TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK — Terik kemarau panjang dan kabut asap pekat yang melapisi kawasan Kota Pontianak kini membawa dampak turunan yang dirasakan langsung oleh masyarakat permukiman.
Kondisi tersebut salah satunya melanda warga di Komplek Villa Sejahtera 2, Jalan Pemda, Kelurahan Parit Mayor, Kecamatan Pontianak Timur.
Krisis air bersih melanda kawasan pemukiman ini seiring bertahannya fenomena iklim El Nino yang melanda wilayah Kalimantan Barat.
Dampak fenomena alam tersebut memicu masuknya intrusi air laut ke dalam sistem dan jaringan pipa distribusi PDAM setempat.
Di saat yang bersamaan, warga kini juga dihadapkan pada ancaman krisis cadangan air tanah yang mulai kering.
Dua kondisi tersebut memaksa warga menghadapi kelangkaan air bersih dan air asin secara bersamaan dari dua sumber utama harian mereka.
Ditemui di kediamannya pada hari Jumat (28/8/2026), Raden Eddy (23) menatap pasrah ke arah instalasi pipa di rumahnya.
Harapannya untuk berlindung pada sumur bor sebagai benteng terakhir ketersediaan air bersih pun mulai pupus.
"Di rumah memang ada sumur bor sebagai antisipasi. Cuma ya namanya kemarau ekstrem, air tanahnya sekarang sangat tipis. Meskipun pompanya dihidupkan, airnya sangat susah naiknya karena cadangan di bawah sudah menipis," ungkap Raden.
Kondisi sumur bor yang mulai kering kerontang membuat Raden bersama keluarganya harus memutar otak guna mengatur penggunaan air tawar.
Sisa air sumur bor yang berhasil ditarik naik kini dijatah sangat ketat oleh keluarga tersebut.
Penggunaan air sumur bor tersebut kini hanya dikhususkan untuk keperluan penting seperti mencuci piring dan perabotan dapur.
Sementara untuk kebutuhan dengan volume besar seperti mandi, ia tak punya pilihan lain selain menadah air PDAM yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan.
Baca juga: Warning Warga Pontianak! Kabut Asap Karhutla Mulai Berdampak, Dokter Ungkap Risiko Pneumonia
Penurunan kualitas air PDAM ini dirasakan Raden sejak awal Agustus dan mencapai puncak keasinannya memasuki tanggal belasan.
Menyusutnya debit air tawar di sungai membuat air laut leluasa menerobos masuk ke dasar sungai.
Kondisi tersebut membawa rasa asin dan sensasi kelat hingga ke keran kamar mandi warga pemukiman.
"Kalau mandi pakai air PDAM sekarang, ibaratkan kita sedang mandi di pantai. Airnya kelat dan badan terasa lengket-lengket semua. Sangat tidak nyaman. Makanya, kalau untuk sekadar sikat gigi atau cuci muka, kami terpaksa pakai air galon dan sumur bor," tuturnya mendeskripsikan sensasi lengket dari air yang menggenangi bak mandinya.
Keharusan membeli air galon tambahan untuk kebersihan harian menjadi beban tersendiri bagi warga.
Hal itu ditambah dengan kinerja mesin pompa sumur bor yang harus bekerja keras menyedot sisa air tanah.
Kondisi ini berujung pada munculnya beban ganda dari sisi pengeluaran keuangan bagi Raden dan keluarganya.
Di sisi lain, tagihan air PDAM tetap menanti di akhir bulan, meski air yang mengalir tak layak digunakan secara normal.
Mewakili keresahan warga Pontianak yang terdampak, Raden menuntut langkah taktis dan kompensasi dari penyedia layanan air bersih yang kini tak lagi mengalirkan air yang layak.
"Air ini kan hal yang sangat vital. Harapan kami kepada PDAM, tolong berikan solusi yang konkret. Apakah itu teknologi penyaringan khusus atau transformasi sistem saat kemarau seperti ini. Dan yang paling penting, karena airnya tidak bisa kami pakai secara normal, kami minta ada keringanan tarif air. Dampak ini dirasakan merata di hampir semua wilayah," tegasnya.
Hingga hari ini, deru mesin pompa yang tertatih menyedot sisa air sumur bor menjadi sisa harapan yang dirasakan Raden sebagai warga Pontianak Timur.
Warga kini hanya bisa menghemat setiap tetes air yang tersisa, sembari menanti intervensi nyata dari pemerintah dan keajaiban hujan di langit Khatulistiwa. (*)