TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berikut 3 contoh dongeng parabel yakni dongeng parabel Sunda Si Kabayan dan dongeng parabel Malin Kundang serta dongeng parabel Hikayat Bayan Budiman .
Si Kabayan satu di antara cerita rakyat yang sangat populer dan sempat viral karena diangkat ke layar lebar.
Berikut 3 contoh dongeng parabel tersebut :
Baca juga: 255 Dongeng Parabel Seluruh Indonesia, Banta Seudang dan Malin Kundang hingga Mananamakrdi Papua
1. Si Kabayan
Ceritanya begini, konon pada zaman dahulu, di tanah Sunda, ada laki-laki bernama Si Kabayan.
Ia merupakan laki-laki pemalas namun mempunyai banyak akal.
Kepandaian Si Kabayan lebih sering digunakan untuk mendukung kemalasannya.
Si Kabayan memiliki istri bernama Nyi Iteung yang cantik.
Suatu ketika, Si Kabayan disuruh oleh mertuanya untuk mengambil siput-siput di sawah.
Si Kabayan menuruti kemauan mertuanya dengan malas-malasan.
Saat tiba di sawah, Si Kabayan tidak segera mengambil siput yang banyak terdapat di sawah, ia hanya duduk-duduk di pematang sawah.
Lama tidak kembali ke rumah, mertua Si Kabayan menyusul ke sawah.
Ia terperanjat melihat Si Kabayan hanya duduk-duduk di pematang sawah.
Mertua Si Kabayan menegur menantunya itu mengapa dia tidak segera turun ke sawah untuk mengambil tutut-tutut (Siput) itu.
Si Kabayan memberi alasan yang tidak masuk akal bahwa ia takut karena sawahnya sangat dalam.
Untuk menguatkan pendapatnya, Si Kabayan menunjukkan kepada mertuanya bahwa langit pun bisa terlihat di sawah.
Mertuanya sangat geram mendengar alasan Si Kabayan, kemudian Si Kabayan didorong ke sawah.
Setelah dirinya terdorong masuk ke sawah, Si Kabayan seolah-olah baru menyadari bahwa sawah itu dangkal.
Ia mengatakan hal itu di hadapan mertuanya sambil senyum-senyum menyebalkan.
Si Kabayan lantas mengambil siput-siput yang banyak terdapat di sawah.
Memetik buah nangka
Pada hari yang lain mertuanya menyuruh Si Kabayan untuk memetik buah nangka yang sudah matang.
Pohon tersebut tumbuh di pinggir sungai dengan batang yang menjorok di atas sungai.
Lagi-lagi, Si Kabayan malas menuruti kemauan mertuanya. Setelah mertuanya terlihat mulai marah, Si Kabayan pun menurut.
Kemudian, Si Kabayan memanjat pohon dan memetik buah nangka yang telah masak. Sayangnya, buah nangka itu jatuh ke sungai.
Namun Si Kabayan tidak buru-buru mengambil buah nangka yang hanyut di sungai. Ia malah membiarkan buah tersebut terbawa arus sungai.
Mertua Si Kabayan heran melihat Si Kabayan pulang tanpa membawa buang nangka.
Lalu dengan nada jengkel, mertua Si Kabayan menanyakan buah nangka yang dipetiknya.
Dengan wajah polos, Si Kabayan mengatakan bahwa buah nangka itu telah dimintanya untuk pulang lebih dahulu.
Mertua Si Kabayan semakin tidak mengerti maksud menantunya ini.
Kemudian Si Kabayan menceritakan bahwa saat memetik buah nangka, buah tersebut jatuh ke sungai.
Ia membiarkan nangka itu hanyut dan akan tiba terlebih dahulu di rumah.
Namun, mertua Si Kabayan tidak mempercayai cerita itu, kemudian sang mertua menuduh Si Kabayan malas membawa nangka ke rumah.
Meski dimarahi mertuanya, Si Kabayan hanya tertawa-tawa.
Memetik kacang koro
Lain waktu, mertua Si Kabayan mengajak menantunya yang malas itu untuk memetik kacang koro di kebun.
Mereka membawa karung sebagai wadah kacang koro yang sudah dipetik.
Baru beberapa petik kacang koro yang diperoleh, Si Kabayan malas melanjutkan memetik kacang koro, ia memilih tidur di dalam karung.
Saat terdengar adzan Dhuhur, mertua Si Kabayan telah menyelesaikan pekerjaannya, ia keheranan karena tidak melihat Si Kabayan.
Sambil mengggerutu, mertua Si Kabayan menduga bahwa menantunya tersebut sudah pulang terlebih dahulu.
Mertua Si Kabayan terpaksa memanggul karung yang diduga kacang koro pulang ke rumah.
Sampai di rumah, mertua Si Kabayan terperanjat melihat isi karung itu adalah Si Kabayan.
Ia pun marah-marah kepada menantunya itu.
Masih jengkel dengan dengan peristiwa karung kacang koro, kali ini mertua Si Kabayan ingin membalas dendam perilaku menantunya.
Saat, mereka kembali memetik kacang koro.
Diam-diam, mertua Si Kabayan masuk ke dalam karung dan tidur dengan harapan ia akan dipanggul saat pulang ke rumah oleh menantunya.
Saat adzan Dhuhur terdengar, Si Kabayan menghentikan pekerjaannya namun ia tidak melihat mertuanya.
Tak sengaja ia melihat mertuanya tengah tidur di dalam karung.
Bukan memanggul seperti yang dilakukan mertuanya, Si Kebayan malah menyeret karung yang berisi mertuanya tersebut pulang ke rumah.
Mertuanya meronta-ronta meminta Si Kabayan berhenti menyeret karung itu.
Namun Si Kabayan malah berdalih bahwa karung digunakan untuk tempat kacang koro sambil terus menyeret karung itu hingga tiba di rumah.
Kakek penunggu lubuk
Sejak kejadian itu, mertua Si Kabayan mendiamkan Si Kabayan , ia tidak mau berbicara bahkan melengos saat bertatap mata dengan menantunya itu.
Si Kabayan menyadari bahwa mertuanya membenci dirinya setelah kejadian menyeret karung kacang koro.
Si Kabayan juga tidak nyaman karena tidak diajak bicara oleh mertuanya itu.
Akhirnya, Si Kabayan mencari cara agar mertunya tidak membeci dirinya.
Kemudian, ia bertanya pada istrinya mengenai nama asli mertuanya.
Namun, Nyi Iteung berpesan pada suaminya agar tidak menyebarkan rahasia itu.
Kemudian, Si Kabayan mencari air enau yang masih kental dan diambil kapuk dalam jumlah banyak.
Ia membasahi tubuhnya dengan air enau dan menutupi dengan kapuk.
Selanjutnya, Si Kabayan memanjat pohon dan duduk di dahan sambil menunggu mertuanya yang akan mandi.
Saat mertuanya sedang mandi, dari atas pohon Si Kabayan berseru dengan menyebut nama asli mertunya, Nolednad.
Mertua Si Kabayan yang tengah mandi kaget mendengar namanya dipanggil dan mencari sumber suara.
Ia semakin kaget melihat makhluk putih menyeramkan dalam pandangannya.
Makhluk bertubuh putih itu menyebut dirinya kakek penunggu lubuk.
Kakek penunggu lubuk itu meminta mertua Si Kabayan untuk menyayangi Si Kabayan yang dianggap sebagai cucu oleh kakek itu.
Mertua Si Kabayan juga diminta untuk mengurus sandang dan pangannya.
Jika menuruti perintah kakek itu, maka mertua Si Kabayan dijamin keselamatannya.
Sejak kejadian tersebut, mertua Si Kabayan tidak membenci menantunya lagi bahkan mencukupi dengan sandang, pangan, dan membuatkan rumah meskipun kecil.
Si Kabayan juga sadar akan sifat buruknya, ia mengubah sifatnya dan tidak bermalas-malasan lagi.
Si Kabayan bekerja sebagai buruh untuk mencukupi kehidupan rumah tangganya.
Nyi Iteung semakin sayang kepada Si Kabayan.
Sebaliknya, Si Kabayan juga bertambah sayang pada istri dan mertua yang tetap baik terhadap dirinya.
Pesan Moral Dongeng Si Kabayan Asal Jawa Barat
Bahwa seseorang harus rela berkorban untuk kelangsungan hidupnya.
Jika seseorang tidak berusaha maka tidak akan mencapai tujuannya.
Sifat malas hanya akan merugikan diri sendiri di kemudian hari. sumber: ppid.bandung.go.id dan labbineka.kemdikbud.go.id
2. Malin Kundang
Begini cerita rakyat Malin Kundang :
Konon pada zaman dahulu, di nelayan di Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat atau Minangkabau hiduplah seorang ibu yang dipanggil Mandeh Rubayah.
Mandeh Rubayah memiliki seorang putra bernama Malin .
Mandeh Rubayah dan Malin hidup dalam kondisi miskin.
Nama Malin menjadi Malin Kundang disebabkan Malin selalu dibawa kemana saja oleh Mandeh Rubayah saat mencari nafkah.
Kundang adalah bahasa Minang yang di Indonesiakan dan arti kata kundang adalah kata dasar mengundang yang berarti membawa kemana saja atau dibawa kemana saja.
Maka, Malin digelari oleh kawan sebayanya dengan Malin Kundang .
Tak tahan dengan gelar yang diberikan teman-temannya, Malin ingin mengubah hidupnya yang sudah menjadi lebih baik.
Sebagai seorang putra Minang, Malin bertekat untuk mengubah kehidupan keluarganya dengan istilah mambangkik batang tarandam (mengubah hidup hidup sudah menjadi hidup yang lebih baik).
Maka, Malin ingin pergi merantau.
Malin Pergi Merantau
Setelah dewasa, Malin meminta izin kepada sang ibu pergi merantau ke luar negerinya guna kehidupan yang lebih baik untuk memperbaiki nasib.
Saat itu ada sebuah kapal besar yang sedang berlabuh di Pantai Air Manis.
Mendengar permintaan itu, Mandeh Rubayah tidak langsung memberikan izin, karena khawatir terjadi sesuatu kepada putra satu-satunya.
Malin berusaha meyakinkan sang ibu bahwa ia akan baik-baik saja di perantauan.
Walau berat hati, Mandeh Rubayah melepas putranya pergi merantau dan membekalinya nasi bungkus serta tujuh buah pisang.
Sejak Malin pergi, setiap hari, Mandeh Rubayah pergi ke pantai untuk menunggu kedatangan sang buah hati.
Ia juga selalu mendoakan agar Malin baik-baik saja. Beberapa waktu kemudian, datanglah sebuah kapal di Pantai Air Manis.
Mandeh Rubayah langsung mencari keberadaan Malin, tetapi tidak menemukannya.
Mandeh Rubayah pun bertanya kepada setiap awak kapal maupun nakhoda kapal, tetapi belum juga menemukan putranya.
Selama bertahun-tahun, Malin tidak pernah terdengar lagi kabarnya.
Malin Kembali dari Rantau
Setelah penantian panjang, Mandeh Rubayah akhirnya mendengar kabar tentang Malin dari seorang nakhoda yang dulu membawa anaknya pergi.
Nakhoda itu mengatakan bahwa Malin sudah menikah dengan seorang gadis cantik keturunan bangsawan yang kaya raya.
Beberapa hari kemudian, datanglah sebuah kapal megah di Pantai Air Manis.
Penduduk setempat pun segera berkumpul di tepi pantai, karena mengira kapal tersebut milik seorang sultan atau pangeran.
Ketika kapal tersebut merapat, terlihat sepasang anak muda berdiri di anjungan dengan pakaian yang berkilauan.
Begitu mereka turun, Mandeh Rubayah segera menghampiri dan memeluk pria muda yang ia percaya sebagai Malin Kundang .
Pelukan Mandeh Rubayah membuat Malin merasa kaget, terutama setelah melihat penampilannya dengan pakaian compang-camping dan tubuh yang sudah tua renta.
Istri Malin juga merendahkan kondisi Mandeh Rubayah . Merasa malu di depan istrinya, Malin langsung menyanggah bahwa perempuan yang memeluknya bukanlah ibunya.
Mandeh Rubayah sangat terkejut mendengar perkataan Malin. Ia tidak menyangka anaknya tega berbuat demikian.
Tidak lama berselang, Malin kembali pergi bersama istri beserta kapal megahnya.
Malin Dikutuk Ibu Menjadi Batu
Dalam perasaan sangat sedih dan sakit hati akibat perbuatan putranya, Mandeh Rubayah mengadahkan tangan dan berdoa.
Ia memohon, apabila anak laki-laki tersebut bukan putranya, ia berharap agar perbuatannya dimaafkan.
Namun, jika benar pria muda yang dipeluknya adalah Malin Kundang, Mandeh Rubayah memohon keadilan Tuhan.
Tidak lama setelahnya, cuaca di tengah laut tiba-tiba menjadi gelap dan turun hujan yang sangat lebat.
Kapal Malin Kundang pun dihantam sebuah badai besar yang menghancurkannya menjadi berkeping-keping.
Akibatnya, tubuh Malin terbawa ombak hingga ke pantai. Esok harinya, terlihat sebuah bongkahan batu besar menyerupai manusia di pinggir pantai.
Batu tersebut dipercayai merupakan tubuh Malin Kundang yang sudah dikutuk oleh ibunya menjadi batu lantaran durhaka.
Saat ini, batu Malin Kundang dipercaya benar-benar ada di Pantai Air Manis, Sumatera Barat. sumber data: Kompas.com
3. Hikayat Bayan Budiman
Untuk membaca Hikayat Bayan Budiman klik di SINI
Demikian 3 contoh dongeng parabel yakni dongeng parabel Sunda Si Kabayan dan dongeng parabel Malin Kundang serta dongeng parabel Hikayat Bayan Budiman .
( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )