Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi
TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG – Kondisi udara di sejumlah wilayah Kabupaten Rejang Lebong mulai dikeluhkan warga seiring munculnya kabut tipis yang diduga berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Keluhan warga terutama dirasakan pada malam hari. Udara disebut mulai memiliki aroma yang kurang enak, sementara dari kejauhan terlihat kabut putih yang muncul di sejumlah kawasan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rejang Lebong. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas udara, khususnya ketika beraktivitas di luar rumah.
Kepala Dinkes Rejang Lebong, drg Asep Setia Budiman, mengimbau masyarakat menggunakan masker sebagai langkah perlindungan terhadap paparan debu maupun asap.
"Waspadai asap dan debu, kita menghimbau masyarakat untuk gunakan masker,"jelas Asep kepada TribunBengkulu.com pada Jumat (28/8/2026).
Asep mengatakan, kabut asap yang mulai terasa di Rejang Lebong diduga merupakan dampak kiriman asap dari karhutla yang terjadi di wilayah Sumatera Selatan dan Jambi.
Menurutnya, paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan. Kondisi ini perlu lebih diperhatikan oleh masyarakat yang sebelumnya memiliki gangguan atau penyakit pada organ pernapasan.
"Kami anjurkan menggunakan masker, terutama saat beraktivitas di luar rumah, mari mewaspadai gangguan saluran pernapasan,"kata Asep.
Meskipun begitu, penggunaan masker saat ini masih sebatas imbauan dan belum menjadi kewajiban bagi masyarakat. Dinkes meminta warga tidak mengabaikan perubahan kondisi udara yang mulai terjadi di sejumlah wilayah.
Asep menyebut, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Rejang Lebong sejak Januari hingga akhir Juli 2026 mencapai 9.082 kasus.
Namun, seluruh kasus tersebut tidak dapat dikaitkan langsung dengan kondisi kabut asap dari karhutla.
Menurut Asep, musim kemarau dan perubahan kondisi cuaca juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi meningkatnya gangguan saluran pernapasan.
"Dari awal tahun tercatat kasus ISPA sudah sebanyak 9.082 orang. Tetapi kasus tersebut tidak semuanya akibat asap karhutla,"jelasnya.
Ia menambahkan, kabut asap dapat menjadi faktor tambahan yang berpotensi memperburuk kondisi saluran pernapasan masyarakat. Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, atau gangguan pernapasan lainnya yang tidak membaik.
"Segera ke faskes jika mengalami gangguan pada saluran pernapasan,"himbaunya.
Dinkes Rejang Lebong juga memastikan fasilitas pelayanan kesehatan tetap siap menghadapi kemungkinan meningkatnya keluhan masyarakat akibat penurunan kualitas udara.
Sebanyak 21 puskesmas yang tersebar di 15 kecamatan telah disiapkan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Selain puskesmas, kesiapan juga dilakukan di RSUD Rejang Lebong, rumah sakit swasta, hingga sejumlah klinik kesehatan.
Asep memastikan ketersediaan obat-obatan dan oksigen di fasilitas kesehatan menjadi bagian yang diperhatikan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan.
"Apabila terdapat pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, fasilitas kesehatan juga disiapkan untuk melakukan rujukan ke rumah sakit sesuai kondisi pasien,"papar Asep.
Selain menggunakan masker ketika berada di luar ruangan, Dinkes meminta masyarakat menjaga kondisi tubuh selama musim kemarau dan ketika kualitas udara mulai menurun.
Masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak buah-buahan, mencukupi kebutuhan air putih, serta tetap melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.
Warga juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi kabut asap semakin tebal.
Sementara itu, sejumlah warga mengaku mulai merasakan perubahan kondisi udara dalam beberapa hari terakhir.
Selain munculnya aroma udara yang dinilai kurang enak, kabut putih juga terlihat terutama pada malam hari. Warga menduga kondisi tersebut berkaitan dengan asap karhutla yang mulai memengaruhi wilayah Rejang Lebong.
"Iya pak, apalagi kalau malam, beberapa hari kemarin bahkan bau sekali udaranya, bahkan ada kabut,"keluh seorang warga, Okta.
Meski demikian, untuk memastikan sumber dan kualitas udara tersebut diperlukan pemantauan lebih lanjut dari instansi terkait.