Kasus ISPA di Kalbar Tembus 165.727 Kasus di Tengah Karhutla
Try Juliansyah August 28, 2026 11:27 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK — Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Barat menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi ini terjadi seiring dengan meningkatnya aktivitas kemunculan titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah kabupaten dan kota.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Erna Yulianti mengatakan, berdasarkan pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), peningkatan tren kasus ISPA mulai terlihat sejak minggu ke-21 pada akhir Mei 2026 hingga minggu ke-32 pada pertengahan Agustus 2026.

"Untuk perkembangan kasus ISPA dan dampak kesehatan karhutla di Kalimantan Barat, berdasarkan pemantauan sistem kewaspadaan dini dan respons atau SKDR yang merupakan alert atau sinyal bagi tenaga kesehatan, kasus ISPA di Kalimantan Barat menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa minggu terakhir," ujarnya.

Erna menyebut, sepanjang periode 1 Januari hingga 22 Agustus 2026, tercatat 165.727 kasus ISPA yang dilaporkan melalui sistem tersebut.

Angka itu setara dengan proporsi sekitar 29 kasus per 1.000 penduduk berdasarkan laporan mingguan ISPA.

Pada minggu ke-32, peningkatan kasus dibandingkan minggu sebelumnya tercatat di tujuh kabupaten/kota, yakni Kabupaten Ketapang, Bengkayang, Kapuas Hulu, Sintang, Sanggau, Mempawah, dan Kota Pontianak.

"Untuk kasus tertinggi tercatat di Kota Pontianak, sedangkan peningkatan yang signifikan terlihat di Ketapang, Kapuas Hulu, dan Sintang," katanya.

Lonjakan Kunjungan ke Fasilitas Kesehatan dan Sinyal ALERT

Peningkatan kasus tersebut juga terlihat dari lonjakan kunjungan masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan di berbagai daerah.

Berdasarkan sistem alert, pada minggu ke-32 terjadi peningkatan kasus ISPA di fasilitas pelayanan kesehatan dibandingkan minggu-minggu sebelumnya.

"Artinya kunjungan masyarakat ke puskesmas lebih meningkat dibandingkan minggu sebelumnya," ujarnya.

Dari sistem SKDR, Kota Pontianak tercatat memiliki sembilan alert, Kabupaten Ketapang enam alert, Kabupaten Sintang lima alert, dan Kabupaten Kubu Raya lima alert.

Baca juga: Sudah Sumur Bor Kering Air PDAM pun Asin, Dilema Warga Krisis Air Bersih di Pontianak Timur

Menurut Erna, alert merupakan sistem yang membaca sinyal dari SKDR yang menunjukkan adanya peningkatan atau fluktuasi kasus.

Data tersebut menjadi dasar bagi Dinas Kesehatan untuk memperkuat kewaspadaan dan pemantauan di wilayah yang menunjukkan tren peningkatan kasus ISPA.

Sebaran Titik Panas Karhutla Meningkat Dua Kali Lipat

Sementara itu, berdasarkan data hotspot hingga 22 Agustus 2026, terdapat peningkatan aktivitas titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

Tercatat sebanyak 273 hotspot kategori tinggi pada 22 Agustus 2026.

Data tersebut diperoleh melalui pemantauan bersama dengan BPBD dalam kaitannya dengan dampak kesehatan akibat karhutla.

"Hampir 10 kabupaten/kota memiliki hotspot kategori tinggi. Jumlah hotspot meningkat dua kali lipat dibandingkan minggu sebelumnya, yaitu 17 Agustus 2026," ungkapnya.

Hotspot terbanyak tercatat berada di Kabupaten Ketapang.

Pemantauan Khusus Daerah Rawan dan Kelompok Rentan

Erna menegaskan, peningkatan hotspot dan kasus ISPA yang terjadi dalam periode berdekatan menjadi perhatian sektor kesehatan.

Namun, kasus ISPA tidak dapat secara langsung seluruhnya dikaitkan dengan karhutla karena penyakit tersebut memiliki berbagai faktor risiko dan penyebab.

"Kasus-kasus laporan ISPA yang dilaporkan kepada kami tidak semata-mata karena karhutla. Bisa saja karena penyakit lainnya yang juga terlaporkan sebagai infeksi saluran pernapasan," jelasnya.

Karena itu, Dinas Kesehatan terus menyandingkan data peningkatan kasus ISPA dengan wilayah yang memiliki titik hotspot tinggi.

Sejumlah daerah menjadi perhatian khusus, di antaranya Ketapang, Kota Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, Sintang, Kapuas Hulu.

"Tujuh kabupaten/kota ini menjadi pemantauan khusus kami karena adanya lonjakan-lonjakan," katanya.

Ia mengatakan, kelompok rentan menjadi perhatian dalam kondisi meningkatnya kasus ISPA dan aktivitas karhutla.

Kelompok tersebut meliputi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah hotspot, anak-anak terutama balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan kondisi tertentu.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga memantau kondisi petugas maupun masyarakat yang beraktivitas di lapangan, termasuk masyarakat yang secara sukarela membantu memadamkan titik-titik kebakaran.

Langkah Antisipasi dan Kesiapsiagaan Fasilitas Kesehatan

Sejumlah langkah telah dilakukan Dinas Kesehatan Kalbar, di antaranya memperkuat pemantauan kasus ISPA melalui surveilans mingguan serta mendorong fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya puskesmas dan pustu, meningkatkan kewaspadaan terhadap peningkatan kasus.

Masyarakat juga diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta menjaga asupan makanan dan minuman.

Dinas Kesehatan juga telah mendistribusikan masker dan menyiapkan obat-obatan bagi kabupaten/kota yang membutuhkan.

Koordinasi dengan Kementerian Kesehatan terus dilakukan untuk melaporkan perkembangan kasus ISPA dan mengajukan dukungan logistik, termasuk masker dan obat-obatan.

"Mulai dari periode Juni sampai Agustus ini sudah tercatat 3.176 box masker yang telah didistribusikan melalui 18 kegiatan kepada enam kabupaten/kota yang menerima langsung," ungkapnya.

Erna juga mengingatkan masyarakat untuk tidak panik, mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan di luar rumah, memperbanyak minum air putih, menerapkan PHBS, serta mengonsumsi makanan sehat yang mengandung vitamin, termasuk buah dan sayuran.

Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar untuk mencegah penyakit menular, termasuk potensi berkembangnya nyamuk di tengah perubahan cuaca.

"Untuk masyarakat, saya harapkan tidak panik. Gunakan masker saat bepergian atau beraktivitas di luar rumah, kurangi aktivitas yang tidak perlu, tetap berada di rumah, minum air putih yang banyak, terapkan PHBS, dan konsumsi makanan sehat," pesannya.

Dinas Kesehatan Kalbar juga memastikan fasilitas pelayanan kesehatan terus dipersiapkan menghadapi kondisi tersebut.

Dari total 252 puskesmas di Kalbar, fasilitas kesehatan diminta melakukan berbagai upaya antisipasi untuk melindungi masyarakat.

Khusus puskesmas yang berada di daerah berdekatan dengan titik hotspot, fasilitas oksigen di ruang perawatan maupun IGD diminta dipastikan siap digunakan.

"Jika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan, segera dilakukan tindakan secepat mungkin. Terutama pada daerah yang berdekatan dengan titik-titik hotspot, puskesmas menyiapkan rumah oksigen atau IGD sudah siap oksigen," ujarnya.

Menurutnya, oksigen menjadi salah satu penanganan yang dapat diberikan kepada masyarakat yang mengalami sesak napas.

Erna juga meminta Dinas Kesehatan kabupaten/kota memperkuat surveilans mingguan serta pelaporan secara berjenjang dari puskesmas ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota hingga tingkat provinsi.

Selain itu, fasilitas kesehatan diminta memperluas kesiapan ruang pelayanan dan ruangan aman bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan akibat kondisi kebakaran dan kabut asap.

"Kalau masyarakat membutuhkan oksigen, kita siapkan oksigen. Kemudian mempercepat distribusi masker dan logistik jika puskesmas membutuhkan," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.