TRIBUNBANYUMAS.COM, KENDAL - Sudarmo, warga Desa Pagerdawung, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, selalu girang saat musim panen tambakau datang.
Kendati tak punya kebun tembakau, dia bisa mendapat penghasilan tambahan sebagai buruh perajang tembakau.
Upah menjadi perajang tembakau mencapai Rp750 ribu per hari.
Namun, upah ini harus dibagi bersama dua temannya.
Itu pun dengan syarat, mereka bisa menghasilkan 5 keranjang tembakau kering rajang.
Sudarmo mengatakan, menjadi buruh perajang tembakau telah ia tekuni bertahun-tahun.
Pekerjaan musiman itu menjadi sumber penghasilan tambahan yang selalu dinanti setiap musim tembakau tiba.
"Alhamdulillah, musim panen tembakau ini selalu jadi berkah bagi kami sebagai tukang rajang, tidak hanya dirasakan yang punya lahan saja," katanya, Jumat (28/8/2026).
Baca juga: Korban Bertambah Jadi 3 Orang, Kecelakaan Maut Adu Banteng Pelajar di Kendal Merenggut Nyawa
Dalam proses merajang tembakau, Sudarmo tak lagi menggunakan pisau biasa tetapi mesin perajang tembakau.
Menurut Sudarmo, penggunaan mesin ini bisa mempersingkat waktu perajangan menjadi 6 jam.
"Kalau manual, 1 keranjang bisa sampai berjam-jam."
"Ini (pakai mesin) 6 jam bisa dapat 5 keranjang," imbuhnya.
Dia menuturkan, pekerjaan merajang tembakau dilakukan secara berkelompok dengan pembagian tugas yang jelas.
Satu orang bertugas membuka atau melepas ikatan daun tembakau, satu orang mengoperasikan mesin, dan satu orang lain mengurai hasil rajangan agar irisan tembakau tidak menggumpal.
"Kalau dibagi tugasnya kan lebih mudah, cepat selesainya," tuturnya.
Untuk jasa perajangan, dia mematok tarif Rp150 ribu untuk satu keranjang tembakau kering.
Dalam sehari, tim Sudarmo bisa merampungkan lima keranjang.
Hasil Rp750 ribu itu kemudian dibagi untuk tiga orang setelah dikurangi untuk biaya perawatan mesin agar tetap dapat digunakan selama musim panen.
"Tetap disisihkan untuk perawatan mesin, mesin juga butuh perawatan agar tetap lancar," sambungnya.
Langkah serupa juga Mustaqim, warga Dusun Bakalan, Desa Ringinarum, Kabupaten Kendal.
Namun, berbeda dari Sudarmo yang memiliki sendiri mesin perajang tembakau, Mustaqim memilih menyewa.
"Ini nyewa (mesin) punya orang dulu, karena saya belum mampu beli sendiri," ucapnya.
Mustaqim juga tak terjun langsung menjadi perajang tembakau.
Dia mempekerjakan orang, termasuk menyewa jasa penata rajangan tembakau sebelum dijemur.
Untuk proses rajangan, dia harus membayar Rp130 ribu, sedangkan jasa menata rajangan tembakau Rp120 ribu.
"Kalau dikerjakan sendiri tidak mampu, Mas. Usia sudah tidak muda lagi dan butuh tenaga lebih," sambungnya.
Meski harus mengeluarkan ongkos lebih, namun Mustaqim mengaku masih meraup untung dari sistem sewa alat dan tenaga ini.
Pasalnya, petani tembakau ini punya ladang sendiri meski disebutnya tak terlalu luas.
Harga tembakau saat ini juga disebutnya mulai bagus, mencapai Rp70 ribu per kilogram.
"Alhamdulillah, tahun ini harganya lebih bagus. Beberapa waktu lalu masih Rp69 ribu, sekarang sudah Rp70 ribu," katanya.
Baca juga: Muhammadiyah Kendal Gratiskan Layanan RS dan Posko Istirahat untuk Peserta Muktamar NU
Mustaqim masih ingat betul, ketika harga tembakau di musim sebelumnya hanya berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp50 ribu.
Padahal, Mustaqim mengeluarkan biaya cukup banyak untuk benih, pupuk, tenaga, waktu, juga risiko cuaca yang harus dipertaruhkan sejak tanaman ditanam hingga daun siap dipetik.
Di lahan sekitar satu lupit atau setengah hektare, Mustaqim menanam tembakau dengan penuh harap.
Tanamannya kini telah memasuki tiga kali petikan.
Dia berharap, harga tembakau bisa melewati Rp71 ribu.
Harapan itu terdengar sederhana.
Tetapi, bagi Mustaqim, keuntungan dari satu musim tembakau bisa menjadi penentu bagaimana ia menjalani kehidupan setelah panen.
"Kalau bisa, harganya terus naik, di atas Rp71 ribu. Biar petani juga bisa merasakan keuntungan yang lumayan tahun ini," harapnya. (*)