TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berikut 5 contoh dongeng parabel mulai dari dongeng parabel Sangkuriang dan dongeng parabel Banta Seudang serta dongeng parabel Malin Kundang hingga dongeng parabel Bawang Merah dan dongeng parabel Keong Mas.
1. Sangkuriang
Pada zaman dulu hiduplah Dayang Sumbi bersama dengan anaknya yang bernama Sangkuriang. Suatu hari, Sangkuriang sedang pergi berburu dengan Tumang, saat sedang berburu ia melihat ada seekor rusa. Ia ingat ibunya sangat suka dengan rusa, kemudian ia menyuruh Tumang untuk mengejar rusa tersebut.
Namun Tumang gagal, Sangkuriang pun menjadi sangat marah. Ia kemudian membunuh Tumang dan mengambil hatinya untuk kemudian dimakan bersama ibunya.
Baca juga: 3 Contoh Dongeng Parabel Sunda, Dongeng Parabel Si Kabayan, Dongeng Parabel Malin Kundang, Hikayat
Saat pulang, ia memberikan hati tersebut kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi kemudian memasak dan memakannya. Saat sedang makan berdua dengan anaknya, ia kemudian menanyakan keberadaan Tumang kepada Sangkuriang.
Dengan wajah yang ketakutan, Sangkuriang menjawab jika Tumang sudah mati. Dayang Sumbi sangat marah kepada Sangkuriang, kemudian ia memukul Sangkuriang dengan sendok nasi dan mengusir Sangkuriang.
Setelah kejadian tersebut, Dayang Sumbi menangis dan merasa sangat menyesal. Setiap hari dirinya berdoa kepada sang Dewa. Hingga pada suatu hari Dewa memberikan Dayang Sumbi anugerah berupa kecantikan abadi dan menjadi wanita yang tidak akan pernah tua.
Setelah diusir dari rumah, Sangkuriang berkelana hampir ke semua tempat, dan pada akhirnya kembali lagi ke halaman kampungnya. Saat di halaman kampungnya, Sangkuriang melihat Dayang Sumbi.
Ia terpana melihat kecantikannya dan berniat untuk menikahinya. Pada suatu hari saat pergi berdua dengan Dayang Sumbi, tidak sengaja Dayang Sumbi melihat bekas luka yang ada di kepala Sangkuriang.
Sangkuriang menjawab jika luka tersebut didapatkan akibat pukulan sendok nasi dari ibunya. Mendengar cerita Sangkuriang, Dayang Sumbi kaget dan dia mengatakan bahwa dirinya merupakan Ibu kandungnya. Sangkuriang tidak percaya dan tetap akan menikahi Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi membuat permintaan kepada Sangkuriang. Jika ingin menikahinya, ia harus bisa membuatkannya perahu layar dalam waktu satu hari tidak lebih.
Sangkuriang setuju dan dia mulai membuat perahu layar dibantu dengan jin. Melihat hasil pekerjaannya hampir selesai, Dayang Sumbi memohon bantuan kepada Dewa. Dayang Sumbi akhirnya membuat ayam jago berkokok lebih cepat dan berhasil membuat jin yang membantu sangkuriang pergi.
Sangkuriang marah dan menendang kapal yang dibuatnya dan kapal tersebut jatuh diatas gunung dan menyatu dengan gunung tersebut. Sangkuriang kemudian meninggal karena terjatuh ke sungai Citarum.
2. Banta Seudang
Konon pada zaman dahulu, di Tanah Gayo, Aceh, terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana.
Raja tersebut memiliki seorang putra yang diberi nama Banta Seudang. Namun, sang raja tersebut tiba-tiba menjadi buta ketika Banta Seudang lahir.
Untuk meneruskan jalannya pemerintahan, sang raja kemudian menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada adiknya.
Raja baru tersebut kemudian membangun rumah untuk ditinggali kakaknya beserta istri, dan anaknya Banta Seudang.
Ketika Banta Seudang menginjak dewasa, ia berkeinginan untuk mencari obat bagi ayahnya yang buta.
Banta Seudang kemudian meminta izin ibunya. Sang ibu kemudian mengizinkan dan merestui niat Banta Seudang.
Pergi mencari obat
Setelah mendapat izin, Banta Seudang kemudian pergi mencari obat untuk ayahnya.
Ia berjalan sendirian, masuk keluar hutan, mendaki gunung, hingga menjelajahi padang dan lembah.
Akhirnya setelah beberapa bulan melakukan perjalanan, Banta Seudang kemudian bertemu dengan seorang tokoh agama.
Setelah bertemu, Banta Suedang menjelaskan niatnya untuk mencari obat ayahnya yang buta.
Tokoh agama tersebut memberi petunjuk supaya mengikuti seekor gajah putih yang lewat.
Setelah bertemu seekor gajah putih, Banta Seudang kemudian menaikinya dan mengikuti ke mana hewan tersebut berjalan.
Dalam perjalanan menunggangi gajah putih, Banta Seudang bertemu dengan Mak Toyo yang tinggal di dalam hutan.
Mak Toyo merupakan orang tua yang bertugas sebagai juru kunci atau penjaga sebuah taman milik seorang raja yang tinggal jauh di luar hutan.
Raja tersebut memiliki tujuh putri yang suka mandi dan bersenang-senang di kolam yang berada di dalam taman tersebut.
Di dalam kolam tersebut terdapat ada bunga Bengkawali yang diyakini mampu menyembuhkan kebutaan ayah Banta Suedang.
Menikahi putri
Pada hari Jumat, seluruh putri raja datang ke taman untuk mandi dan bersenang-senang.
Setelah putri raja selesai mandi, Mak Toyo turun ke kolam dan menepuk tangannya di atas air tiga kali.
Beberapa saat kemudian muncul bunga Bengkawali yang berguna untuk obat ayah Banta Seudang.
Bunga tersebut kemudian diserahkan kepada Banta Seudang untuk mengobati kebutaan ayahnya.
Namun, Banta Seudang meminta kepada Mak Toyo untuk tinggal seminggu lagi hingga hari Jumat depan.
Ketika tiba hari jumat, Banta Seudang diam-diam menyelinap ke dalam taman dan mengambil baju terbang milik putri bungsu raja.
Akibatnya, putri bungsu raja tersebut tidak bisa pulang ke Istana dan terpaksa menginap ke rumah Mak Toyo.
Saat menginap di rumah Mak Toyo, putri bungsu raja jatuh cinta dengan Banta Seudang. Mereka berdua kemudian menikah.
Sang ayah kembali menjadi raja
Setelah beberapa hari menikah, Banta Seudang mengajak istrinya kembali rumah untuk memberi bunga Bengkawali sebagai obat bagi ayahnya.
Sesampainya di rumah, Banta Seudang kemudian mengambil semangkuk air dan merendam bunga Bengkawali di dalamnya.
Setelah itu, air rendaman bunga Bengkawali diusapkan ke wajah sang ayah. Tak lama kemudian, sang ayah dapat melihat kembali.
Setelah itu, sang ayah kembali ke Istana untuk mengambil kembali takhta kerajaan yang diserahkan kepada adiknya.
Mengetahui hal tersebut, seluruh rakyat menyambut dengan suka cita. Sang raja kemudian memerintah kembali kerajaan dengan adil dan bijaksana.
Referensi: Ara, Lesek Keti. (1995). Cerita Rakyat dari Aceh. Jakarta: Grasindo.
3. Malin Kundang
Alkisah, hiduplah seorang ibu dengan anak laki-laki semata wayangnya bernama Malin Kundang.
Ketika Malin Kundang sudah beranjak dewasa, ia pun ingin pergi mengadu nasib di negeri sebrang seperti jejak ayahnya.
Dengan berat hati, ibu Malin Kundang pun melepaskan kepergian putra tercintanya.
Sesampainya di tanah seberang, ia bekerja pada salah satu saudagar yang kaya raya.
Karena ketekunannya, Malin Kundang pun menjadi tangan kanan saudagar kaya tersebut.Ia akhirnya menikahi putri saudagar kaya raya yang cantik dan menjadi orang yang kaya raya.
Sayangnya, ketika ia sudah kaya raya dan sukses, ia menjadi lupa dengan orang tuanya.
Ketika ia menuju kampung halamannya, ia tidak mengakui ibu kandungnya sendiri yang miskin.
Sang ibu kecewa dan sakit hati, ia pun mengutuk Malin Kundang menjadi sebuah batu.
4. Bawang Merah Bawang Putih
Alkisah hiduplah seorang anak perempuan yang baik dan tulus hati, Bawang Putih, dirinya baru saja kehilangan sang ibu karena meninggal dunia. Ayahnya yang begitu sayang kepadanya, menikah dengan seorang wanita yang kemudian menjadi ibu tirinya.
Sang ibu barunya tersebut membawa seorang anak, Bawang Merah.
Bawang Putih sangat baik dan berbeda sekali dengan Bawang Merah dan ibunya. Penderitaan Bawang Putih pun dimulai ketika ayahnya sudah meninggal.
Tetapi dengan kebaikan dan ketulusan hatinya, Bawang Putih memiliki hidup yang bahagia pada akhir cerita, tetapi tidak dengan sang ibu tiri dan kakak tirinya.
5. Keong Mas
Ada seorang raja yang memiliki dua putri yang cantik. Meski sama-sama cantik tapi kedua putri itu memiliki watak yang berbeda. Sang Kakak sangatlah baik hati dan tidak sombong. Sebaliknya sang adik berwatak angkuh dan kasar.
Suatu hari, raja memanggil Sang Kakak, dan memintanya untuk menikah dengan pangeran tampan dari kerajaan tetangga. Mendengar kabar itu, Sang Adik tidak terima dan merasa cemburu.
Akhirnya Sang Adik pergi ke rumah penyihir dan meminta agar penyihir mengubah kakaknya menjadi seekor keong. Dan berubahlah sang kakak menjadi seekor keong.
Penyihir berkata Sang Kakak bisa berubah wujud kembali jika ia menemukan cinta sejatinya. Cerita Keong Mas ini berakhir dengan bahagia. Karena akhirnya Sang Pangeran bisa menemukan Keong Mas. Keong Mas pun berubah kembali menjadi seorang putri.
( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )