Kronologi Meninggalnya Bambang Setiyawan, Sempat Pamit Lihat Aksi Demo 27 Agustus di Pejompongan
Joseph Wesly August 28, 2026 05:39 PM

 

Laporan wartawan wartakotalive.com, Yolanda Putri Dewanti

TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA– Bambang Setiyawan (59), warga Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, meninggal dunia setelah keluar rumah untuk melihat situasi aksi massa di sekitar tempatnya berjualan di Jalan Pejompongan Raya.

Bambang sempat berpamitan kepada istrinya, Sudarsi (56), sebelum keluar rumah pada Kamis (27/8/2026) malam.

Namun, hingga larut malam Bambang tidak kunjung pulang. Keluarga kemudian mengetahui kabar duka tersebut setelah anak Bambang mengenali sosok ayahnya dalam video yang beredar di media sosial.

Bambang Sempat Berjualan Cermin

Sebelum kejadian, Bambang masih berjualan cermin di pinggir Jalan Pejompongan Raya.

Sekitar pukul 16.30 WIB, Sudarsi meminta suaminya menutup dagangan karena melihat jumlah massa mulai bertambah di sekitar lokasi.

"Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, 'Itu massa udah banyak,' saya bilang tutup. Pas dia melihat, 'Oh ya udah, tutup.' Saya bantuinlah kan," ungkap Sudarsi di rumah duka, Jumat (28/8/2026).

Setelah menutup sebagian dagangan, Bambang sempat diminta mengantar seseorang yang sedang sakit ke Rumah Sakit Pelni.

Bambang kemudian berangkat bersama anaknya menggunakan sepeda motor.

Bambang Kembali ke Rumah Sekitar Pukul 21.00 WIB

Sekitar pukul 21.00-21.30 WIB, Bambang kembali ke rumah.

Saat itu, menurut Sudarsi, massa di Jalan Pejompongan Raya sedang didorong masuk ke kawasan tersebut.

Setelah situasi dianggap aman, Bambang kembali keluar rumah menuju toko cermin miliknya yang berada di pinggir jalan.

Sudarsi tidak melarang suaminya keluar karena mengira Bambang hanya ingin melihat situasi seperti yang biasa dilakukannya ketika terjadi kericuhan.

"Saya berpikir karena ada anak saya, saya nggak ngegah kan. Saya biarin dia keluar karena alasan dia memang biasanya kalau ada kejadian ini kan nggak sekali ini aja, udah berkali-kali, udah sering lah. Dia tuh cuma nonton gitu kan, kadang-kadang ngebantu ngisikin air buat cuci muka. Pikir saya, ya udah lah ya kan," jelas Sudarsi.

Bambang Tak Kunjung Pulang

Hingga larut malam, Bambang tidak juga kembali ke rumah.

Sekitar pukul 01.30 WIB, Sudarsi masih berusaha mencari keberadaan suaminya. Ia mendatangi tempat teman-teman Bambang dan meminta mereka menyampaikan pesan agar Bambang segera pulang apabila bertemu.

"Saya masih berharap ketemu kan. Ternyata saya ke situ nggak ada," kata Sudarsi.

Sudarsi kemudian pulang dan tidur sekitar 1,5 jam.

Sekitar pukul 02.30 WIB, ia terbangun dan melihat pesan WhatsApp dari teman yang sebelumnya diantar Bambang ke RS Pelni. Temannya tersebut menanyakan keberadaan Bambang.

Keluarga Tahu Bambang Meninggal dari Video

Sekitar pukul 04.00 WIB, Sudarsi akhirnya mendapat kepastian bahwa suaminya telah meninggal dunia.

Keluarga mengetahui kabar tersebut setelah anak Bambang mengenali sosok ayahnya dalam video yang beredar di media sosial.

"Justru kita tahunya dari video. Kita nggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu," tutur Sudarsi.

Jenazah Bambang diketahui telah dibawa ke Rumah Sakit Polri.

Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka di kawasan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat dan telah dimakamkan di TPU Kemanggisan, Jakarta Barat.

Bambang Disebut Sempat Dipukul Mundur Polisi

Ketua RT tempat Bambang tinggal, Aban Sobandi, mengaku berada di lokasi ketika kericuhan terjadi.

Namun, Aban tidak dapat melihat secara jelas apa yang dialami Bambang karena pandangannya terhalang kerumunan.

"Saya lihat tapi kehalangan. Cuma (dengar) ada yang mati katanya, ada yang mati di situ," jelas Aban.

Aban kemudian mengetahui lebih detail mengenai kejadian tersebut dari rekaman video yang dibuat salah seorang warganya.

"(Bambang) Digeret-geret," ucap Aban.

Warga lainnya, Aditia, juga membenarkan Bambang sempat kembali ke depan tempatnya berjualan.

Menurut Aditia, Bambang datang untuk mematikan lampu di toko cermin miliknya sebelum kondisi di lokasi semakin ramai.

"(Pak Bambang) balik lagi ke depan untuk matiin lampu kaca. Terus dipukul mundur sama polisi, dipukul mundur sama polisi," kata Aditia.

Aditia juga menyebut Bambang sempat dipukuli. Menurut dia, kejadian tersebut terekam dalam video.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.