TRIBUNKALTIM.CO - Situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) kian mengkhawatirkan.
Hingga Rabu (26/8/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat sebanyak 517 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.509,55 hektare.
Ancaman tersebut diperkirakan masih akan membayangi Kaltim dalam beberapa hari ke depan. Cuaca panas dan minim hujan diprediksi masih berlangsung hingga awal September 2026.
Kepala BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, kondisi cuaca panas diperkirakan masih terjadi hingga 1 September mendatang.
“Masih sampai dengan 1 September kita masih panas seperti begini. Jadi kondisi di titik panas juga luar biasa,” kata Buyung saat konferensi pers di Ruang WIEK Diskominfo Kaltim, Kamis (27/8/2026).
Kondisi tersebut turut meningkatkan kemunculan titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Kaltim.
Baca juga: Prakiraan Cuaca BMKG Kaltim Hari Ini 28 Agustus 2026, Mayoritas Berawan
BPBD Kaltim mencatat rata-rata sekitar 300 hotspot terpantau setiap hari di seluruh wilayah Kaltim. Bahkan, pada Rabu (26/8/2026) malam, terpantau sebanyak 679 hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota.
Dari jumlah tersebut, Paser menjadi wilayah dengan sebaran hotspot terbanyak, yakni 284 titik. Selanjutnya Kutai Kartanegara (Kukar) dengan 110 titik dan Kutai Timur (Kutim) sebanyak 100 titik.
Tingginya jumlah hotspot turut berdampak pada meningkatnya laporan kejadian karhutla yang diterima BPBD.
Dalam beberapa waktu terakhir, rata-rata terdapat 20 laporan kebakaran yang masuk setiap hari. Bahkan, pada Selasa (25/8), petugas harus menangani 35 laporan karhutla dalam sehari.
Dari jumlah tersebut, Paser menjadi daerah dengan laporan terbanyak, yakni 14 kejadian.
Jika dilihat secara kumulatif hingga 26 Agustus 2026, Paser menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak di Kaltim, yakni 135 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 333,13 hektare.
Sementara itu, Kukar mencatat 50 kejadian. Meski jumlah kejadiannya lebih sedikit dibandingkan Paser, luas lahan yang terbakar di Kukar menjadi yang terbesar, yakni mencapai 441,88 hektare.
Kukar disusul Kutai Barat (Kubar) dengan 76 kejadian dan luas lahan terbakar 381,17 hektare.
Karhutla juga terjadi di seluruh kabupaten/kota di Kaltim. Di Samarinda tercatat 88 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 118,01 hektare. Kebakaran juga terjadi di Balikpapan, Bontang, hingga Mahakam Ulu.
Buyung mengatakan, kondisi kering di Kaltim semakin meningkatkan risiko terjadinya karhutla. Wilayah ini bahkan nyaris memasuki satu bulan tanpa hujan dengan intensitas berarti.
Hujan terakhir yang cukup merata dirasakan masyarakat terjadi pada pekan-pekan terakhir Juli 2026.
Meski hujan sempat turun dengan intensitas ringan di sejumlah wilayah, kondisi tersebut belum mampu menurunkan tingkat kerawanan kebakaran.
Vegetasi yang mengering membuat lahan menjadi sangat mudah terbakar. Kondisi itu menyebabkan api dapat dengan cepat menyebar ketika terdapat pemicu.
“Begitu ada pemicunya sedikit saja, itu cepat menyebar,” ujar Buyung.
Penanganan karhutla juga semakin sulit ketika kebakaran terjadi di lahan gambut. Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi dapat menjalar di bawah tanah sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan.
Petugas juga menghadapi kendala dalam memperoleh sumber air. Jarak sumber air yang jauh dari lokasi kebakaran membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan dukungan logistik yang lebih besar.
Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kondisi tersebut, termasuk wacana operasi modifikasi cuaca (OMC).
Namun, pelaksanaan OMC masih terkendala minimnya awan yang mengandung cukup banyak air untuk disemai.
Di tengah kondisi tersebut, hujan menjadi harapan utama untuk membantu menurunkan tingkat kerawanan karhutla di Kaltim.
“Yang kita butuhkan ini hujan. Hujan itu sangat kita harapkan untuk saat ini,” pungkas Buyung.
Di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), ancaman karhutla juga masih tinggi sepanjang Agustus 2026.
Data sementara BPBD Kukar mencatat 67 kejadian karhutla hingga Kamis (27/8/2026). Dari puluhan kejadian tersebut, total luas lahan yang terbakar mencapai 915,68 hektare.
Luas lahan terbakar tersebar di sejumlah kecamatan dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda.
Sanga-Sanga menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni mencapai 340 hektare. Dari luasan tersebut, kebakaran di Kelurahan Pendingin menyumbang sekitar 304 hektare.
Selanjutnya, Muara Kaman mencatat luas lahan terbakar sekitar 130 hektare, Samboja 126 hektare, Muara Badak 107,25 hektare, Tabang 100 hektare, dan Muara Muntai 74 hektare.
Sementara itu, luasan karhutla yang lebih kecil tercatat di Muara Jawa 0,53 hektare, Kota Bangun 1 hektare, Loa Janan 2 hektare, Loa Kulu 3 hektare, Tenggarong 3,15 hektare, dan Tenggarong Seberang sekitar 3,5 hektare.
Jika dilihat dari jumlah kejadian, Samboja menjadi wilayah dengan kasus karhutla terbanyak selama Agustus, yakni 21 kejadian. Selanjutnya Muara Badak dengan 20 kejadian.
Tenggarong dan Sanga-Sanga masing-masing mencatat lima kejadian. Sementara Muara Kaman, Sebulu, dan Loa Kulu masing-masing mencatat dua kejadian.
Data tersebut masih bersifat sementara. BPBD Kukar masih menunggu laporan dari sejumlah kecamatan yang hingga Rabu (26/8/2026) belum menyampaikan data karhutla.
Wilayah yang belum masuk dalam laporan sementara BPBD Kukar yakni Kenohan, Muara Wis, Kota Bangun Darat, Samboja Barat, dan Anggana.
Ex officio Kepala BPBD Kukar Sunggono mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan secara sembarangan.
Menurutnya, faktor manusia menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kebakaran. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, terutama di tengah kondisi yang rawan karhutla.
“Jadi tadi kan disampaikan oleh Pak Ketua Pengadilan ya, bahwa 99,9 persen penyebab kebakaran ini adalah manusia,” kata Sunggono.
Ia menegaskan, pencegahan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas pemadam kebakaran. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan tidak melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi meluas dan menimbulkan dampak bagi lingkungan maupun warga.
Sunggono mengajak seluruh masyarakat Kukar bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah munculnya titik api.
“Oleh karena ini bisa dipastikan, kalau kita peduli dengan lingkungan kita, peduli dengan daerah kita, peduli dengan anak cucu kita, tolong jangan bakar hutan kita, jangan membakar sembarangan yang mengakibatkan bencana untuk semua,” pungkasnya.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas masyarakat di Kabupaten Kutai Barat (Kubar).
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubar pun mengambil langkah antisipasi dengan memberlakukan kebijakan Belajar dari Rumah (BDR) bagi siswa dan siswi mulai 27 Agustus hingga 2 September 2026.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 300.2/3753/BPBD-TU.P/VIII/2026 tentang Kesiapsiagaan terhadap Siaga Darurat Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2026.
Bupati Kubar Frederick Edwin mengatakan, kebijakan BDR merupakan langkah antisipasi pemerintah menyikapi meningkatnya titik panas dan kejadian karhutla yang mulai berdampak terhadap kondisi lingkungan serta aktivitas masyarakat.
“Keselamatan dan kesehatan masyarakat menjadi perhatian utama. Karena itu, kita perlu mengambil langkah pencegahan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak karhutla,” ujar Frederick, Rabu (26/8).
Berdasarkan data sebaran titik panas dari SIPONGI periode 1-26 Agustus 2026, tercatat sebanyak 801 titik hotspot di Kubar.
Muara Pahu menjadi kecamatan dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 213 titik. Selanjutnya Bongan 113 titik, Jempang 105 titik, Damai 93 titik, dan Penyinggahan 80 titik.
Tingginya jumlah hotspot tersebut turut memicu kabut asap yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.
Pemkab Kubar menyebutkan, hasil pemeriksaan kualitas udara dalam ruangan menunjukkan parameter PM2,5 dan PM10 berada di atas ambang batas.
Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap asap.
Karena itu, Pemkab Kubar mengimbau masyarakat menggunakan masker saat berada di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk menghindari heatstroke dan paparan asap karhutla.
Masyarakat juga diminta menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala gangguan kesehatan.
Frederick menegaskan, kewaspadaan terhadap karhutla harus dilakukan secara bersama-sama. Masyarakat diminta menghindari aktivitas yang berpotensi menimbulkan sumber api, termasuk kegiatan di lahan, ladang, maupun kebun.
“Jangan menunggu api membesar. Jika menemukan api dalam skala kecil, segera lakukan pemadaman dan laporkan kepada pihak terkait,” tegasnya.
Dalam surat edaran tersebut, Pemkab Kubar juga meminta masyarakat melakukan pemantauan secara berkala terhadap lahan yang dimiliki atau dikelola.
Rumah ibadah, unsur kecamatan, kelurahan atau kampung hingga RT juga diminta ikut menyosialisasikan langkah pencegahan dan penanganan dampak karhutla.
Hujan Tak Berarti Aman
Di tengah kondisi tersebut, hujan yang mengguyur Kubar pada 24-26 Agustus 2026 belum dianggap sebagai tanda berakhirnya kekeringan.
Pemkab Kubar mencatat hujan tersebut merupakan hasil dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak lengah karena perubahan pola cuaca masih sulit diprediksi di tengah fenomena El Niño.
“Artinya, kewaspadaan tetap harus dijaga. Jangan sampai hujan membuat kita lengah karena potensi karhutla masih ada,” kata Frederick.
Sementara itu, selama pelaksanaan BDR, pembagian Makanan Bergizi Gratis (MBG) akan dikoordinasikan dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama.
Kebijakan BDR diharapkan dapat mengurangi paparan asap terhadap pelajar sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah melindungi masyarakat selama kondisi karhutla dan kekeringan masih berlangsung.
Peta Karhutla Kaltim
1. Balikpapan: 22 kejadian, 14,74 hektare
2. Berau: 49 kejadian, 102,94 hektare
3. Bontang: 10 kejadian, 13,51 hektare
4. Kutai Barat: 77 kejadian, 383,67 hektare
5. Kutai Kartanegara: 53 kejadian, 480,38 hektare
6. Kutai Timur: 33 kejadian, 57,75 hektare
7. Mahakam Ulu: 11 kejadian, 6,10 hektare
8. Paser: 151 kejadian, 358,93 hektare
9. Penajam Paser Utara: 50 kejadian, 51,54 hektare
10. Samarinda: 91 kejadian, 126,26 hektare