TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, mengaku masih kekurangan sarana dan prasarana untuk menangani kebakaran, khususnya kebakaran lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Mamuju saat ini
Kabid Damkar Mamuju, Randi Noertadi, mengatakan saat ini hanya terdapat empat unit armada yang siap beroperasi di kabupaten Mamuju yqng cukup luas
Padahal, kejadian kebakaran lahan terus berulang dan sebagian lokasi memiliki medan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam
Baca juga: Shio Naga & Monyet Lagi Gacor! Rezeki Nempel Terus, Dompet Jangan Sampai Jebol
Baca juga: Warga Pasangkayu Resah, Kabel Telkom Menjuntai dan Tumpuk dengan Kabel Listrik
"Untuk ready saat ini kami ada empat unit," kata Randi saat diwawancarai Tribun-Sulbar.com pada Rabu (26/8/2026)
Menurut Randi, keterbatasan armada menjadi salah satu kendala dalam penanganan kebakaran di wilayah Mamuju.
Sebab, seluruh armada masih terpusat di satu wilayah sehingga ketika terjadi kebakaran di daerah lain, petugas harus bergerak dari posko menuju lokasi kejadian yang biasanya cukup jauh
Randi menyebut Damkar Mamuju sangat membutuhkan tambahan armada untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat.
Ia bahkan berharap ke depan setiap kecamatan dapat memiliki minimal satu unit mobil pemadam kebakaran.
"Kalau bisa, di setiap kecamatan itu harus ada satu unit mobil pemadam kebakaran," ungkapnya.
Selain penambahan armada, Damkar Mamuju juga membutuhkan dukungan sarana dan prasarana lainnya, termasuk biaya perawatan serta operasional kendaraan.
Kebutuhan tersebut dinilai penting mengingat kondisi armada yang digunakan saat ini harus bekerja cukup keras dalam menangani berbagai kejadian kebakaran yang marak terjadi
Bahkan, dalam salah satu penanganan kebakaran lahan, satu unit armada Damkar sempat rusak dilokasi dan di derek ke Kantor damkar.
Di tengah kondisi kemarau saat ini, Randi mengimbau masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Menurutnya, api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan dapat menyebar dan mengancam permukiman warga.
Randi berharap seluruh stakeholder, mulai dari pemerintah kecamatan, kelurahan hingga kepolisian, ikut memberikan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya dan larangan membakar lahan.
Dengan tingginya kejadian kebakaran lahan dan kondisi medan yang sulit dijangkau, Randi berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kebutuhan armada, perawatan kendaraan, serta sarana dan prasarana.(*)
Laporan wartawan tribun-sulbar.com Baiq Sukma Widiawati