Asa Cori Junfaly Menyemai Terumbu Karang, Merawat Istana Bahari di Raja Ampat
Intan August 28, 2026 03:38 PM

TRIBUNSORONG.COM, WAISAI – Cori Junfaly, seorang perempuan muda asal Kampung Yenbekwan, sehari-hari terlibat dalam gerakan restorasi terumbu karang di perairan Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Saban hari, perempuan berusia 28 tahun yang juga tergabung di dalam Yayasan Orang Laut Papua ini tampak menikmati gerakan restorasi karang di kawasan UNESCO Global Geopark tersebut.

Cori Junfaly mengatakan bahwa dirinya sejak 2023 lalu merasa terpanggil dan telah terlibat di dalam gerakan menanam terumbu karang.

"Saya dan teman-teman saat ini lebih fokus lakukan pendampingan dan restorasi di areal Selat Dampier, Raja Ampat," ujar Cori kepada TribunSorong.com, Jumat (28/8/2026).

Gerakan restorasi terumbu karang ini awalnya merupakan inisiatif dari pendiri (founder) Yayasan Orang Laut Papua. Meskipun mereka warga negara asing, mereka memiliki rasa cinta kepada Raja Ampat.

Upaya penanaman ulang terumbu karang ini dimulai di Kampung Arborek pada 2018, lalu berlanjut ke seluruh kawasan Selat Dampier.

Gerakan restorasi karang secara berkala kini tersebar di 10 kampung, mulai dari Sapokren, Yenbekwan, Sawandarek, Yenaupnor, Yenbuba, Sawinggrai, Kapisawar, Arborek, Kri, hingga Kurkapa, Raja Ampat.

Baca juga: Tiket Kapal Belibis Sorong - Waisai Naik Mulai September, KTP Raja Ampat Tetap Rp125 Ribu

Baca juga: Deklarasi Arborek: 20 Sub Suku Adat Raja Ampat Tolak Pertambangan

"Lewat gerakan ini kita ingin memberikan dampak positif, sehingga ekosistem alam bahari Raja Ampat selalu terjaga," katanya.

Ia menjelaskan, selama ini wisatawan baik lokal, nasional, hingga internasional berkunjung ke Raja Ampat karena ingin menikmati kekayaan baharinya, sehingga laut harus dilindungi oleh semua pihak.

"Kita sebagai manusia hidup butuh rumah, kondisi itu juga dialami oleh biodiversitas yang ada di laut, sehingga butuh gerakan restorasi karang secara intensif," ucapnya.

"Areal Meos Mansar juga jadi rumah bagi spesies Pari Manta yakni genus Mobula."

Sebagai informasi, genus Mobula tersebut diketahui memiliki tiga spesies, yakni M. birostris yang terbesar sekitar 7 m (23 kaki), M. yarae 6 m (20 kaki), dan M. alfredi yang paling kecil 5,5 m (18 kaki).

Alumnus Fakultas Perikanan Universitas Papua (UNIPA) itu menjelaskan, melalui aksi transplantasi karang, laut tetap lestari dan menjadi rumah bagi jutaan spesies biodiversitas.

Selama kegiatan berlangsung, pihaknya juga diperhadapkan dengan tantangan, yaitu perubahan cuaca dan aktivitas nelayan nakal.

"Kita sudah beberapa kali dapat laporan dari warga bahwa aktivitas nelayan nakal leluasa masuk dan bom ikan, hingga bius, sehingga mengancam nasib terumbu karang," katanya.

Baca juga: Masyarakat Adat dan Greenpeace Transplantasi Terumbu Karang di Arborek Raja Ampat

Baca juga: Status UNESCO Global Geopark Raja Ampat Direvalidasi, Greenpeace: Terancam Kartu Kuning

Gandeng Warga Lokal

Tak hanya itu, Cori juga menegaskan bahwa kegiatan transplantasi terumbu karang turut melibatkan masyarakat adat di Raja Ampat.

"Saya sebagai perempuan pesisir bangga, sebab sejak kecil dididik hidup berdampingan dengan laut, gerakan sederhana ini menjadi dampak positif ke biodiversitas," tuturnya.

Perempuan asal Yenbekwan ini menjelaskan, selama ini para mama memegang peran penting dalam menjaga kelestarian pesisir.

Pihaknya ingin gerakan seperti transplantasi atau restorasi terumbu karang melibatkan masyarakat luas, terutama perempuan, sehingga biodiversitas di laut selalu terjaga.

"Saya pikir gerakan restorasi terus berlanjut, sehingga melibatkan adik-adik di sekolah dasar, supaya semua merasa bertanggung jawab atas jaga kekayaan bahari," ucapnya.

Setelah melakukan restorasi, pihaknya juga memantau dan melaporkan kondisi terumbu karang di Selat Dampier secara berkala.

Tambang Rusak Istana Bahari

Sejak awal gerakan restorasi dirintis, masyarakat di 10 kampung memberikan respons positif sehingga mau terlibat dalam aksi-aksi menjaga biodiversitas di wilayah laut.

Rata-rata masyarakat menyadari bahwa tambang memang bisa memberikan keuntungan, tetapi hasilnya cukup instan dan tidak menjamin masa depan lingkungan, termasuk wilayah perairan.

"Saya dan orang tua di pulau-pulau sekitar ini sudah sejak lama menganggap bahwa sektor pariwisata dan perikanan merupakan suatu pemasukan abadi bagi masyarakat," katanya.

"Sebagai perempuan pesisir, saya percaya bahwa wisata dan perikanan adalah ATM abadi buat kita dan anak cucu nanti."

Pihaknya berharap setiap kebijakan pejabat pemerintah harus didahului dengan kajian yang panjang dan tidak asal mengeluarkan izin yang berpotensi memberi efek negatif kepada generasi mendatang. 

(tribunsorong.com/safwan ashari)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.