Terjepit Timah dan Sawit, Riwayat Suku Mapur di Tanah Sendiri
Ardhina Trisila Sakti August 28, 2026 07:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA --  Di tengah gempuran modernitas dan masifnya ekspansi industri ekstraktif, identitas lokal Kepulauan Bangka Belitung kembali dihadirkan dalam ruang akademis global.

Program Studi Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB) membuka sesi perdana mata kuliah Eurasia dan Dinamika Politik Global tahun akademik 2026/2027 dengan membedah sejarah serta tantangan eksistensial Masyarakat Adat Suku Mapur atau Orang Lom.

​Mengusung topik "Tracing the Historical Identity of Bangka and Belitung in Global Relationship", kuliah umum yang dihelat pada Rabu (27/8/2026) ini menghadirkan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UBB, Dr. Iskandar Zulkarnain sebagai narasumber utama.

​Dalam pemaparannya, Dr. Iskandar membedah perjalanan panjang Suku Mapur mulai dari narasi mitologi lokal, catatan migrasi kuno yang teori terkuatnya berasal dari kawasan Indochina atau Vietnam dan Kamboja.

"Pengakuan historis mereka, sejak era Kesultanan Palembang Darussalam melalui aturan Sindang Mardika hingga masa kolonial Belanda," kata Dr. Iskandar, Jumat (28/8/2026).

​Meski hidup di era digital, Suku Mapur tetap mempertahankan identitas kulturalnya secara konsisten. Hal ini tercermin dari pencantuman aliran kepercayaan pada KTP serta penggunaan bahasa ibu yang berbeda dari bahasa Melayu, Mandarin, maupun Indonesia.

"Kendati, eksistensi masyarakat adat ini kini berada di ambang krisis serius. Prinsip komunal dan kesetaraan yang dipegang teguh secara turun-temurun mulai runtuh akibat desakan modernisasi," ungkapnya.

Dr. Iskandar menyoroti dua faktor utama pengikis wilayah adat kapitalisme jalur atas melalui regulasi dan pembukaan akses, serta kapitalisme jalur bawah di mana masyarakat terpaksa mengorbankan nilai adat demi mengejar kesejahteraan ekonomi.

"Akibat tekanan ganda dari perluasan tambang timah dan perkebunan kelapa sawit, wilayah adat Suku Mapur kini dilaporkan menyusut drastis dan hanya tersisa sekitar 700 hingga 800 hektar saja," bebernya.

​Sesi perkuliahan yang ditutup dengan dialog interaktif ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk mendalami problematika pelik yang dihadapi masyarakat adat, sekaligus memperluas kerangka berpikir kritis.

Diskusi tersebut diharapkan mampu membekali mahasiswa Ilmu Politik UBB untuk melihat bagaimana identitas lokal Bangka Belitung beririsan langsung dengan dinamika dan tantangan politik global hari ini.

(Bangkapos.com/Adi Saputra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.