahwa NU akan menemukan jalan terbaik melalui proses muktamar.
Ia berharap siapa pun yang nantinya terpilih mampu membawa NU menjadi organisasi yang semakin solid, teduh, bermartabat, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.
"Kita ingin semuanya ini menggelinding. Memang wacana-wacana menjelang muktamar beberapa hari yang lalu cukup hangat sekali, tapi hari ini kelihatannya sudah mulai melandai. Nah, ini saya kira tanda-tanda kebaikan. Jadi NU memang selalu menemukan jalannya,"' tandasnya.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com