TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Bank SMBC Indonesia Tbk memperkuat kapabilitas pembiayaan perdagangan dan rantai pasok serta mendukung pengembangan ekosistem perdagangan yang lebih efisien, tangguh, dan berkelanjutan melalui kerja sama dengan Asian Development Bank (ADB).
Kerja sama tersebut membantu Bank SMBC Indonesia untuk memperluas pembiayaan bagi pelaku industri di berbagai segmen melalui unfunded risk participation scheme.
Dalam skema ini ADB berperan sebagai mitra partisipasi risiko strategis bagi portofolio pembiayaan perdagangan dan rantai pasok milik Bank SMBC Indonesia.
Kemitraan ini dirancang secara pruden untuk memperkuat mekanisme kontingensi kredit yang sudah berjalan dan menjaga kualitas kredit Bank SMBC Indonesia senantiasa di level yang sehat.
“Pembiayaan perdagangan dan rantai pasok memainkan peran yang semakin penting dalam menghubungkan pelaku usaha, mendukung kegiatan komersial, dan memperkuat rantai nilai,” kata Wakil Direktur Utama Bank SMBC Indonesia Jun Saito dikutip Jumat (28/8/2026).
“Kerja sama ini mencerminkan komitmen kami untuk terus meningkatkan kapabilitas serta menyediakan solusi yang mendukung kebutuhan bisnis nasabah yang terus berkembang dalam sebuah ekosistem bisnis yang lebih luas," sambungnya.
Ia menyebut, Bank SMBC Indonesia akan tetap menjalankan seluruh proses origination, administrasi, pengelolaan, dan pemantauan transaksi.
Baca juga: UMKM Sulit Akses Pembiayaan Perbankan, Hanya 3,51 Persen Punya Laporan Keuangan
Saito menyatakan, kerja sama ini sejalan dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik yang mencakup proses uji tuntas nasabah, kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, serta pemantauan portofolio secara berkelanjutan.
Kerangka kerja tersebut mendukung penerapan praktik perbankan yang berprinsip kehati-hatian dan sejalan dengan standar internasional.
Pembiayaan perdagangan dan rantai pasok merupakan salah satu solusi strategis Bank SMBC Indonesia untuk bertumbuh bersama nasabah di setiap tahapan rantai nilai, dengan meningkatkan kapabilitas sistem dan produk dari segmen korporasi hingga mikro.
Per akhir Juni 2026, perusahaan mencatat pertumbuhan kredit konsolidasi di segmen korporasi dan komersial sebesar 12,8 persen secara tahunan menjadi Rp116,5 triliun.
Baca juga: BI: Cadangan Devisa Akhir Juli 2026 Senilai 145,3 Miliar Dolar AS, Setara 5,5 Bulan Pembiayaan Impor
Pertumbuhan kredit juga dicatatkan oleh segmen bisnis lainnya, seperti Jenius yang tumbuh 9,9 persen secara tahunan menjadi Rp3,69 triliun, BTPN Syariah yang tumbuh 8,7 persen secara tahunan menjadi Rp11,03 triliun, serta pembiayaan melalui anak usaha OTO & SOF yang meningkat 5,8% secara tahunan menjadi Rp31,89 triliun.
“Sinergi ini diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan bagi dunia usaha, meningkatkan ketahanan ekosistem perdagangan dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Saito.