TRIBUNKALTIM.CO - Harga bahan bakar minyak atau BBM di SPBU Pertamina masih menjadi perhatian masyarakat, termasuk bagi warga Kalimantan Timur yang menggunakan kendaraan untuk mendukung aktivitas sehari-hari.
Daftar harga BBM Pertamina di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan adanya perbedaan harga untuk sejumlah jenis BBM nonsubsidi.
Sementara itu, harga BBM bersubsidi masih dipertahankan pemerintah hingga akhir tahun 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan Pertalite dan Biosolar subsidi tidak mengalami kenaikan harga hingga 31 Desember 2026.
Dengan kebijakan tersebut, Pertalite tetap dijual seharga Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar subsidi berada pada harga Rp6.800 per liter.
Pemerintah mempertahankan harga kedua jenis BBM tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang kegiatan ekonomi.
Berbeda dengan BBM bersubsidi, harga sejumlah produk BBM nonsubsidi Pertamina, seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, tidak sama di seluruh daerah. Di Kalimantan Timur, harga Pertamax tercatat Rp16.300 per liter, Pertamax Turbo Rp18.700 per liter, Dexlite Rp20.150 per liter, dan Pertamina Dex Rp21.650 per liter.
Baca juga: Aturan Baru BBM Subsidi Balikpapan, Isi Pertalite Ada Jam Khusus dan Biosolar Ganjil-Genap
Provinsi Aceh
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Sumatera Utara
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Sumatera Barat
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.100
Dexlite: Rp20.550
Pertamina Dex: Rp22.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Riau
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.100
Dexlite: Rp20.550
Pertamina Dex: Rp22.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Kepulauan Riau
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.100
Dexlite: Rp20.550
Pertamina Dex: Rp22.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Jambi
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Bengkulu
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Sumatera Selatan
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Bangka Belitung
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Lampung
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi DKI Jakarta
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp15.950
Pertamax Turbo: Rp18.300
Dexlite: Rp19.700
Pertamina Dex: Rp21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Banten
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp15.950
Pertamax Turbo: Rp18.300
Dexlite: Rp19.700
Pertamina Dex: Rp21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Jawa Barat
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp15.950
Pertamax Turbo: Rp18.300
Dexlite: Rp19.700
Pertamina Dex: Rp21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Jawa Tengah
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp15.950
Pertamax Turbo: Rp18.300
Dexlite: Rp19.700
Pertamina Dex: Rp21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi DI Yogyakarta
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp15.950
Pertamax Turbo: Rp18.300
Dexlite: Rp19.700
Pertamina Dex: Rp21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Jawa Timur
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp15.950
Pertamax Turbo: Rp18.300
Dexlite: Rp19.700
Pertamina Dex: Rp21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Bali
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp15.950
Pertamax Turbo: Rp18.300
Dexlite: Rp19.700
Pertamina Dex: Rp21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Nusa Tenggara Barat
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp15.950
Pertamax Turbo: Rp18.300
Dexlite: Rp19.700
Pertamina Dex: Rp21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp15.950
Pertamax Turbo: Rp18.300
Dexlite: Rp19.700
Pertamina Dex: Rp21.150
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Kalimantan Barat
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Kalimantan Tengah
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Kalimantan Selatan
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Kalimantan Timur
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Kalimantan Utara
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.650
Pertamax Turbo: Rp19.100
Dexlite: Rp20.550
Pertamina Dex: Rp22.100
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Sulawesi Utara
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Gorontalo
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Sulawesi Tengah
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Sulawesi Tenggara
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Sulawesi Selatan
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Sulawesi Barat
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: Rp18.700
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Maluku
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: -
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: -
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Maluku Utara
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: -
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: -
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Papua
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: -
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: -
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Papua Barat
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: -
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Papua Selatan
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: -
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: -
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Papua Pegunungan
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: -
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: -
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Papua Tengah
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: -
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: -
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Provinsi Papua Barat Daya
Pertalite: Rp10.000
Pertamax: Rp16.300
Pertamax Turbo: -
Dexlite: Rp20.150
Pertamina Dex: Rp21.650
Biosolar Subsidi: Rp6.800
Aturan Baru BBM Subsidi Balikpapan, Isi Pertalite Ada Jam Khusus dan Biosolar Ganjil-Genap
Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menerapkan aturan baru terkait penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar.
Ketentuan tersebut berlaku mulai 1 September 2026 dan mengatur sejumlah hal, mulai dari jam pelayanan Pertalite, kendaraan yang diperbolehkan mengisi Biosolar, hingga periode pengisian berdasarkan nomor polisi kendaraan.
Informasi tersebut disampaikan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Balikpapan melalui akun Instagram resminya, @dishub.balikpapan, Rabu (26/8/2026).
Aturan baru ini merujuk pada Surat Edaran Wali Kota Balikpapan Nomor 500.10.1/2094/E/SETDA tentang Penyaluran BBM Bersubsidi Jenis Biosolar dan Pertalite di Kota Balikpapan.
Masyarakat yang akan membeli BBM subsidi di sejumlah SPBU di Balikpapan perlu memperhatikan ketentuan tersebut agar tidak salah waktu maupun lokasi pengisian.
Baca juga: Update Harga BBM Terbaru Kamis 27 Agusus 2026, Cek Harga Pertalite hingga Dexlite Seluruh Indonesia
Untuk BBM jenis Pertalite, terdapat penyesuaian jam pelayanan bagi kendaraan roda dua dan roda empat.
Pengaturan tersebut berlaku di tiga SPBU, yakni SPBU M.T. Haryono, SPBU Gunung Guntur, dan SPBU Sepinggan.
Dengan adanya ketentuan ini, masyarakat yang menggunakan sepeda motor maupun mobil perlu menyesuaikan waktu pengisian Pertalite dengan jam pelayanan yang telah ditetapkan pada masing-masing SPBU.
Pertalite merupakan BBM bensin bersubsidi dengan angka oktan atau Research Octane Number (RON) 90.
Selain Pertalite, Pemkot Balikpapan juga memberlakukan pengaturan untuk penyaluran Biosolar.
Biosolar merupakan BBM jenis solar yang digunakan untuk kendaraan bermesin diesel.
Pengisian Biosolar akan diatur berdasarkan jenis kendaraan serta periode pengisian yang disesuaikan dengan nomor polisi ganjil dan genap.
Ketentuan tersebut berlaku di SPBU yang telah ditentukan dalam aturan penyaluran BBM bersubsidi.
Artinya, pemilik kendaraan yang menggunakan Biosolar perlu memperhatikan nomor polisi kendaraannya sebelum datang ke SPBU.
Baca juga: Yayasan Konsumen Balikpapan Kritik Kebijakan Jam Operasional Penyaluran BBM Subsidi
Pengaturan khusus juga diterapkan bagi Bus Bacitra dan Bus Antar Moda Balikpapan-IKN.
Kedua layanan bus tersebut dapat memperoleh pelayanan Biosolar di SPBU Kariangau pada pukul 22.00 hingga 24.00 WITA.
Bus Bacitra merupakan layanan angkutan umum dalam kota Balikpapan, sedangkan bus antar moda Balikpapan-IKN melayani perjalanan yang menghubungkan Balikpapan dengan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dishub Balikpapan juga mengingatkan masyarakat mengenai aturan antrean kendaraan di SPBU Kariangau.
Kendaraan yang sedang mengantre untuk mendapatkan BBM bersubsidi tidak diperbolehkan mengambil posisi di bahu maupun badan kiri dan kanan Jalan Sultan Hasanuddin.
Ketentuan ini diterapkan untuk menjaga ketertiban antrean sekaligus mencegah antrean kendaraan mengganggu arus lalu lintas.
Dengan demikian, masyarakat yang hendak mengisi BBM subsidi di SPBU Kariangau diminta mengikuti arahan petugas dan tidak membuat antrean hingga menggunakan badan jalan.
Seluruh ketentuan tersebut mulai diberlakukan pada 1 September 2026.
Dishub Balikpapan mengimbau masyarakat untuk memperhatikan aturan baru tersebut sebelum melakukan pengisian BBM bersubsidi.
Pengaturan jam pelayanan, jenis kendaraan, periode pengisian Biosolar, hingga antrean di SPBU diharapkan membuat penyaluran BBM subsidi lebih tertib serta menjaga kelancaran lalu lintas di Kota Balikpapan.
Tanggapan Warganet
Aturan baru penyaluran BBM bersubsidi di Balikpapan turut mendapat sorotan dari warganet.
Sejumlah pengguna Instagram mempertanyakan efektivitas pembatasan waktu pelayanan Pertalite maupun penerapan sistem ganjil-genap untuk Biosolar.
Salah satu warganet menilai pembatasan waktu pengisian Pertalite untuk kendaraan roda empat berpotensi membuat antrean semakin panjang.
Ia menyoroti kondisi di SPBU M.T. Haryono yang sebelumnya sudah memiliki antrean panjang meski pelayanan kendaraan roda empat berlangsung sekitar 15 jam, yakni pukul 06.00 hingga 21.00 WITA.
Menurutnya, jika pelayanan nantinya hanya tersedia selama sekitar delapan jam pada pukul 22.00 hingga 06.00 WITA, jumlah antrean justru dikhawatirkan semakin bertambah.
Warganet tersebut juga mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penambahan titik SPBU yang menyediakan Pertalite untuk membagi antrean kendaraan.
Ia turut menyinggung persoalan akses kendaraan menuju SPBU M.T. Haryono dan berharap pemerintah kembali mengevaluasi kebijakan tersebut.
Komentar lain datang dari akun Instagram @yuli******* yang menilai aturan tersebut belum menjawab persoalan yang ada.
"Pokoknya aneh lah ya. Masalah dan penyelesaiannya enggak match."
Baca juga: Viral! Pria Tiba-tiba Headstand di Tengah Antrean BBM SPBU Bontang
Sementara itu, akun @bland*** menyoroti dampak aturan ganjil-genap Biosolar terhadap sopir angkutan lintas Kalimantan.
Ia memberikan contoh ketika kendaraan dengan pelat nomor ganjil tiba di Balikpapan pada tanggal genap.
Dalam kondisi tersebut, kendaraan disebut tidak dapat melakukan pengisian Biosolar sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurutnya, kondisi itu dapat menyulitkan sopir karena kebutuhan BBM untuk perjalanan lintas Kalimantan cukup besar.
"Jika kami sampai Balikpapan pas tanggal genap, sedangkan plat nomer ganjil. Maka kami tidak bisa isi bio solar," tulisnya.
Ia menyebut kebutuhan BBM kendaraan untuk sekali perjalanan rata-rata mencapai 300 hingga 400 liter dan mengaku waktu perjalanan dapat tersita karena harus mengantre pengisian solar. (*)