TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Lalolae, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), mencapai 110 hektare, Jumat (28/8/2026).
Kebakaran tersebut terjadi di tiga desa dan kelurahan, yakni Desa Wesalo, Desa Kesio, dan Kelurahan Lalolae.
Kecamatan ini berjarak sekitar 127 kilometer dari ibu kota Provinsi Sultra, Kendari, dengan waktu tempuh sekitar 3 jam berkendara.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Koltim, Dewa Made Ratmawan, mengatakan karhutla di wilayah tersebut telah berlangsung sejak Jumat pekan lalu.
Api sempat mereda, tetapi kembali membesar pada Rabu (26/8/2026), sehingga penanganan masih terus dilakukan hingga saat ini.
Baca juga: Kendari Siaga Karhutla dan Kekeringan, Warga Diimbau Tak Buang Puntung Rokok Sembarangan
"Kebakaran di Kecamatan Lalolae ini sejak berlangsung Jumat lalu, cuma sempat reda. Namun, hari Rabu mulai membesar lagi, jadi kami lakukan penanganan berlanjut,” kata Made Ratmawan saat dikonfirmasi TribunnewsSultra.com, Jumat (28/8/2026).
Ia menyampaikan proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan peralatan.
Panjang selang yang tersedia belum mampu menjangkau seluruh titik api, sehingga petugas kesulitan mengalirkan air ke beberapa bagian lahan yang terbakar.
Kondisi tersebut diperparah dengan jarak sumber air yang cukup jauh, seperti di Desa Wesalo, sumber air berada lebih dari 4 kilometer dari lokasi karhutla.
“Kendala kami peralatan selang masih kurang panjang, sehingga tidak bisa menjangkau seluruh titik api untuk pemadaman, dan jarak sumber air juga sangat jauh,” jelasnya.
Baca juga: Waspada Karhutla di Sulawesi Tenggara: Kendari, Baubau, hingga Kolaka Masuk Kategori Berisiko Tinggi
Selain itu, akses menuju titik kebakaran juga sulit, sehingga proses penanganan di lokasi membutuhkan upaya lebih.
Cuaca panas dan tiupan angin kencang turut menyulitkan petugas, karena membuat kobaran api mudah menyala dan menyebar ke bagian lahan lainnya.
Lapisan gambut yang tebal juga menjadi tantangan dalam proses pemadaman.
Meski api di permukaan telah terlihat padam, bara masih dapat bertahan di bagian bawah tanah, dan bara tersebut dapat kembali memicu api apabila terkena tiupan angin.
Karena itu, penanganan dilakukan secara berlanjut untuk memastikan titik-titik yang terbakar benar-benar terkendali.
“Saat ini tim terpadu BPBD Koltim masih melakukan pemadaman di TKP karhutla,” jelasnya. (*)
(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)