Kemarau Panjang Picu Darurat Air Baku, Operasional Intake Sungai Bilu Berhenti 24 Jam
Hari Widodo August 28, 2026 06:52 AM

 

BANJARMASINPOST.CO.ID – Di tengah musim kemarau yang berkepanjangan, ketersediaan air baku di Kalimantan Selatan mulai tertekan. Kondisi itu diperparah dengan meningkatnya kebutuhan air untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Banjarmasin, Sandi Erryanto mengakui bahwa kondisi sumber air saat ini mengkhawatirkan. Sejumlah sumber air yang sebelumnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat dan irigasi, kini juga harus digunakan untuk penanganan karhutla.

“Kita mengingatkan masyarakat supaya hemat air, karena kondisi sumber air kita tidak baik-baik saja,” katanya, Kamis (27/8/2026).

Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi Intake Pematang milik PDAM Bandarmasih untuk kebutuhan air baku, sudah hampir mencapai level nol.

Menurut Sandi, kondisi tersebut berkaitan dengan penurunan muka air di sistem Sungai Riam Kanan.

Baca juga: Kadar Garam Tinggi Capai 5.000 PPM di Intake Sungai Bilu, PAM Bandarmasih Oplos Air Baku dari IPA 2

Bendungan Riam Kanan juga tidak mendapatkan tambahan air atau inflow yang memadai selama kemarau, di sisi lain, kebutuhan air tetap berjalan.

Selain Riam Kanan, BWS mencatat kondisi penurunan muka air terjadi di Sungai Riam Kiwa, Sungai Martapura, dan Sungai Amandit.

Dari pemantauan BWS, beberapa titik muka air sungai turun sekitar 1 hingga 4 meter dibandingkan kondisi Mei 2026.

Berdasarkan dokumen perencanaan Wilayah Sungai (WS) Barito, kebutuhan air rumah tangga tercatat sekitar 4,468 meter kubik per detik.

Selain rumah tangga, kebutuhan air dalam dokumen tersebut juga mencakup industri sekitar 0,894 meter kubik per detik dan perkotaan 0,447 meter kubik per detik. 

Sementara kebutuhan untuk irigasi mencapai 128,336 meter kubik per detik untuk areal sekitar 102.667 hektare.

Sandi menegaskan angka tersebut merupakan kebutuhan yang tercantum dalam dokumen perencanaan WS Barito dan tidak seluruhnya dipenuhi dari satu sumber air.

Pemenuhannya berasal dari berbagai sumber, seperti sungai, bendungan, bendung, embung, air tanah dan sumber lainnya.

Persoalan makin kompleks ketika ketersediaan yang terbatas tersebut juga digunakan untuk penanganan karhutla.

Untuk menjaga pasokan air, BWS saat ini mengoptimalkan sumber-sumber air yang tersedia.

Sejumlah sumur dalam yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan irigasi kini juga dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan air baku.

BWS Kalimantan III juga mencatat sedikitnya terjadi penurunan tinggi muka air di delapan embung yang tersebar di Kabupaten Banjar, Baritokuala, Tanahlaut, Tanahbumbu, dan Kotabaru.

Penurunan muka air tersebut membuat cadangan air pada embung menjadi makin terbatas.

Operasional Intake Sungai Bilu Dihentikan

Kondisi yang diungkapkan Plt Kepala BWS Kalimantan III Banjarmasin ini juga tergambar dari lonjakan kadar garam pada sumber air baku di Banjarmasin yang kian mengkhawatirkan. Bahkan PT PAM Bandarmasih terpaksa menghentikan total operasional Intake Sungai Bilu selama 24 jam, akibat tingkat salinitas air yang naik drastis menembus angka 5.000 PPM, jauh melampaui batas aman pengolahan sebesar 300 PPM.

Penghentian instalasi pengolahan yang memiliki kapasitas produksi hingga 600 liter per detik tersebut, membuat pihak direksi dan manajemen harus memutar otak agar pasokan air bersih ke rumah-rumah warga tidak macet total.

Direktur Utama PAM Bandarmasih, Zulbadi mengungkapkan, sebelum penghentian total selama sehari penuh, durasi penghentian intake sempat berlangsung secara bertahap mulai dari 8 jam, 12 jam, hingga 17 jam.

"Penanganan yang dilakukan, kita mengambil air baku dari IPA 2, kita mix. Air yang diambil di Intake Sungai Bilu seperempatnya, lalu kita mix dengan air tawar yang ada dari IPA 2, kemudian diolah dan didistribusikan kepada masyarakat," terangnya.

Upaya pengoplosan air baku dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 Pramuka tersebut, berdampak pada penurunan tekanan distribusi air, terutama bagi pelanggan yang bermukim di kawasan ujung jaringan pelayanan.

Di wilayah Utara, penurunan debit air berdampak dari Booster Banua Anyar hingga ke sebagian kawasan Sungaiandai di bagian ujung di antaranya Kompleks Mutiara dan Akasia.

Sedangkan di wilayah Barat, meliputi Pasir Mas dan Pelambuan, serta wilayah Selatan yakni Basirih, air dilaporkan masih mengalir namun dengan debit yang kecil.

Kondisi ‘sulit air’ dirasakan warga Pekauman, Aina yang terpaksa sangat irit dalam pemakaian air leding karena sempat mati total dari pagi hingga sore hari. "Sempat minta tetangga yang masih mengalir pelan, saat di rumah saya mati total," ungkapnya.

Warga lainnya Arpah, yang tinggal di Jalan RK Ilir mengaku aliran air PAM yang sangat kecil membuatnya bergantung pada air sungai untuk keperluan sehari-hari.

Baca juga: Pasokan Air Baku Minim di Banjarmasin Imbas Kemarau, PAM Bandarmasih Gelar Salat Istisqa

Imbas intrusi air laut beberapa pekan terakhir, air sungai setempat pun menjadi asin.

Akibat kondisi tersebut, ia tak lagi berani menggunakan air sungai untuk mandi walau air PAM alirannya kecil. "Air sungai dipakai untuk cuci piring dan baju. Namun setelah dicuci pakai air sungai, tetap harus dibilas lagi menggunakan air PAM," ujar Arpah.

Terpisah Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banjarmasin, Ichrom Muftezar yang kemarin hadir menunaikan Salat Istisqa bersama jajaran PT PAM Bandarmasih mengakui, minimnya intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir telah berdampak langsung terhadap proses produksi serta pelayanan distribusi air bersih kepada pelanggan.(naa/msr)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.