Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Aris Ninu
TRIBUNFLORES.COM,MAUMERE - Cerita warga Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berjuang menyelamatkan diri saat gempa Flores, Sabtu, 15 Agustus 2026 pagi lalu sungguh mengharukan.
Gempa berkekuatan M7,7 SR itu menelan sejumlah korban jiwa. Pada saat itu, ada yang berjuang penuh penderitaan dan ada juga yang bertaruh nyawa demi orang lain.
Adalah Ambrosius Adrianus Ambo alias Ambo, portir di Pelabuhan Lorens Say Maumere, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.
Moat Ambo begitu ia akrab disapa mengenang kembali peristiwa tragis itu. Menurut ayah lima orang anak ini mengaku perjuangan menyelamatkan diri dan orang lainnya di Pelabuhan saa itu membuat dirinya trauma.
Baca juga: SAKSI KATA: Rumah Terbakar di Ngada, Ramsi Abas: Saya Tidak Pikir Apa-apa, Hanya Anak Saya
“Saya pagi itu Sabtu, 15 Agustus 2026 sekitar pukul 03.00 Wita menuju ke pelabuhan bersama anak mantu saya. Pagi itu, kami ke pelabuhan karena Kapal Pelni KM Bukit Siguntang mau sandar di pelabuhan. Kami tunggu sampai jam 5 baru kapal sandar,”ujar warga Kabor yang sudah 10 tahun bekerja sebagai porter itu, kepada TRIBUNFLORES.COM di Kota Uneng, Kamis, 27 Agustus 2026 sore.
Ia bersama rekan-rekannya bekerja seperti biasa mengangkat barang penumpang dari atas kapal ke pelabuhan. Ia tak pernah menduga gempa terjadi ketika mereka sedang mencari nafkah di sana.
"Tidak ada tanda-tanda. Saya waktu itu sudah ada di depan dermaga mau kapal untuk cari barang penumpang yang mau menggunakan jasa saya. Tiba-tiba gempa, saya mau lari ke arah terminal tidak bisa karena ada goyang. Saya lalu lari menuju ke tangga kapal. Teman-teman saya begitu ada gempa mereka sudah naik di atas kapal. Saya lalu lari ke tangga kapal. Ketika gempa besar kami di atas tangga. Kami ada 10 orang. Ada delapan laki-laki dan dua perempuan. Mungkin karena gempa keras tangga kapal jatuh karena talinya terlepas dari kapal. Kami semua jatuh ke dalam laut,"ujarnya.
Ia mengaku dirinya sempat tenggelam ke dasar laut dan berhasil naik ke permukaan dengan susah payah.
"Saya sempat jatuh sampai ke dasar baru naik ke permukaan. Begitu di atas air ada seorang penumpang perempuan yang baru turun dari kapal yang jatuh dari tangga mencekik leher saya. Perempuan itu bilang ‘abang tolong saya, saya tidak bisa berenang’. Dia cekik leher saya. Saya tidak bisa bernafas. Saya lalu bilang ke wanita itu, ibu jangan cekik leher saya, ibu peluk saya saja dari belakang. Di atas kapal teman-teman saya sempat teriak meminta ibu itu jangan mencekik leher saya. Ibu itu lalu memeluk saya dari belakang. Ibu itu sambil memeluk saya tasnya tidak dilepas. Saya bilang ke ibu itu lepas tas tapi ia tidak mau,” ujar Moat Ambo.
Perjuangan untuk bertahan terus ia lakukan. Ia terus berusaha berenang ke pinggir dermaga memeluk tiang pelabuhan.
"Saya lalu berusaha ke pinggir guna memeluk tiang dermaga. Tiang dermaga itu saya peluk lalu ibu itu terus memeluk saya dari belakang. Tiang dermaga besar sekali. Saya hanya peluk sebagian saja. Saya berusaha bertahan. Kami berada di tiang dermaga selama satu jam. Kami kedinginan tapi masih terus ada goyang. Untung saja, ketika kami peluk tiang dermaga kapalnya tidak dipukul ombak ke dermaga lagi. Kapal itu bergeser lalu kami tidak terjepit. Kalau ada ombak pasti kapal merapat ke dermaga pasti kami terjepit. Yang jelas pasti kami mati. Selama satu jam kami bertahan tapi kapal itu tidak merapat ke dermaga. Tidak ada gelombang,”ujarnya.
Selama satu jam bertahan, suasana di dermaga mulai ramai kembali dan ada warga serta rekan-rekannya datang membantu memberikan pertolongan.
“Semua teman-teman saya yang selamat di atas kapal lalu turun ke dermaga. Semua mencari saya lalu mengangkat saya keluar ke pelabuhan. Saya langsung tidur karena kedinginan dan rasa cape. Ibu yang peluk saya saya tidak tahu namanya. Ibu itu saya tidak tahu tinggal di mana karena saya hanya lihat orang bawa dia ke rumah sakit. Saya tertidur karena terlalu lelah selama satu jam peluk tiang dermaga. Dingin lagi sehingga saya trauma. Gempa kali ini cukup keras,"paparnya.
Baca juga: SAKSI KATA: Kakak Kandung Korban Pembunuhan di Sikka: Saya Akan Perjuangkan Keadilan untuk Adik Saya
Ia pun mengisahkan, detik-detik terjadi gempa semua penumpang berusaha menyelamatkan diri. Semua rekan-rekannya lari ke kapal dan ke tempat aman.
“Semua pada lari. Dermaga sepi. Semua orang di dermaga dan di dalam terminal pada lari. Saya hanya lihat terminal penumpang goyang. Tapi saat terminal ambruk saya masih peluk tiang dermaga bersama ibu itu. Saya baru kali merasakan gempa keras dan sampai jatuh ke laut,” ungkapnya.
Ia menceritakan, kalau 10 orang yang jatuh dari tangga saat gempa semua berenang ke pinggir tapi ada satu ibu yang begitu jatuh langsung terapung di atas laut karena meninggal dunia.
“Saya sempat lihat ibu itu terapung di atas laut. Saya lihat teman-teman yang lain berenang ke pinggir. Hanya saya dan ibu ini yang bertahan di tiang dermaga sampai rekan saya datang membantu kami,” ujarnya.
Ia mengaku, setelah gempa mereda dirinya kembali ke rumah. Sampai di rumah keluarganya pun mengungsi.
“Saya sampai rumah istri dan anak-anak saya juga lari. Mereka tidak ada di rumah karena takut. Semua mengungsi ke tempat aman,” ujarnya.
Ia menuturkan, ibu yang ia tolong pun sampai hari ini pun tidak diketahui identitas dan alamatnya.
“Saya hanya ingat ketika di dermaga ibu ini panik karena gempa. Dia baru turun dari kapal dari Malaysia. Mungkin karena panik dia ikut kami dari belakang naik tangga kapal. Dia mau ke terminal takut karena sudah bangunannya goyang. Makanya, ia lari bersama-sama dengan kami mau naik ke atas kapal. Tetapi belum sempat naik kapal tali kapal putus sehingga kami jatuh ke air laut,” ucapnya.
Kejadian gempa Flores, membuat dirinya saat ini masih waswas dan siaga jika berada di pelabuhan.
“Ini gempa yang keras yang saya alami selama bekerja di pelabuhan,”ujarnya.(ris).