Laporan Reporter Tribunjabar.id Rahmat Kurniawan
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Agus Sumpena, warga Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, menceritakan awal mula munculnya penyeberangan rakit di kampungnya.
Agus mengatakan, penyeberangan rakit dari Kampung Sadang ke Kampung Gombong telah ada sejak tahun 1990-an.
"Ini penyeberangan anak sekolah khususnya, dari tahun 90," kata Agus saat ditemui, Jumat (28/8/2026).
Awalnya, ungkap Agus, rakit penyeberangan dibuat oleh masing-masing orang tua di Kampung Sadang.
Seiring bertambahnya jumlah anak Kampung Sadang yang bersekolah di SD Budiharja yang terletak di Kampung Gombong, para orang tua akhirnya memiliki kesadaran kolektif untuk membuat rakit penyeberangan umum.
Baca juga: Dedi Mulyadi Gerak Cepat Utus Tim Tangani Akses Penyeberangan Siswa di Waduk Saguling Bandung Barat
"Terus swadaya masyarakat bikin rakit dari bambu untuk penyeberangan anak sekolah, dulu dari orang tua masing-masing, terus diadakan dari kepala sekolah bikin rakit penyeberangan khusus untuk anak sekolah," ungkapnya.
Sejak saat itu, Agus secara rutin menjadi pengemudi rakit untuk menyeberangkan anak-anak sekolah dari Kampung Sadang.
Dengan rakit berukuran sekitar 6 meter dan lebar 1,5 meter, Agus bisa mengangkut hingga 20 siswa.
Hal itu dilakukan secara gratis.
"Gratis, gratis. Kalau pas rakit besar itu bisa sampai 20 anak yang naik, pagi itu bisa sampai dua kali balikan," ujarnya.
Agus mengakui, penggunaan rakit tidak bisa dilakukan dalam jangka panjang.
Rakit-rakit bambu yang dibuat hanya mampu bertahan sekitar 2 tahun.
Baca juga: Kisah Santi, Warga Bandung Barat yang Andalkan Rakit untuk Mengantar Anak ke Sekolah
"Sampai sekarang itu kalau tidak salah sudah 6 kali ganti rakit, karena tidak bertahan lama, dua tahun tiga tahun sudah rusak," ujarnya.
Agus yang saat ini dipercaya sebagai Ketua RT 5 RW 2 di Kampung Sadang menampung banyak aspirasi dari warganya.
Mereka berharap, pemerintah bisa membangun jembatan agar akses ke Kampung Gombong bisa lebih dekat.
Tak hanya untuk keperluan anak sekolah, jembatan yang dibangun dinilai bisa meningkatkan roda ekonomi masyarakat.
"Harapan warga dari dulu ini kalau dibikin jembatan ini enaklah buat penyeberangan khususnya anak sekolah, apalagi sekarang generasinya paling banyak, lebih dari 40 KK dari 2 RT. Jadi warga itu bisa lebih dekat kebun bisa, sekolah, jualan," tandasnya.