Ustadz Ali Husein dari Martapura Kalsel Paparkan Perubahan Kaum Muslim Usai Peringati Maulid Nabi
Mulyadi Danu Saputra August 28, 2026 08:47 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Tiap bulan Rabiul Awal, ramai acara maulidan di kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru, peringatan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak hanya jadi kegiatan keagamaan. Tapi juga ruang bagi warga untuk pererat silaturahmi dan hidupkan kembali semangat gotong royong.

Wakil Ketua PCNU Kabupaten Banjar Bidang Bahtsul Masail dan Dakwah, ustadz Ali Husein, menuturkan, kemeriahan menyambut kelahiran Rasulullah pada hakikatnya merupakan bentuk kegembiraan atas hadirnya rahmat dan petunjuk Allah bagi manusia. 

“Karena itu, momentum tersebut semestinya diisi kegiatan yang semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala,” ujar anggota komisi Fatwa MUI Banjar itu kepada Serambi UmmaH, Rabu (26/8/2026).

Baca juga: Tausyiah di Acara Maulid Nabi di Banjarmasin, Ustadz Maulana Ungkap Lima Manfaat Bermajelis

Ali Husein mengatakan, peringatan Maulid Nabi perlu dipahami sebagai ungkapan syukur, kegembiraan dan kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bukan sebagai ibadah yang memiliki tata cara wajib tertentu.

Dia merujuk pandangan sejumlah ulama, di antaranya Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, yang menjelaskan kebolehan kegiatan maulid selama diisi  amalan yang memiliki dasar dalam syariat. 

“Yang harus dijaga bukan sekadar acara maulidnya, tapi isi dan caranya,” jelas Ali Husein.

Menurut dia, kegiatan seperti membaca Al-Qur’an, berselawat, mengaji sirah Nabi, bersedekah, memberi makan dan meneladani akhlak Rasulullah merupakan bentuk kegiatan yang baik. 

Ali Husein juga mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan perbedaan pandangan mengenai maulid sebagai alasan untuk saling mencela. “Berbeda dalam masalah cabang, tapi tetap bersaudara dalam masalah pokok,” katanya.

Perbanyak Amal Saleh

Selain itu, ustadz Ali Husein mengajak umat Islam perbanyak amal saleh saat tiba Rabiul Awal.

Di antaranya perbanyak selawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, bersedekah dan mempelajari perjalanan hidup Rasulullah.

Puasa sunah, terutama puasa Senin, juga dapat diperbanyak. 

"Hal ini berkaitan dengan hadis ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan, Senin merupakan hari kelahiran beliau sekaligus hari diturunkannya wahyu,” ujar dia.

Untuk bacaan selawat, menurut Ali, tidak ada satu lafaz khusus yang diwajibkan pada Rabiul Awal.

Yang lebih penting, sambungnya, bukan hanya jumlahnya, tapi cinta dan penghormatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang diwujudkan melalui selawat tersebut.

Momentum Introspeksi

Lebih jauh Ali menyampaikan, Rabiul Awal juga mengandung pesan tentang perjuangan dan kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Peristiwa hijrah mengajarkan pentingnya pengorbanan, perencanaan dan tawakal, sementara wafatnya Rasulullah mengingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala.

Karena itu, Rabiul Awal menurut Ali, tidak semata menjadi bulan untuk bergembira, tapi juga waktu untuk melakukan introspeksi.

“Rabiul Awal mengajarkan dua hal sekaligus: kegembiraan karena lahirnya Rasulullah dan kesadaran bahwa kehidupan beliau adalah amanah yang harus diteruskan melalui perjuangan umatnya,” katanya.

Peringatan Maulid pun dinilai akan lebih bermakna apabila menghasilkan perubahan perilaku.

Kecintaan kepada Nabi, diakui Ali, harus terlihat dalam kejujuran saat bekerja dan berdagang, kasih sayang kepada sesama, menjaga hubungan dengan tetangga, keluarga dan masyarakat, serta tidak mengambil hak orang lain.

“Kalau Nabi adalah rahmat bagi seluruh alam, maka kehadiran kita di tengah masyarakat juga semestinya membawa ketenangan, bukan keributan; membawa manfaat, bukan mudarat,” tegasnya.

Ustadz Ali Husein selaku Wakil Ketua PCNU Kabupaten Banjar
LAYANI JURNALIS - Ustadz Ali Husein selaku Wakil Ketua PCNU Kabupaten Banjar, Kalsel, jawab pertanyaan wartawan, beberapa waktu lalu.

Tradisi Berbagi Makanan

Adapun soal tradisi berbagi makanan yang banyak ditemukan dalam peringatan maulid di masyarakat, ustadz Ali menilai hal itu memiliki nilai sosial yang kuat.

Ketika warga memasak kemudian membagikan makanan kepada tetangga, fakir miskin, anak yatim atau jamaah, terdapat sejumlah nilai sekaligus, mulai dari rasa syukur, sedekah, silaturahmi hingga upaya membahagiakan orang lain.

“Cinta kepada nabi tidak berhenti di lisan, tetapi berubah menjadi manfaat bagi sesama,” kata Ali Husein.

Dia pun mengajak generasi muda untuk tidak sekadar mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melalui selawat, tetapi mempelajari sirah, perjuangan dan akhlak beliau.

Terlebih di tengah derasnya penggunaan media sosial, kecintaan kepada Rasulullah dapat diwujudkan dengan menjaga ucapan dan tulisan, tidak menyebarkan fitnah, tidak menghina orang lain dan menggunakan media sosial untuk hal yang bermanfaat.

Ali Husein berharap semangat Rabiul Awal tidak berakhir ketika rangkaian maulid selesai.

“Setelah bulan Maulid selesai, selawat jangan berhenti. Membaca sirah jangan berhenti. Bersedekah jangan berhenti. Mengaji jangan berhenti. Menjaga silaturahmi jangan berhenti,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan memanfaatkan momentum Rabiul Awal bukan diukur dari seberapa meriah acara yang digelar, tapi dari perubahan yang muncul setelahnya.

Jika seseorang menjadi lebih santun, rajin beribadah, gemar bersedekah, menjaga hubungan dengan sesama dan semakin banyak memberikan manfaat, maka semangat maulid telah meninggalkan bekas nyata dalam kehidupannya.

(Banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.