TRIBUNTRENDS.COM - Di balik persiapan aksi penyampaian aspirasi di kawasan DPR/MPR, Jakarta, polisi masih menelusuri satu mata rantai penting: aliran dana yang diduga digunakan untuk membeli sejumlah barang yang berpotensi dipakai dalam aksi kekerasan.
Polda Metro Jaya belum berhenti pada pengamanan barang bukti. Penyidik kini bergerak lebih jauh dengan membongkar sumber pembiayaan, pihak yang memberikan dana, hingga kemungkinan hubungan antara aliran uang dengan proses perekrutan dan persiapan aksi.
Langkah tersebut dilakukan setelah polisi menemukan sejumlah barang yang diduga dipersiapkan untuk membuat bom molotov serta senjata tajam menjelang pelaksanaan aksi penyampaian pendapat di muka umum di kawasan DPR/MPR, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin mengatakan proses penelusuran aliran dana masih berlangsung. Polisi tengah mencocokkan keterangan para pihak dengan bukti komunikasi dan transaksi keuangan.
"Penyidik masih melakukan pemeriksaan serta penelusuran terhadap keterangan para pihak melalui komunikasi transaksi keuangan dan bukti lainnya," kata Iman dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis, (27/8/2026).
Baca juga: Skenario Anarki Demo DPR Berhasil Dihentikan, Polisi Tangkap 65 Orang, 201 Molotov dan Sajam Disita
Penyidik menduga uang yang digunakan untuk memperoleh barang-barang tersebut tidak hanya berasal dari satu sumber.
Menurut Iman, terdapat dugaan penggunaan uang pribadi, pemberian dari pihak lain, hingga dana yang dikumpulkan melalui mekanisme open donasi.
"Untuk sumber uang yang digunakan untuk membeli bahan-bahan yang diduga akan digunakan dalam pembuatan bom molotov dan pengadaan senjata tajam, berasal dari uang pribadi, uang yang diberikan oleh pihak lain maupun dana yang diperoleh melalui mekanisme open donasi," jelas Iman.
Meski demikian, polisi belum mengungkap berapa jumlah uang yang berhasil dikumpulkan maupun berapa nilai transaksi yang diduga digunakan untuk membeli berbagai barang tersebut.
Angka tersebut masih menjadi bagian dari penyelidikan. Penyidik tengah meminta dan menelusuri data transaksi perbankan untuk mengetahui lebih jelas bagaimana uang tersebut bergerak.
"Ini sedang kita mintakan transaksi perbankannya, masih berproses," ucap Iman.
Dengan penelusuran tersebut, polisi berupaya mengetahui bukan hanya berapa uang yang mengalir, tetapi juga dari mana asalnya, kepada siapa diberikan, serta untuk kepentingan apa dana tersebut digunakan.
Penelusuran aliran dana tersebut berkaitan dengan pemeriksaan terhadap sejumlah orang yang diduga memiliki peran dalam rangkaian persiapan aksi.
Polda Metro Jaya sebelumnya telah memeriksa 63 orang. Mereka dibagi ke dalam dua klaster, yakni 10 orang dalam klaster pembiayaan dan 53 orang dalam klaster pelaksana.
Klaster pembiayaan menjadi perhatian khusus karena polisi ingin mengetahui bagaimana proses pendanaan berlangsung.
Iman menyebut 10 orang tersebut diduga berperan sebagai perekrut sekaligus penyedia dana dalam mempersiapkan aksi.
"10 orang terduga sebagai perekrut dan penyedia dana di dalam mempersiapkan aksi. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mendalami sumber pembiayaan, pola perekrutan, komunikasi antarpihak serta tujuan dan peran masing-masing," ujar Iman.
Keterangan mereka kemudian akan dicocokkan dengan berbagai bukti lain yang telah diperoleh penyidik.
Baca juga: Pekikan Allahu Akbar Botok Guncang Jakarta: Bawa Pulang Surat Komitmen DPR Soal RUU Perampasan Aset
Dalam penyidikan, aliran uang dapat menjadi salah satu petunjuk untuk mengungkap hubungan antarpihak.
Karena itu, polisi tidak hanya mengandalkan keterangan orang-orang yang diperiksa. Komunikasi digital, transaksi perbankan dan bukti lainnya juga tengah ditelusuri.
Pendalaman tersebut dilakukan untuk memastikan apakah terdapat hubungan antara sumber pendanaan, perekrutan massa, pengadaan barang, hingga pihak yang diduga mengorganisasi kegiatan.
Polisi juga masih berupaya memastikan siapa saja yang memiliki peran dalam keseluruhan rangkaian tersebut.
"Kita masih melakukan pendalaman untuk memastikan siapa saja yang memiliki peran dalam proses perekrutan, pembiayaan, penyediaan sarana, pengorganisasian massa serta pihak yang memberikan perintah atau arahan," tutur Iman.
Penelusuran aliran dana dilakukan setelah polisi menemukan sejumlah barang bukti yang dinilai berpotensi digunakan untuk melakukan kekerasan maupun mengganggu keamanan dan ketertiban umum.
Dalam pengamanan tersebut, Polda Metro Jaya menyita 39 senjata tajam dan 201 botol kaca lengkap dengan sumbu yang diduga dipersiapkan untuk membuat bom molotov.
Selain itu, polisi menemukan dua airsoft gun, satu tabung gas untuk airsoft gun, serta 25 gram gotri yang diduga digunakan sebagai bahan isi airsoft gun.
Barang lainnya yang diamankan terdiri atas tujuh jeriken berisi bensin, tiga stik golf, satu unit toa, satu piloks, serta 11 tas ransel yang diduga akan digunakan untuk membawa molotov.
Polisi juga menyita empat banner, empat strip Tramadol dan dua strip Diazepam.
Temuan tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyidikan karena polisi tidak hanya berusaha mengungkap siapa yang membawa barang-barang tersebut, tetapi juga menelusuri bagaimana barang itu diperoleh dan siapa yang membiayainya.
Selain soal pendanaan, penyidik menemukan dugaan adanya mobilisasi massa secara berjenjang melalui media sosial dan sejumlah aplikasi komunikasi digital.
Pola tersebut diduga mencakup penyebaran narasi dan ajakan, perekrutan peserta, pengumpulan massa hingga persiapan sarana dan prasarana.
Polisi kini mencoba menyusun seluruh potongan informasi tersebut menjadi satu rangkaian yang utuh.
Jika terdapat hubungan antara penggalangan dana, komunikasi digital, perekrutan massa dan pengadaan barang, maka rangkaian tersebut akan menjadi bagian dari pendalaman penyidikan.
Namun, polisi menegaskan proses tersebut masih berjalan. Peran masing-masing pihak belum seluruhnya ditentukan dan penyidik masih melakukan pemeriksaan serta penelusuran terhadap bukti-bukti yang ada.
Dengan demikian, jejak uang kini menjadi salah satu pintu yang sedang dibuka polisi untuk mengungkap lebih jauh siapa yang berada di balik pembiayaan dan persiapan barang-barang tersebut menjelang aksi di kawasan DPR/MPR.
***
(TribunTrends)