Pemkab Bangka Selatan Targetkan Produksi Bawang Merah Perdana Capai 6–8 Ton per Hektare
Ardhina Trisila Sakti August 28, 2026 12:41 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Enam hingga delapan ton bawang merah per hektare menjadi angka yang kini dibidik Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Target tersebut bukan sekadar angka produksi, tetapi menjadi ukuran keberhasilan uji coba perdana komoditas bawang merah di daerah. Jika hasilnya sesuai harapan, pengembangan akan memiliki dasar untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Selatan, Luhung Amin Firdaus, mengatakan target tersebut disesuaikan dengan kondisi budidaya yang masih dalam tahap percobaan.

Secara nasional, produktivitas bawang merah rata-rata berada di kisaran 8 hingga 10 ton per hektare. Namun, angka tersebut belum menjadi patokan utama karena petani di Kabupaten Bangka Selatan baru pertama kali melakukan budidaya pada lokasi demplot yang disiapkan.

“Kalau rata-rata nasional sebenarnya kita di angka 8 sampai 10 ton per hektare, tetapi kalau ini sifatnya baru demplot, di angka 6 sampai 8 saja sudah bagus,” kata dia kepada Bangkapos.com, Jumat (28/8/2026).

Menurutnya hasil panen dari demplot akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan apakah teknik budidaya bawang merah dapat diterapkan secara lebih luas di Kabupaten Bangka Selatan.

Evaluasi nantinya tidak hanya melihat jumlah produksi, tetapi juga kesesuaian tanaman terhadap kondisi lahan dan tata cara budidayanya. Dengan demikian, hasil percobaan pertama menjadi dasar sebelum pemerintah mendorong pengembangan pada lokasi lainnya.

Demplot bawang merah tersebut masing-masing berada di Desa Malik, Kecamatan Payung dan Desa Sidoarjo, Kecamatan Airgegas dengan luas setengah hektare.

Para calon penerima bantuan telah mendapatkan pelatihan mengenai budidaya dan standar operasional prosedur pertanaman bawang merah dari pemerintah provinsi. Sementara pelaksanaan penanaman masih menunggu benih yang akan didistribusikan dari provinsi.

“Kawan-kawan penerima bantuan atau penerima sudah dilatih di provinsi terkait budidaya dan standar operasional prosedur pertanaman bawang merah,” urai Luhung.

Penanaman diperkirakan dilakukan setelah benih diterima dan kondisi cuaca mendukung. Pemerintah memperkirakan waktu tanam berlangsung pada akhir Agustus atau awal September 2026 mendatang, dengan mempertimbangkan datangnya musim hujan.

Kondisi awal pertanaman akan menjadi bagian penting dalam melihat kemampuan tanaman bawang merah beradaptasi dengan lahan di Bangka Selatan.

Jika hasil demplot memenuhi target, pemerintah memiliki peluang untuk mengembangkan budidaya bawang merah pada wilayah lain yang dinilai potensial.

Sejumlah lokasi telah dipetakan, tetapi pengembangannya masih menunggu hasil percobaan di dua lokasi awal. Pemerintah tidak ingin melakukan perluasan sebelum mengetahui tingkat kecocokan tanaman dan hasil produksi di lapangan.

“Kalau memang cocok di demplot awal ini, nanti akan dikembangkan di tiga lokasi lain,” ungkapnya.

Lewat program ini kata Luhung, menjadi pijakan untuk membangun produksi bawang merah yang lebih konsisten di Kabupaten Bangka Selatan.

Dengan adanya data hasil produksi dari tahap awal, pemerintah dapat menentukan pola budidaya dan target yang lebih terukur untuk pengembangan berikutnya.

Hasil tersebut sekaligus menjadi tolok ukur apakah bawang merah layak menjadi salah satu komoditas pertanian yang dikembangkan secara berkelanjutan di daerah.

“Kalau untuk demplot baru pertama, kita harapkan hasil 6 sampai 8 ton per hektare sudah menjadi hasil yang bagus,” tukas Luhung.

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.