BANGKAPOS.COM,BANGKA - Kesabaran dan fokus menjadi tantangan sekaligus keasyikan bagi Della, saat sedang menenun kain cual menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).
Mulai menenun sejak 2 tahun terakhir membuat wanita 25 tahun ini, kini mampu duduk diam mengolah ATBM mengubah benang menjadi kain cual dengan berbagai motif yang indah.
"Kalau sudah terbiasa menenun satu sampai tiga hari dapat satu potong bahan 2,5 meter, tapi kalau tidak terbiasa itu bisa 1 minggu cuma dapat 1 potong tenun," ujar Della, Jumat (28/8/2026).
Motif kain cual yang beragam, membuat ketertarikan Della hingga akhirnya mencoba dan hingga kini justru aktif sebagai penenun di Galeri Destiani Kota Pangkalpinang.
"Menarik tenunnya itu cara menyambungkan benangnnya itu gimana caranya, lalu bagaimana cara menyambungkan motifnya juga di dalam benangnya itu," ucapnya.
Untuk itu ketelitian, kesabaran dan fokus menjadi kunci, bagaimana proses waktu pengerjaan hingga menghasilkan berbagai produk kain cual.
Della mengatakan cukup 1 bulan belajar dengan tekun, ATBM pun dipastikan bukan lagi sesuatu yang sulit untuk dapat ditaklukkan hingga menghasilkan kain cual.
"Kalai kain cual motif maka benang motifnya itu, harus benar-benar nyambungnya itu harus pas dengan motif, kalau tidak maka motifnya itu kebalik. Kalau benang polos tinggal masuk, mainin ATBM pakai kaki sama tangan sudah jadi," bebernya.
Secara potensi menjadi penenun cual, diungkapkannya Della masih sangat terbuka besar peluangnya secara ekonomis.
Hal ini pun dibuktikannya melalui Galeri Destiani yang kain cualnya, banyak diminati tak hanya di Provinsi Bangka Belitung namun juga secara nasional dan internasional.
"Selagi masih bisa belajarlah menenun dari sekarang, karena tenun tuh sebenarnya asik tapi harus ketelitian dan kesabarannya. Kalau enggak kita yang mengangkat meneruskannya itu siapa lagi?, jadi anak-anak muda harus bergairah dengan tenun," tuturnya.
Sementara itu Nina Sarjulianto selaku Owner Galeri Destiani pun mengakui tantangan dalam dunia kain cual, yakni terbatasnya sumber daya manusia yang terampil dalam menenun.
"Generasi sekarang mereka kurang sabar, padahal kalau mereka tekun mau mulai belajar untuk menenun, itu juga untuk kedepannya mereka bisa menjadi pelaku-pelaku usaha tenun yang mana itu sangat menjanjikan juga untuk kehidupannya," kata Nina Sarjulianto.
Untuk di Galeri Destiani pun kini hanya memiliki enam penenun serta memiliki tujuh ATBM, sebagai garda terdepan memastikan kain cual khas Provinsi Bangka Belitung dapat terus eksis.
"Jumlah penenun sangat kurang, kita masih butuh terus mau 10 atau 12 penenun, tapi memang kita akui terbatas. Kita terus berusaha mengajak anak-anak muda ulatihan menenun, karena ini usaha sangat bagus menjanjikan," tuturnya.
Kini Nina Sarjulianto pun berpesan kepada generasi muda, untuk dapat bersama-sama melestarikan dan mengembangka kain cual yang merupakan budaya khas Bangka Belitung.
"Kita ingin kain cual bisa berkembang, bisa dikenal di seluruh Nusantara maupun luar negeri. Sebab orang yang memakai kain cual ini, mereka akan merasa secara langsung terhubung dengan budaya khas Bangka Belitung," ungkapnya. (Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy).