TRIBUNJABAR.ID, CILILIN - Dikepung bentangan Waduk Saguling seluas 5,96 kilometer persegi, Desa Budiharja di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kini menyita perhatian publik.
Desa berbentuk semenanjung ini menyimpan potret buram perjuangan pendidikan, di mana para siswa SD dan SMP terpaksa bertaruh nyawa menyeberangi perairan waduk menggunakan rakit bambu sederhana demi bisa sampai ke sekolah.
Desa Budiharja merupakan satu dari 11 desa yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.
Jaraknya sekitar 25 kilometer dari Kantor Bupati Bandung Barat di Ngamprah.
Butuh waktu sekitar 1 jam 8 menit dari Kantor Bupati Bandung Barat ke SDN Budiharja menggunakan motor.
Sementara jarak dari pemukiman utama desa menuju ibukota Kecamatan Cililin berkisar antara 4 hingga 7 kilometer, yang dapat ditempuh via jalur darat maupun rute penyeberangan perahu motor lokal melintasi teluk waduk.
Baca juga: BREAKING NEWS: Siswa di Cicilin Bandung Barat Bertaruh Nyawa, Tiap Hari Naik Rakit ke Sekolah
Sekolah Dasar (SD) yang terletak di wilayah Desa Budiharja secara administratif tercatat berada di bawah wilayah Kecamatan Cililin, yaitu SD Negeri Budiharja yang beralamat di Kampung. Gombong, Desa Budiharja.
Bangunan SDN Budiharja ini terletak di tepian Waduk Saguling.
Sisi depan adalah Jalan Pasirmeong sementara bagian belakang berbatasan dengan perairan waduk.
Desa Budiharja memang memiliki karakteristik topografi unik sekaligus menantang yang membedakannya dari desa-desa lain di Bandung Barat.
Memiliki luas wilayah sekitar 5,96 kilometer persegi (km⊃2;), Desa Budiharja dikenal sebagai kawasan semenanjung.
Daratan desa ini hampir seluruhnya dikelilingi oleh bentangan air Waduk Saguling, serta berbatasan langsung dengan area genangan desa tetangga seperti Desa Karangtanjung dan Desa Kidangpananjung.
Secara administratif, wilayah dengan kode pos 40562 ini terbagi ke dalam empat kedusunan utama, yaitu Dusun Pangrumasan, Dusun Kalangari, Dusun Sukamaju, dan Dusun Cikiray.
Selain ditunjang sarana pendidikan seperti SD Negeri Budiharja di Kampung Gombong, pemerintah desa juga aktif membagikan keterbukaan informasi publik melalui akun Instagram resmi @official_desabudiharja.
Namun, keberadaan Waduk Saguling yang mengepung daratan desa membuat aksesibilitas warga menjadi serba terbatas.
Jalur air kerap menjadi urat nadi utama mobilitas antar-kampung ketimbang jalur darat yang memutar jauh.
Keterbatasan fasilitas penyeberangan ini berdampak langsung pada aktivitas harian warga, termasuk anak-anak sekolah.
Baru-baru ini, potret perjuangan siswa di Desa Budiharja mendadak viral di media sosial usai diunggah akun Instagram @folkbandungbarat.
Dalam rekaman tersebut, terlihat rombongan anak sekolah berpakaian seragam SD dan SMP harus duduk berimpitan di atas rakit bambu sederhana untuk menyeberangi perairan Waduk Saguling demi sampai di ruang kelas tepat waktu.
Rakit bambu tanpa mesin tersebut digerakkan secara manual oleh seorang kakek yang meniti dan menarik tali kawat yang dibentangkan antar-sisi daratan di tengah hamparan keramba jaring apung warga.
Aksi nekat menyeberangi waduk tanpa perlengkapan pengaman standar ini membawa risiko keselamatan yang tinggi, terutama saat debit air meningkat.
Ketiadaan akses jembatan permanen di Desa Budiharja kini terus mendapat sorotan, dengan harapan adanya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat untuk segera membangun fasilitas penyeberangan yang layak dan aman.(*)